English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Kamis, 01 Desember 2011

The Way To Break Up

author: fanfic for all k-pop



-Kyuhyun-



Aku hampir gila seharian hanya memandang fotonya, foto gadisku. Memikirkannya adalah rutinitasku selama 2 tahun belakangan. Tapi, apa aku bisa terus bersamanya? Bersama Lee Hyun Ae, gadis yang sudah mengalihkan luka hatiku? Hal itu yang selalu ada di benakku. Kualihkan pandanganku dari foto ke selembar kertas. Kertas yang membuatku menjadi ragu untuk bisa bersamanya selalu.



Flash back



Langit hitam bertabur bintang sungguh terlihat indah. Namun aku sedikitpun tak merasa senang. Hatiku remuk, setelah melihat semua yang dilakukan sahabatku serta kekasihku yang amat aku cinta. Diam-diam mereka menjalin hubungan khusus dibelakangku. Aku benar-benar terkhianati. Rasanya dadaku sesak dan paru-paruku tak mampu menangkap oksigen di udara.

“Kau, sejak tadi kulihat wajahmu suram sekali. Benar-benar kontras dengan pemandangan indah di depanmu.” Seorang yeoja duduk disebelahku tanpa kusadari. Cantik, itu yang dapat aku tangkap. Senyumnya meneduhkan dan matanya aku sangat menyukai mata itu.

“Wae? Mengapa kau melihatku seperti itu?” Tanyanya heran.

“Ani.” Ucapku.

“Ahjussi, kau tahu tidak, sebentar lagi tempat ini akan tutup. Ini sudah lewat dari jam 12 malam.” Gadisku memberitahuku.

“Benarkah? Tunggu, kau bilang apa? Ahjussi? Ya~ aku belum pantas dipanggil seperti itu!” Protesku. Gadis itu tertawa melihatku.

“Mian, aku bingung mau memanggilmu apa.” Ucapnya dan menghentikan tawanya.

“Aku, Cho Kyuhyun.” Ucapku memperkenalkan diri. Aku tidak mengerti mengapa semudah ini aku memberitahu namaku.

“Cho Kyuhyun-ssi, senang bertemu denganmu. Tapi, bisakah kau pulang sekarang? Kami akan tutup sebentar lagi.” Ucap gadis itu diiringi senyum manisnya.

“Mianhae.” Aku mohon maaf dan pergi dari café yang terletak di sebuah bukit pinggiran Seoul.

“Cho Kyuhyun-ssi! Kalau mau melamun lagi disini, belilah secangkir kopi atau sepotong cake!” serunya saat aku hendak masuk kedalam mobilku. Aku tersadar, bahwa sejak tadi aku memang tidak memesan apa-apa, syukurlah tidak ada yang mengusirku karena hanya duduk.



Flash back End



Aku tersenyum mengingat pertemuan pertama kami. Dia bekerja bersama oppanya, mengelola sebuah café. Gadisku, gadis periang dan selalu tersenyum. Gadis pemberani dan tidak pernah menangis. Gadis galak dan mengerikan saat sedang kesal. Nanti, apakah aku akan terus ingat bagaimana wajahnya saat tersenyum? Apa aku akan tetap ingat mata bulat dan hitamnya saat memandangku?

Saat aku merindukannya, aku tidak mungkin dapat melihatnya lagi. Walau air mata ini jatuh berkali-kali, dia tetap tidak akan ada disisiku. Aku takut, sangat takut kehilangannya. Ku harap dia tidak membenciku.



Flash back



“Aku pesan cokelat panas dan cheese cake.” Pesanku pada seorang pelayan. Setelah beberapa waktu lalu mengunjungi café ini tanpa memesan apapun. Kali ini, aku akan memesan. Entahlah, sepulang dari café ini, aku selalu teringat dengan gadis itu. Apa aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama? Secepat itukah aku melupakan cina lamaku? Tapi, kali ini saat mengingat masa lalu, aku tidak lagi merasa sakit. Aku edarkan pandanganku ke penjuru café dan tidak menemukan sosok gadis itu.

