English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Kamis, 01 Desember 2011

FF/SUNSET/ONESHOOT

Author:  Fanfic for all kpop



cast: Park Jiyeon
        Lee Jinki
genre: angst sad romance
length: oneshoot


Jiyeon’s POV

Setahun yang lalu... di sini, di taman ini aku membuka lembaran cintaku dengan namja yang aku kenal sejak aku menduduki bangku sekolah menengah. Namja yang menjadi sunbae ku sekaligus ku anggap sebagai kakak ku itu berlutut dan memintaku menjadi pasangan hatinya, Onew oppa.. Masih ku ingat jelas senyum yang ia lukiskan di wajahnya ketika itu. Senyum yang sangat tulus dan juga manis. Dan masih ku ingat setiap untaian kata yang ia ucapkan kala itu padaku.

“Jiyeonie..  aku bukan namja baik dan tidak sesempurna namja lain. Aku tidak pernah membahagiakanmu sebelumnya. “

“Mungkin aku lebih sering membuatmu menangis dan membuatmu menyembunyikan senyuman manis dari bibirmu. “

“Setiap kau menangis hatiku terasa seperti teriris, aku tidak suka melihat kau bersedih dan menangis, percayakah kau tentang itu?”

“ Izinkan aku menghapus semua sedihmu, menjadi pelindung mu yang siap melakukan apapun demi menjaga mu.. maukah kau menjadi pasangan ku?”
“saranghanda Park Jiyeon....”

Aku tersenyum mengingat semua perkataan nya tahun lalu. Aku genggam kalung yang berinisial “J J” “Jiyeon Jinki”  yang ia berikan padaku setelah aku menerima cinta tulusnya dan resmi menjadi kekasihnya. Apa kalian berpikiran aku ini wanita beruntung? Karena menurutku menjadi kekasihnya adalah sebuah hadiah yang diberikan oleh Tuhan yang tak ternilai harganya...

---------------------------------------------

“di mana kau chicken?” kataku dan melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 05 sore. Aku sedang menunggu chicken ku, Onew oppa. Dia sudah berjanji akan pergi bersamaku.
“chagiya mianhae, apa aku terlambat?” Onew oppa memeluk ku dari belakang. Awalnya aku ingin marah padanya karena aku sudah menunggu selama kurang lebih 1 jam di sini, tetapi karena pelukannya itu aku lupa dengan amarahku, aku malah tersenyum menyukai pelukannya itu.

“ku rasa kau terlambat 1 jam oppa. Kau dari mana? Bukankah kelasmu sudah berakhir saat jam 04 tadi?” tanyaku dan melepas pelukannya itu.
“umm aku ada perlu tadi sebentar chagiya, mianhaeyo.. hey kau melepaskan pelukanku huh?” protesnya dan memanyunkan bibir merahnya.

“tch! Lupakan chicken.. kajja kau akan mengajak ku kemana?” tanyaku dan mencubit pipinya gemas.
“aku ingin ke Namsan dan mengabadikan nama kita di sana agar kau tidak bisa pergi dari sisi chicken mu ini hahahaha.” Ujarnya dan mengacak rambutku.

Aku tersenyum mendengarnya. Sebegitu spesialnya kah aku di matanya? Aku tidak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya oleh siapa pun. Sekali lagi aku ini memang wanita beruntung ^^.
“kau tidak perlu menuliskan nama kita di Namsan pun aku tidak akan pergi dari sisimu , baboya chicken.”
“tapi bagaimana jika aku yang pergi? Hahaha aniya lupakan. Kajja.”

Belum sempat aku menanyakan apa maksud ucapan nya ia menarikku dan segera pergi dari taman itu dan menuju ke halte bis. Kami sepakat tidak memakai mobil, kami memilih menggunakan bis agar bisa menikmati suasana Seoul di malam hari.

--------------------

Jinki’s POV

Akhirnya kami berdua sampai di Namsan Tower. Tempat terindah dan menjadi tujuan bagi pasangan pasangan yang saling mencintai untuk mengunci nama mereka masing- masing atau sekedar makan di restoran yang tepat berada di dekat tower itu.

“ah neomu yeppeo chagiyaaa~” jiyeon terlihat begitu senang bisa melihat pemandangan Seoul di malam hari.
“kau benar haha. Jangan jauh dari ku kau bisa hilang dan aku akan repot. Kemarilah kau harus tepat di sampingku dan menggenggam tanganku erat agar semua orang tahu kau milik ku Park Jiyeon.” Ku genggam tangannya, ku lihat di pipinya muncul rona rona kemerahan.

