Author : Melody-Cinta
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku. But this is only for complement the story. Because the main genre is horror/mystery
Genre : Like I said, Horror/Mystery
.
Summary : Buku memang biasa kita baca sampai habis. Tapi, ada satu buku yang tidak boleh kita baca sampai habis. Judulnya The Death. Jika kita membacanya sampai habis, maka habis pula riwayat kita.
.
.
Original Idea by Melody-Cinta
Inspired by my horror fic, Melodi Kematian
.
Hope you enjoy!
.
CHAPTER FOUR
.
Sasuke duduk di salah satu kursi di kantin sekolah yang penuh. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Satu bulan ini benar-benar terasa menyiksa Sasuke. Banyak sekali kejadian mistis yang terjadi di hidupnya. Mulai dari ia bangun sampai tertidur kembali."Cepat baca buku itu sampai habis…"
Sasuke sontak menoleh kearah kanannya. Namun, tidak ada apa-apa disana. Ia berpaling kearah kiri, tapi tetap tidak ada apa-apa disana. Sasuke mengepalkan tangannya. Ia sangat yakin bahwa tadi ia mendengar seseorang membisikinya. Dan bisikan itu terdengan jelas di kantin yang ramai ini.
Ia memang sering mendengar hal-hal seperti tadi, jadi, ia selalu termotivasi untuk membaca buku itu sampai selesai. Secepat mungkin. Karena dipikirannya saat itu adalah, mungkin, bila ia menyelesaikan buku itu secepatnya, maka gangguan itu akan selesai secepatnya juga.
Sasuke kembali membuka buku tua dan usang yang sampai sekarang ia belum tahu apa namanya. Yang ia tahu hanya buku itu mirip dengan buku The Death. Dengan serius, ia membaca kata-perkata yang terdapat di dalam buku itu. Pikirannya hanya satu. Selesaikan buku itu.
888888888
Sakura dan Ino tengah berdiri di depan ruang perpustakaan. Sakura memang sering berada di ruangan ini bersama Sasuke. Tapi jujur, ia sama sekali tidak akrab dengan sang penjaga perpustakaan. Apakah hal ini akan berjalan lancar seperti yang dipikirkan sahabatnya, Ino?Sakura menelan ludahnya grogi. "Apa kau yakin akan hal ini, Ino?" tanya Sakura kembali meyakinkan sahabatnya. Ino mengangguk.
"Tentu saja. Bisa gawat kan kalau Sasuke menyelesaikan buku itu?" tanya Ino pada Sakura. Sakura mengangguk. Perlahan-lahan keraguannya akan hal ini berkurang. Berganti dengan keinginannya yang kuat untuk menyelamatkan Sasuke.
"Ayo." Sakura menarik tangan Ino pelan. Mengajaknya untuk masuk kedalam perpustakaan itu. Ino hanya bisa tersenyum bangga dengan perlakuan sahabatnya satu ini. Setidaknya, Ino sudah berhasil membuat Sakura percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
KLEK!
Pintu perpustakaan pun terbuka. Dan saat itu juga tertutup dengan pelan.
Sakura dan Ino berjalan pelan menuju sang penjaga perpustakaan. "Pe.. Permisi.. Kurenai-san?" sapa Sakura saat dilihatnya seorang wanita yang tengah mendata buku yang tersimpan di rak-rak yang menjulang tinggi.
Wanita itu menoleh dan mendapati Sakura dan Ino sedang menatapnya dengan raut takut. "Ya. Ada apa?" tanya Kurenai membetulkan letak kacamatanya.
"A.. Ano.." Sakura spontan menjawab. Setelah terdiam beberapa detik, ia pun melanjutkan. "Boleh anda ceritakan tentang buku The Death pada kami?" tanya Sakura ragu-ragu. Kurenai menatapnya dengan heran.
"Untuk apa?" tanya Kurenai lagi. Nadanya yang dingin sukses membuat Sakura dan Ino takut. Tapi mereka harus melawan rasa takut mereka demi nyawa seseorang.
"Em.. Kurasa Sasuketelah meminjamnya dari perpustakaan ini. Maka, kami ingin tahu semuanya tentang buku itu. Bisakah anda membantu kami?" tanya Ino. Kali ini, ia yang bertugas menjelaskan kepada Kurenai.
"Hmm.. I see. Mari kita bicarakan masalah ini di meja saya." ujarnya berjalan ke mejanya dengan diikuti dua gadis itu. Dengan enggan, mereka duduk di dua kursi di depan sang penjaga perpustakaan.
"Jadi?" tanya Sakura lagi. Ia benar-benar tidak sabar untuk mengetahui semuanya.
"Apa yang kalian sangka memang benar. Sasuke pernah meminjam satu buku yang menurut saya juga sangat aneh. Bahkan saya tidak ingat pernah menyimpannya di perpustakaan ini," jelas Kurenai serius. "Tapi setahu saya, buku itu sudah dikembalikannya ke perpustakaan sekitar 2 minggu yang lalu. Dan setelah itu tidak ada yang meminjamnya. Coba saya cari buku itu sebentar." Kurenai mulai berdiri dan mengitari perpustakaan itu. Men-cek setiap buku di rak.