“Tuan, ini pesanan anda.” Pelayan itu meletakkan secangkir cokelat panas dan sepotong cheese cake beserta semangkuk Blueberry ice cream.

“Aku tidak pesan ini.” Kataku dan menyuruh pelayan itu membawa ice cream di hadapanku.

“Ini bonus untuk anda, dan ini juga.” Pelayan itu memberi secarik kertas. Ia pun pergi setelah mengantar semuanya. Aku membuka kertas itu dan mendapati tulisan tangan yang rapi serta indah yang mengisinya.



Annyeong! Hari ini kau memesan? Akhirnya kau sadar juga kalau beberapa waktu yang lalu sudah membuat kami sedikit rugi. Hehehehe ^_^ v

Aku tambahkan semangkuk ice cream agar wajahmu yang tampan itu tidak lagi terlihat murung. Aku yakin, setelah memakannya kau akan tersenyum. Aku yakin wajahmu akan semakin tampan saat kau tersenyum. Hehehehehehe… mian hari ini aku tidak bisa menghampirimu karena pelanggan banyak sekali. Kalau kau mau bertemu denganku, tunggu sampai café tutup.

See ya!!! ^_^



Aku tersenyum melihat catatan ditanganku. Gadis unik dan lucu. Percaya diri sekali aku ingin melihatnya. tapi, sebenarnya memang aku ingin melihatnya lagi. Baiklah, aku akan meunggu hingga café tutup. Aku mulai memakan ice cream pemberiannya dan rasanya enak.



“Kau benar-benar menunggu café tutup? Aigoo~ membuatku tersanjung saja.” Gadis itu menghampiriku yang duduk menghadap pemandangan kota.

“Aku tidak ingin mengecewakanmu yang sangat percaya diri aku datang karena mencarimu.” Ucapku sedikit tersenyum.

“Whoa! Sudah kubilang kalau kau tersenyum kau akan terlihat semakin tampan, Kyuhyun-ssi.” Serunya antusias saat melihatku tersenyum. Sontak aku semakin memperlebar senyumku dan gadis itu sangat senang melihatnya.

“Kau tahu namaku, tapi aku tidak yahu siapa namamu. Sangat tidak adil.” Protesku karena dia dengan leluasa menyebut namaku.

“Namaku Lee Hyun Ae.” Ucapnya sembari menjulurkan tangan agar aku menjabatnya.

“Oh.” Reaksiku singkat tanpa menerima jabatan tangannya. Kulihat ada sedikit semburat kekecewaan di wajahnya karena sikapku.

“Kyuhyun-ssi, aku harus pulang. Oppaku menunggu.” Ucapnya pamit dan langsung melangkah pergi.

“Tunggu! Apa boleh aku kemari lagi besok? Besoknya lagi, dan besoknya lagi?” Tanyaku pada gadis itu.

“Tentu, asal kau membeli dan tidak ada bonus ice cream lagi. Oppaku marah karena keuntungan kami jadi berkurang.” Tuturnya sambil cemberut. Cute, sangat cute aku rasa. Gadis itu benar-benar menarik perhatianku dan membuatku terus tersenyum saat melihatnya.

“Baik. Hati-hati dan katakan pada oppamu aku minta maaf karena sudah merugikan kalian.” Ucapku. Dia hanya mengangguk dan pergi.



Flash back End



Sejak saat itu aku selalu datang menghampirinya. Rasanya ada yang hilang saat aku tidak melihat wajahnya ataupun mendengar suaranya. Lee Hyun Ae, gadis yang sudah menyita perhatianku dengan kilat. Hubungan kami berkembang hingga detik ini. Bagaimana aku bisa melepasnya? Aku bingung, aku tidak ingin jauh darinya. Tapi aku tidak punya pilihan. Cepat atau lambat aku akan berada sangat jauh darinya. Aku harus mulai membiasakan diriku.