“kyeopta....” gumam ku dalam hati.
“kau tahu semua orang memperhatikan kita chicken. Kau ini senang ya membuat aku malu?” ucap nya sambil menundukkan kepalanya.
“mereka iri dengan kita jiyeon-ah, kita pasangan yang sangat cocok sehingga mereka iri.” Ucapku.

Kulihat sekilas ia tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya lalu mengecup pipiku sekilas.
“gomawo kau membuatku bahagia... selalu....”
Kata kata yang ia ucapkan membuatku berpikir. Benarkah aku akan selalu membahagiakannya? Aku selalu berusaha membuatnya bahagia tapi pada akhirnya? Sudahlah aku tidak mau memikirkan ini lagi !

“chagiya ayo tulis nama kita berdua..” ujar Jiyeon dan membuyarkan lamunan ku.
“ah ne,” Lee Jinki dan Park Jiyeon”. Begini?” tanyaku setelah selesai menuliskan nama ku dan nama Jiyeon di dua gembok berbeda.
“aigoo terlalu biasa. Nah begini baru aku suka..”

Jiyeon menambahkan kata kata “always be together” tepat di atas nama kami. Aku tersenyum melihatnya , tapi sebenarnya hatiku sangat teriris dengan ungkapan itu.
Jiyeon mengunci kedua gembok itu. Kunci dari gembok itu dijadikan kalung olehnya dan ia mengalungkannya padaku.
“jika kau berani membuka gembok ini, kau akan mati chicken-ah !” ancamnya .

“aku tidak akan pernah membukanya Jiyeon. Yakseok !” ku lingkarkan jari kelingkingku di kelingking nya tanda bahwa aku telah berjanji.
Ku kecup bibirnya lembut. Aku tidak peduli pada semua orang yang memandang ku dan Jiyeon. Ku tarik ia dalam dekapan ku. Sungguh aku berharap waktu bisa berhenti sekarang....

--------------------------

“chagiya ada sesuatu yang harus ku katakan..” ucapku padanya saat kami berdua berjalan menuju halte bis.
“ne, katakanlah chicken aku akan mendengarkannya.” Jawabnya sambil memandangku lekat.
“aku akan pergi untuk beberapa bulan Jiyeon.. aku tidak akan meninggalkanmu aku hanya sedang sibuk sekarang. Apa kau bisa mengerti itu?”

“waeyo? Apa kita tidak akan bisa seperti ini lagi chicken?” wajahnya berubah murung dan ia menghentikan langkahnya.
“aku tidak tahu apa kita bisa seperti ini lagi atau tidak. Jika aku bisa mengatasi semuanya mungkin kita bisa seperti ini lagi chagiya..”

“....” ia tak menjawabku. Ia berjalan mendahului ku. Aku tahu aku salah mengatakan itu. Tapi memang itu yang akan aku lakukan padanya.

“jiyeon-ah...” panggilku.

Ia menghentikan langkahnya dan menunduk. Aku segera menghampirinya. Aku takut dia akan menangis dan marah padaku. Tetapi tidak. Dia mengangkat kepalanya berusaha tersenyum padaku. Senyuman pahit.

“arrayo chicken, kau bisa melakukan itu. Aku akan menuruti apapun ke mauanmu chicken. Lakukan lah jika kau benar benar harus melakukannya..” aku bisa melihat dia menahan butiran bening  kristal di matanya.

Dengan cepat aku memeluk tubuhnya erat. Ku dengar suara isakan tangis dari mulutnya. Aku mencoba menenangkan tangisannya dengan meyakinkan bahwa aku akan berusaha kembali dan melakukan banyak hal bersamanya, walaupun aku sendiri ragu.

Lama kami dalam posisi seperti itu. Aku berusaha menahan kesedihanku. Jujur saja aku juga ingin menangis dan berteriak. Dan akhirnya isakan Jiyeon berhenti. Ia sudah bisa tenang sekarang.

“kajja chagiya, kita pulang. Hari sudah malam dan kau besok ada kuliah bukan?” ia mengamit tanganku dan menarik ku menuju halte bis.

“jiyeon-ah, aku harap kau bisa terus tegar seperti ini, meskipun aku tidak akan ada di sisimu. Tetaplah menjadi Jiyeon yang ceria...”

“jiyeon.. maaf aku berbohong.. penyakit ini sudah mempermainkan ku ! dan pada akhirnya aku hanya bisa menyerah....”

