Author: rin-fyrinichi
Disclaimer: Bleach © Tite Kubo
"Main petak umpet? Cuma itu? Tidak masalah sama sekali! Aku terima tantanganmu!" Ichigo menyeringai. Lagi-lagi ia dan Uryuu terlibat perselisihan sepele dan berakhir dengan tantangan konyol.
Pemilik mata biru kobalt itu mendengus."Bukan petak umpet biasa, Kurosaki. Petak umpet single player. "
Ichigo mengernyitkan alisnya. "Sendirian? Hal seperti itu mana bisa dilakukan? Jangan bercanda, Ishida! Kau memang aneh!"
Kali ini giliran Uryuu yang menyeringai. "Kau tidak tahu, ya? Kalau begitu aku akan menjelaskan aturan mainnya padamu."
…
…
Sembunyi, tapi jangan lari. Jangan coba-coba lari dari permainan ini. Atau kau akan mati.
…
…
HIDE AND SEEK
a Bleach fanfiction
Warning: try this at your own risk!
…
…
Ichigo terdiam.
Uryuu kembali memamerkan seringainya."Kau boleh mundur, Kurosaki. Aku akan memainkannya dan kau harus mengakui kalau aku lebih hebat- jauh lebih hebat darimu."
Si kepala jeruk menggeram kesal dan bangkit sambil menggebrak mejanya."T-tidak akan! Aku yang akan melakukannya duluan dan kau akan mengakui kalau aku yang lebih hebat!"
Membenarkan letak kacamatanya, Uryuu berujar dengan ringan, "Baiklah. Malam ini jam setengah dua belas di rumah kosong dekat taman kota. Kalau kau tidak datang, aku yang menang." Dengan itu ia beranjak pergi dari kelas.
…
" Permainan ini akan dilakukan tengah malam, Kurosaki. Kau akan bermain dengan sebuah boneka yang isinya telah diganti dengan beras ditambah sedikit potongan kukumu lalu dijahit menggunakan benang merah. Prosedurnya hampir sama seperti petak umpet biasa."
Ichigo memandangi langit-langit kamarnya.
Uryuu mengatakan semuanya dengan santai seolah-olah mereka akan melakukan permainan biasa. Sebenarnya ia sedikit ragu dan takut juga. Bukan preman atau yakuza yang akan ia hadapi, tapi roh. Tidak seharusnya mereka bermain-main dengan makhluk gaib semacam itu.
" Tusuk boneka itu! Kemudian gantian dia yang jaga dan kau lari ke tempat sembunyimu. Ingat, lari Kurosaki!"
Apa menariknya bermain petak umpet sendirian?
Baru saja ia menyadari kalau Uryuu dan dirinya selalu memperdebatkan hal-hal sepele dan berakhir melakukan tantangan konyol yang cenderung berbahaya untuk melihat siapa yang lebih hebat.
" Aku akan menyingkirkan semua benda tajam dari rumah itu. Kau tidak perlu khawatir boneka itu akan menusuk balik dan melukaimu. Oh iya, saat kau pergi bersembunyi, nyalakan televisi. Itu akan membantumu mendeteksi keberadaan sesuatu di sekitarmu."
Tapi ia tidak boleh mundur, apalagi sampai mengakui kalau Uryuu lebih hebat darinya! Like hell! Ia tidak akan pernah membiarkan Ishida meremehkannya. Ia, Ichigo Kurosaki, akan melakukan permainan itu dan menang.
Menang dari Uryuu dan juga boneka setan itu.
Ia ingat betul bagaimana Ishida menyeringai saat menerangkan aturan mainnya. Orang itu benar-benar menyebalkan!
Lihat saja. Ia akan menunjukkan pada tuan-tahu-segalanya siapa yang lebih hebat di antara mereka! Menyandang gelar siswa terpintar dengan peringkat 1 tiap semester tidak ada apa-apanya!
" Untuk menyelesaikan permainan ini, kau hanya harus mencari boneka itu dan menyemburnya dengan air garam. Kau menang, bakar boneka itu, permainan selesai."
…
Tepat seperti yang telah dijanjikan; jam setengah dua belas di rumah kosong dekat taman kota Ichigo dan Uryuu bertemu. Beberapa teman sekelas mereka yang penasaran turut hadir. Tantangan kali ini cukup menarik dan membuat mereka penasaran.
Pemain pertama, Ichigo Kurosaki, telah siap dalam balutan jaket abu-abunya. Udara malam di musim gugur seperti ini lumayan dingin. Di sebelahnya berdiri Uryuu dengan jaket putihnya, membawa sebuah boneka berambut hitam pendek dengan mata emerald cemerlang. Dua garis seperti air mata menghiasi bagian bawah matanya. Bagian depannya terdapat bekas jahitan benang merah yang begitu rapi. Tapi bahkan boneka itu sudah terlihat menyeramkan sejak awal sebelum permainan di mulai. Atau hanya karena pengaruh suasana mencekam malam itu?
"Kau sudah siap, Kurosaki?" Uryuu mengulurkan boneka yang akan jadi lawan main dalam permainan ini.
Ichigo memicingkan matanya. Aneh sekali, Ishida terlihat sangat serius. Sama sekali berbeda dengan dirinya tadi siang. Ia mendengus dalam hati; anak itu pasti takut. Dan dia sendiri yang punya ide tentang permainan bodoh ini.
"Sangat siap." Ichigo menerimanya sambil memamerkan deretan giginya dan melangkah dengan percaya diri memasuki rumah kosong di depannya. Sementara Uryuu memandangi punggungnya yang menjauh dengan sedikit gelisah. Ia tidak begitu yakin Ichigo mengingat dengan baik semua yang sudah ia katakan.
…
Next to part 2
Jumat, 16 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.