Lamunanku buyar saat sebuah pesan masuk di ponselku. Kubaca dan itu dari Hyun Ae. Ia ingin kami segera bertemu di café milik oppanya. Aku tersenyum melihat pesannya, senyum pahit kali ini. Mungkin sudah saatnya aku bicara pada gadisku.



Aku duduk ditempat seperti biasa. Memandang Kota Seoul dari atas ketinggian melihat lampu-lampu dari jauh. Aku sedikit berpikir untuk merangkai kata yang akan kuucapkan pada Hyun Ae nanti.

“Oppa.” Gumam Hyun Ae. Ia duduk di sampingku dan ikut memandang pemandangan yang terhampar di hadapan kami.

“Ada apa? Ada yang ingin kau bicarakan padaku?” Tanyaku. Ia mengangguk, namun sampai beberapa detik berlalu tak sepatah katapun terucap darinya.

“Wae?” Tanyaku dan dia masih bungkam.

“Kalau kau belum mau bicara, oppa akan bicara dulu.” Selaku. Ia memandangku lekat. Ada kilatan ketakutan terpancar dari cara ia menatapku.

“Hyun Ae-ah, gomawo kau sudah mengisi hari-hariku selama 2 tahun ini.” Ucapku.

“Kau gadis periang dan baik. Tapi, kurasa kita tidak bisa bersama terus.” Dengan berat aku keluarkan kalimat itu dari mulutku. Ia hanya memandangku tanpa bicara ataupun tanda-tanda akan menangis.

“Semudah itukah?” Ucapnya lemah. Kini aku yang berganti menatapnya.

“Setelah semua yang aku berikan untukmu? Ku kira kau namja yang berbeda, ternyata sama saja dengan yang lainnya.” Tuturnya dengan nada dingin. Tidak ada senyum hangat seperti biasa.

“Mian, tapi hubungan kita benar-benar tidak bisa dipertahankan.” Seperti ada pasir yang mengganjal tenggorokanku saat mengucapkannya.

“Kau benar-benar brengsek. Tapi, aku tidak akan melepasmu. Kau sudah berjanji padaku untuk terus berada disisiku selamanya.” Ucapnya masih terkesan dingin. Seharusnya, ia menangis seperti kebanyakan yeoja. Tapi, tidak untuk Hyun Ae. Gadis itu pantang menangis bahkan pada saat suasana seperti ini.

“Jebal, jangan paksa aku.” Pintaku.

“Shiroe! Aku akan memberimu waktu untuk berpikir lagi. Kau hanya punya 2 pilihan. Mencabut kata-katamu atau aku akan memaksamu tetap disisiku.” Putusnya tegas. Ia berdiri dari duduknya tanpa memandangku dan masuk kedalam café.

Aku tertunduk lemah setelahnya. Aku juga tidak ingin meninggalkannya, tapi cepat atau lambat aku benar-benar akan pergi meninggalkannya. Kuputuskan untuk kembali pulang dan menenangkan diriku. Di perjalanan, kepalaku mendadak sakit. Sakit yang bahkan 5 kali lipat lebih sakit dari biasanya. Kuhentikan laju mobilku dan memegang kepalaku. Aku meraih ponselku yang ada di dashboard dan menghubungi sahabatku, Sungmin untuk menjemputku di sisa kesadaranku. Aku pun semakin mengerang memegangi kepalaku dan gelap, semua berubah gelap.



******************************************************************************



Perkataan tiba-tiba darimu sangat menyakiti hatiku. Aku ingin menangis, tapi air mataku seakan kering tak ingin keluar. Sesak rasanya nafasku tapi aku tak ingin kau pergi. Kau adalah satu-satunya namja yang bisa mengalihkan perhatianku dari rasa patah hati setelah sahabat yang aku cintai memilih yeoja lain. Jebal, jangan seperti ini.



-Hyun Ae-



Baru saja ia ada dihadapanku, tapi sekarang ia sudah terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Tubuhnya sangat terlihat rapuh diatas tempat tidur. Selang oksigen dan beberapa alat penunjang kehidupan menempel pada tubuhnya. Lututku lemas hingga rasanya aku tak mampu menopang tubuhku sendiri. Inikah yang mebuatnya ingin berpisah dariku? Babo! Dia benar-benar namja yang sangat bodoh. Seharusnya dia membagi rasa sakitnya bukan malah menghindar. Aku duduk di samping tempat tidur dan menggenggam erat jemarinya.