Lelaki bodoh dan pengecut..
Benar ! aku adalah lelaki seperti itu !
Hanya bisa menghindar dan menangis di balik semua ini !
Aku bilang aku cinta tapi pada akhirnya aku membuang cintanya !

--------------------------------------

Jiyeon’s POV

Sudah hampir 2 bulan aku tidak berhubungan dengan Onew oppa. Rindu? Jelas ! dia adalah orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Aku sudah mencoba menghubungi nya tetapi nihil. Sepertinya ia mengganti nomor ponsel nya. Ah jiyeon-ah kau ini sangat menyedihkan. Tapi sebenarnya kemana perginya chicken ku? Apa dia tidak merindukanku? Omo aku tahu dia pasti pergi bersama yeoja lain! Awas kau chicken kau akan mati di tanganku jika kau melakukan itu ><.></.>
“jiyeon-ssi, kau Park Jiyeon kan?” panggil seseorang dari arah belakangku. Segera aku menoleh dan menatap orang yang memanggil namaku.

“omo Choi Minho-ssi? Annyeonghaseyo..” balasku dan membungkukkan badanku.

Beruntungnya aku bertemu dengan namja tinggi dan tampan ini. Dia adalah Choi Minho teman Onew oppa bisa di bilang dia sudah seperti saudara kandung bagi Onew oppa. Mungkin aku bisa mendapat informasi dari namja ini.

“kau akan pergi ke kampus Jiyeon-ssi?” tanya nya dan menghampiriku.

“ne oppa. Kau?” balasku.

“nado Jiyeon-ah..”

Kami berjalan berdampingan menuju halte bis yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi ku dan Minho oppa saat ini. Dalam beberapa menit aku dan Minho oppa sibuk dengan pikiran masing masing. Sebenarnya aku sedang merangkai kata kata untuk menanyakan tentang Onew oppa.

“umm,chogi Minho oppa.. bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyaku dengan nada gugup.

“ne, tanyakan saja Jiyeon akan ku jawab selagi aku mengetahuinya.” Jawabnya dengan sopan.

“di mana Onew oppa? Sudah 2 bulan ini aku tidak bertemu dengannya. Apakah dia sangat sibuk? Atau memang karena ia bersama yeoja lain? Aku merindukannya oppa..” lirihku dan menundukkan kepala ku.

Mendengar pertanyaanku Minho oppa terkejut dan terlihat menyembunyikan sesuatu. Ia menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapanku. Ia menatapku dengan tatapan yang bisa di bilang prihatin.

“waeyo oppa?” tanyaku yang heran mengapa ia menatapku seperti itu padahal sebelum aku bertanya tentang Onew oppa ia tidak seperti ini.

“aniya Jiyeon-ssi, Onew mu itu sedang sibuk. Aku tidak bisa mengatakan dia sedang sibuk apa tapi jika saatnya sudah tepat aku akan mengatakannya padamu Jiyeon-ssi.” Jawabnya.

Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu dariku. Tidak biasanya Minho oppa seperti ini padaku. Aku bisa lihat dari matanya bahwa ia berbohong. Baiklah aku tidak bisa mempercayai siapa siapa di sini. Tidak pada siapa pun!

“ah arraseo oppa...”

------------------------------------------

Kelas ku sudah berakhir. Aku mengecek ponselku berharap ada satu pesan atau panggilan tak terjawab dari namjachinguku. Tapi nihil, tidak ada panggilan atau pesan sama sekali. Ku tatap sendu layar ponselku yang memampang fotoku bersanma Onew oppa saat di Namsan, 2 bulan yang lalu.

Aku putuskan untuk pergi ke taman sebelum aku kembali pulang ke rumah. Aku pergi ke taman di kota, tempat yang spesial bagiku karena tempat ini adalah saksi bisu saat Onew oppa menyatakan cintanya.

Tibalah aku di taman kota tempat dulu Onew oppa menyatakan perasaannya. Suasananya cukup ramai. Banyak sekali orang orang yang sekedar duduk duduk sambil menikmati kota saat senja melepas semua penat yang dirasa setelah seharian beraktifitas. Aku duduk di sebuah bangku, menghela nafas sejenak dan berniat akan membaca buku novelku. Tapi aku terpaku pada sosok namja yang duduk di bersebebrangan arah denganku.