Sakura dan Ino masih terdiam di kursi. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Satu-satunya harapan mereka adalah Kurenai. Orang yang secara tidak langsung sangat mengenal Sasuke.
Setelah beberapa menit berlalu, Kurenai kembali dengan wajah yang pucat pasi. Membuat Sakura dan Ino makin cemas.
"Ada apa, Kurenai-san?" tanya Sakura dengan langsung. Apakah ini sebuah pertanda buruk?
Kurenai menggeleng. "Aku sudah mencarinya. Tapi buku itu tidak ada," jawab Kurenai lemas. Ino dan Sakura tertegun. Mana mungkin bisa begitu! "Kalau itu adalah buku The Death, buku itu pasti kembali lagi ke Sasuke. Karena seingatku, semua orang yang telah membaca buku itu pasti akan selalu didatangi oleh buku itu. Kecuali kalau orang itu sudah meninggal." jelas Kurenai.
"Lalu maksudmu? Tolong jelaskan semuanya padaku!" Sakura merasa kesal dan tidak sabar. Ino mencoba menepuk-nepuk punggung Sakura agar ia merasa sedikit tenang.
"Menurut pengetahuanku, buku The Death akan selalu meneror orang-orang yang membaca buku itu. Jadi, harusnya tidak aneh melihat perilaku Sasuke yang aneh itu. Karena kemungkinan besarnya ia sudah diteror. Dan biasanya isi teror mereka adalah membaca buku itu sampai habis. Padahal seharusnya buku itu tidak boleh dibaca sampai habis," jelas Kurenai. "Kalau buku itu belum dibaca sampai habis, masih ada satu cara untuk menyelamatkan orang yang membaca buku itu dan orang lain yang belum membacanya.." Kurenai menggantung kalimatnya.
"Bagaimana caranya, Kurenai-san?" Sakura tampak tak sabar.
Kurenai kembali membetulkan kacamatanya. "Bawa dulu Sasuke ke hadapanku." suruh Kurenai.
Sakura mengepalkan tangannya geram. Namun, ia segera berdiri dan berlari keluar dari perpustakaan.
888888888888
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara untuk menghilangkan teror itu. Yang kutahu cuma satu, dan itu pun aku mendengarnya dari orang lain. Kalau tidak salah, ada yang bilang kalau sang pembaca harus membakar buku itu. Tapi dimana dan kapan, aku sama sekali tidak tahu. Mungkin aku memang sudah ditakdirkan untuk mati.
Sasuke memijat keningnya. Sudah banyak halaman yang telah dibacanya. Dan itu membuat matanya terasa pedih dan pegal. Ia memilih untuk istirahat sebentar dan meregangkan kedua otot tangannya. Ia memejamkan matanya beberapa detik, kemudian membukanya kembali. Kali ini, ia sudah siap untuk membaca kelanjutan dari buku ini."Baiklah, aku harus mengakhiri buku ini! Sebentar lagi buku ini akan selesai!" teriaknya senang. Namun, saat ia bersiap membaca kelanjutan kata dari buku itu, tiba-tiba..
BRAKK!
"Jangan selesaikan buku itu!" dengan kasar, buku itu ditepis oleh sebuah tangan. Disertai dengan teriakan marah dari seseorang. Karena kaget, Sasuke menengadah dan mendapati Sakura tengah berada disana. Namun, sesosok banyangan putih berada dibelakangnya. Sasuke sontak memalingkan wajahnya dari Sakura.
"Sasuke, lihat aku!" teriak Sakura. Sasuke menutup matanya. Benar-benar mengerikan sosok yang berada disamping Sakura itu. Dan sosok itu seakan mendekatinya dan mengajak pergi dirinya ke suatu tempat yang asing dan menyeramkan.
"Di.. Disana..!" Sasuke menunjuk samping Sakura. Tempat dimana ia melihat sosok putih itu. Namun ia tidak berani melihat kearah yang ia tunjuk.
Sakura menengok kearah sampingnya. Namun ia tidak melihat apapun. Hanya ada meja, kursi dan anak-anak yang makan siang. Sakura mengambil buku tua itu dan menarik Sasuke. "Kau harus ikut aku, Sasuke-kun! Ini semua demi hidupmu!" Sakura pun menarik Sasuke dan mereka pun pergi ke perpustakaan.
88888888
"Kurenai-san, sekarang kumohon jelaskan bagaimana caranya untuk menyelamatkan Sasuke-kun dari teror buku The Death itu!" Sakura berteriak kepada Kurenai. Ia benar-benar tidak sabar. Ia takut kalau terjadi sesuatu pada Sasuke."Hei, tunggu sebentar. The Death katamu? Kurenai, bukankah kau bilang buku itu hanya mirip dengan buku The Death?" tanya Sasuke bingung. Ya, dia masih sangat ingat betul bahwa saat itu Kurenai berkata bahwa ini hanya buku yang aneh. Dan Kurenai berharap bahwa itu bukan buku The Death.