“Oppa, kau benar-benar bodoh! Lihat dirimu sekarang. Kau benar-benar tidak bisa jauh dariku kan?” Ucapku dengan suara bergetar menahan tangis.

“Jebal, bangunlah. Kau bukan namja pemalas yang suka tidur bukan?” Kali ini aku tak kuasa menahan tangisku. Walau tak bersuara, tapi air mata tetap mengalir.

“Kau tak akan meninggalkan aku kan? Kau sudah berjanji. Ya~ aku memang yeoja yang tidak takut apapun. Tapi aku masih punya ketakutan juga. Aku takut Tuhan dan takut kehilangan dirimu.” Ucapku. Aku berhenti bicara sejenak dan mulai mengatur nafasku.

“Kalau kau bangun, aku tidak akan marah jika ka uterus-terusan bermain game. Jika kau bangun, aku akan lakukan apapun permintaanmu.” Pintaku padanya. Ia masih tidak menjawab dan tangisku semakin menjadi.



Aku tiap hari datang ke rumah sakit. Berbicara dengannya dan mengelap tubuhnya agar tetap bersih. Sudah satu bulan berlalu ia terjebak dalam tidurnya. Rasanya angan-angan untuk melihatnya bangun semakin menipis dan kecil kemungkinannya.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Penyakitnya sudah menyebar ke organ lainnya. Kita tinggal menunggu waktu.” Ucap Lee uisa yang menangani Kyuhyun oppa. Ia juga merupakan sahabat Kyuhyun oppa. Cho ahjuma dan Cho ahjussi tertunduk pasrah, sedangkan Ahra eonni sudah menangis mendengar pernyataan Lee uisa barusan. Aku sendiri hanya terdiam dan bersandar pada tembok agar aku tidak terjatuh. Aku berjalan perlahan memasuki kamar rawat Kyuhyun oppa. Duduk disebelahnya dan menggenggam jemrinya erat seperti biasa.

“Beginikah caramu untuk pergi dariku? Kau jahat.” Gumamku. Entah mengapa lagi-lagi tangisku pecah saat melihat wajahnya.

“Baiklah, jika memang itu keinginanmu aku tidak akan memaksa. Kau boleh pergi meninggalkanku sesuai kemauanmu.” Ucapku berat. Ahra eonni memegang pundakku dan mengelusnya lembut untuk membuatku tenang. Ia masih menangis sedangkan disisi lain tempat tidur Cho ahjuma dan cho ahjussi memandang wajah putra kesayangan mereka sedih. Tidak lama, suara mesin pendeteksi detak jantung berubah dan garis lurus terpampang pada layarnya. Tak ada lagi kehidupan dalam diri Cho Kyuhyun. Tak akan aku rasakan deru nafas hangatnya dan detak jantungnya yang selalu tidak beraturan. Tidak lagi bisa kudengar suara tawa renyah dan mengejek serta suara merdu saat dia menyanyi untukku. Dia benar-benar pergi sekarang, dan tak mungkin bisa kembali.



My lovely Hyun Ae, My Angel Hyun Ae, My Heart Thief Hyun Ae, You Are My everything in my life. Jeongmal Saranghaeyo!

Mianhae, aku tidak bisa menepati janjiku untuk terus berada disisimu selamanya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu dan akan selamanya bersamamu di dalam hati. Kau akan tetap mengingatku bukan? Tapi jika kau lelah untuk ingat padaku, tidak apa-apa. Asal kau bahagia aku juga bahagia. Tapi, aku akan tetap mengawasimu agar kau selalu mengingatku. Saranghae! Neomu neomu neomu saranghae Lee Hyun Ae, my only one.



Aku benar-benar menjadi cengeng krena seorang Cho Kyuhyun. Ku pandang tulisan dalam kertas di genggamanku. Aku menangis sejadi-jadinya melepas semua emosi yang lama tertahan.

“Nado, saranghae Kyuhyun oppa.” Gumamku dalam sela tangisku. Aku, Your only one tidak akan pernah melupakanmu. Kau tetap yang nomor satu dihatiku selamanya.



******************************************************************************



4 Tahun Kemudian



Gundukan tanah dihadapanku sudah bersih dari rumput-rumput liar, kini bunga lili segar sudah menghiasinya. Aku berdiri di depan gundukan tanah itu yang juga terdapat nisan bertuliskan Cho Kyuhyun. Aku sangat merindukannya, merindukan namjaku. Selama 4 tahun kepergiannya, aku juga memutuskan untuk pergi menenangkan diriku. Aku tinggal bersama sepupuku di Taiwan dan kini aku kembali kesini.

“Oppa, sebenarnya aku punya kejutan untukmu. Tapi, aku tidak bisa membawanya sekarang. Tapi aku yakin dari atas sana kau bisa lihat kejutan apa itu.” Ucapku tersenyum.

“Kau tidak kesepian kan? Kau mau menungguku untuk menemanimu nanti? tapi tidak bisa sekarang, tunggulah hingga berpuluh-puluh tahun mendatang. Kau sanggup? Kalau kau tidak sanggup dan bertemu gadis lain disana, boleh saja. Tapi saat aku datang menyusulmu, kau akan terima hukuman dariku.” Seruku galak.

“Aku tidak bisa lama-lama, aku ada acara lain. Annyeong oppa, lain kali aku akan membawa kejutanmu.” Pamitku dan meninggalkan komplek pemakaman.



Sekarang aku menuju sebuah taman kanak-kanak dimana uri Kyuhyun bersekolah. Walaupun baru berumur kurang dari 4 tahun, bakat bermusiknya sudah terlihat. Aku duduk diantara para orangtua siswa lainnya. Sebenarnya, aku sangat iri karena para orangtua hadir lengkap sedangkan aku hanya sendirian. Mereka sangat membanggakan penampilan anak-anak mereka saat pentas, tapi uri Kyuhyun adalah yang terbaik.

“Umma!” Serunya dan berlari kearahku. Aku menunduk dan memeluknya erat.

“Kau pintar sekali! Anak umma benar-benar daebak!” Ucapku dan mengacak rambut putra kesayanganku, putraku dan Kyuhyun oppa. Sebenarnya malam sebelum oppa koma, aku ingin memberitahukannya. Tapi aku gugup dan bingung mau memulai darimana. Aku semakin enggan mengatakan tentang kehamilanku saat ia bilang ingin berpisah. Aku semakin kalut saat itu. Aku berpikir ia mungkin tidak akan terima jika aku mengatakan keadaanku. Tapi ia lebih dulu pergi sebelum aku sempat memberitahukan keberadaan darah dagingnya. Saat lahir, anak ini kuberi nama sama seperti appanya agar aku tidak pernah lupa. Lagipula, wajah uri Kyuhyun benar-benar mirip dengan Kyuhyun oppa, hanya saja di pipinya ada lesung pipi sepertiku.

“Umma, aku ingin ice cream.” Rengek Kyuhyun.

“Ne, Kkajja kita beli ice cream. Setelah itu kita ketempat halmeoni.” Kugendong Kyuhyun dan mengajaknya ke kedai ice cream.

Aku sudah tidak lagi membantu Donghae oppa di café. Aku menyelesaikan kuliah design setelah melahirkan Kyuhyun dan beberapa bulan lalu sekembalinya dari Taiwan, aku bekerja bersama Ahra eonni. Ya, uri Kyuhyun bisa menyandang marga appanya karena Ahra eonni mengadopsinya, aku tidak keberatan karena Kyuhyun tetap tinggal bersamaku.

‘Oppa, gomawo walau kau jauh tapi ada yang menggantikanmu disini. Gomawo, jeongmal gomawo’



The End

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.