Kurenai mengangguk. "Ya. Perkiraanku ini sudah bukan hanya perasaan. Karena ada banyak bukti yang jelas." jawab Kurenai menjelaskan.
"Tapi.. bagaimana bisa?" tanya Sasuke meminta penjelasan.
"Dengarkan aku Sasuke," Kurenai berkata. Ia terdiam sebentar. "Apakah akhir-akhir ini kau diteror oleh entah-makhluk-apa?" tanya Kurenai. Mata Sasuke membulat. Bagaimana bisa Kurenai tahu tentang hal ini? Ia kan sama sekali belum pernah menceritakan sesuatu tentang hal ini. "Kuanggap itu sebagai iya. Dan kau pasti terus dan terus membaca buku itu," tebak Kurenai lagi. Sasuke mengangguk. Semua orang sudah tahu bahwa ia selalu membaca buku itu, jadi tidak ada yang membuatnya kaget. "Dan terakhir, kau pasti sudah tahu bahwa jika kau terus menerus membaca buku itu hingga selesai, kau akan mati. Ya 'kan? Setidaknya, kau pasti sudah tahu ada buku yang bernama The Death." jelas Kurenai.
Yah, itu memang benar. Dari cerita yang dibacanya di buku tua itu, rata-rata memang mengenai buku The Death. Sehingga ia sudah tahu apa saja yang akan terjadi, gejala-gejala, dan semuanya. Namun, buku itu belum ia baca sampai habis, sehingga ia tidak tahu bagaimana cara untuk menyelamatkan sang pembaca.
"Maksudmu aku akan mati?" tanya Sasuke makin heran. Apa.. jangan-jangan buku yang dibacanya itu The Death?
"Biar kutegaskan. Kau. Membaca. Buku. The. Death." tegas Kurenai. Sasuke merasa kaget.
"Ka.. Kalau begitu.. Aku harus tahu bagaimana cara menyelamatkan diriku dari buku itu! Sakura, berikan buku itu padaku, disana pasti dijelaskan bagaimana cara menyelamatkan diri! Aku harus membaca lanjutannya!" Sasuke meminta buku itu pada Sakura dengan tidak sabar.
Sakura menatap Sasuke dengan perasaan sedih dan kasihan. Bahkan, setelah mengetahui ini semua, Sasuke tetap mau membaca lanjutan dari cerita itu. Apa ia tidak mengerti bahwa itu bisa membuatnya menghabisi riwayatnya sendiri?
"Sasuke, jangan teruskan membaca buku itu. Kau pasti tahu membaca buku itu sampai selesai akan membuat hidupmu selesai juga 'kan?" tanya Kurenai mencoba menyadarkan Sasuke.
"Tapi, disana terdapat caranya!" seru Sasuke membantah.
"Dengar, Sasuke! Aku juga tahu caranya! Jadi, biarkan buku itu tetap diamankan oleh Sakura!" Kurenai berteriak karena kesabarannya sudah habis. Untung saja saat itu perpustakaan sudah sepi, jadi tidak ada yang akan merasa terganggu oleh perbincangan pribadi mereka.
Sasuke terdiam. Akhirnya dia memilih untuk mengalah dan mendengarkan.
Kurenai menghela nafasnya lega. "Satu-satunya cara untuk membuat kau selamat dari teror buku itu adalah.. kau harus membakar buku itu," jelas Kurenai. Sasuke memutar matanya. Ia sudah membaca cara membakar buku itu dari buku. Namun ia tetap memilih untuk diam. Mendengarkan kata yang akan keluar selanjutnya dari mulut Kurenai. "Di hutan Iwagakure. Pada malam hari diatas jam tujuh malam dan sebelum jam tiga malam." lanjutnya.
"Baiklah. Aku akan pergi kesana untuk membakar buku itu." Sasuke bertekad. Setidaknya, sudah cukup ia diteror oleh makhluk-makhluk aneh. Dan sekarang saatnya ia mengakhiri semuanya.
"Kurasa kau bisa pergi liburan musim panas nanti. Dan untuk memastikan kau tidak melakukan sesuatu diluar petunjuk, aku memilih Sakura untuk menemanimu. Tidak apa-apa 'kan? Lagipula kalian pacaran." jelas Kurenai. Sakura mengangguk tanda setuju.
"Hn. Baiklah." Sasuke ikut setuju. Karena bagaimana pun caranya, dua banding satu. Jelas ia akan kalah.
"Berarti rencanaku liburan musim panas nanti adalah : membakar buku itu. Semoga saja semuanya berjalan lancar." gumam Sasuke dengan mimik serius. Semoga saja petualangan mereka menyenangkan!
To Be Continue..
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.