Namja itu duduk termenung dan menundukkan kepalanya. Lama ku tatap namja itu dari kejauhan, menatap dia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tunggu! Sepertinya itu Onew oppa! Benar itu adalah chicken ku!
“Onew oppa!” pekikku dan segera berjalan ke arahnya.

Dia langsung berdiri dan menatap wajahku dengan tampang heran dan kebingungan. Sepertinya ia terkejut melihat aku ada disini.
“paboya! Kamu ini kemana saja huh? Bersama yeoja lain dan sengaja menghiraukan ku huh?” bertubi tubi ku luapkan semua isi hatiku padanya. Aku muak.

Dia tidak menjawab. Hanya diam dan sepertinya ia kebinguan harus menjawab apa. Ia menundukkan wajahnya. Aish! Aku sangat kesal sekarang! Tidak bisakah iya mengatakan “mianhae” padaku? Ini pertama kalinya ia mengecewakanku!

“wae? Mengapa kamu tidak menjawab? Jadi kamu benar benar bersama yeoja lain? Apa kamu sengaja tidak menghubungiku? Aku tidak menyangka kamu seperti ini oppa. Lupakan semua. Anggap aku tidak pernah bertemu denganmu! Ini semua berakhir oppa!”
sudah terlalu sakit hatiku diacuhkan olehnya selama 2 bulan ini. Tidak bisakah iya menghubungiku agar membuatku tidak khawatir ? tidak bisakah iya memberi satu alasan agar aku bisa mengerti?

“jiyeon-ah!!!!!”

Aku pergi meninggalkannya yang masih mematung. Aku terisak, rasa sakit membuncah di hatiku. Aku ingin marah, tapi aku tidak bisa. Pabo namja, itulah dirimu Onew oppa, let’s not meet again Lee Jinki, overall gomawo for everything.....

Author’s POV

Sejak saat itu, Jiyeon tidak pernah mau mengingat namja yang bernama Onew itu. Ia mencoba menghapus semua kenangan manis nya bersama Onew. Sulit? Jelas , bukan sehari atau dua hari melainkan setahun bersama Onew membuatnya merasa paling bahagia di dunia ini dan berpisah dengannya adalah sebuah bencana yang amat sangat menyiksa dirinya.

Hari berganti hari, tepat setelah hampir setahun dari kejadian itu Jiyeon bertemu dengan Minho, sahabat dekat Onew. Secar a tiba tiba, Minho mengajaknya bertemu disuatu kafe di Seoul.

Entah ada angin apa tiba tiba Minho yang notabene tidak dekat dengan Jiyeon hanya dekat dengan Onew itu mengajaknya bertemu dan membicarakan sesuatu.

“oppa, apa ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Jiyeon sambil meneguk ice coffee late miliknya.

“umm, apa kamu masih mengingat Onew? Apa kamu masih marah padanya?” tanya Minho dan membuat Jiyeon tersentak.

“mianhae, jika oppa hanya akan membicarakan tentang ini lebih baik aku pulang saja.” Ketus Jiyeon dan bangkit bermaksud untuk pergi.

“tunggu Jiyeon, Onew itu sakit! Aku sudah tidak kuat dan sangat muak berbohong padamu Jiyeon. Onew mu itu sakit dan bodohnya ia tidak mau kamu mengetahuinya!”

Pernyataan yang keluar dari mulut Minho langsung menyambar hati Jiyeon. Awalnya ia bermaksud untuk pergi karena ia muak mendengar nama namja yang sudah menyia-nyiakannya dulu.

“m..mwo? sakit? Setahuku dia tidak punya penyakit apapun oppa..” Jiyeon masih berdiri mematung, matanya membulat tanda ia terkejut dan sepertinya ia tak habis fikir dengan ini semua.

“ne Jiyeon, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu karena sebelumnya aku tidak jujur padamu karena Onew sendiri yang meminta. Boleh aku meminta tolong padamu?” tanya Minho.

“apa itu oppa?” tanya Jiyeon .

“bisakah kamu menemuinya? Dia tidak punya semangat hidup sekarang. Temui dia di rumah sakit yang jaraknya 3 blok dari sini. Dia di rawat disana dan sepertinya ia membutuhkanmu Jiyeon, berjanjilah kamu akan menemuinya ne?”

“tunggu, dia itu sakit apa? Setahuku selama setahun kami bersama dia tidak pernah menunjukkan penyakitnya padaku. Dia selalu terlihat sehat dan tidak ada tanda tanda jika ia sakit.” Ucap Jiyeon.

“dia berusaha menutupinya, bahkan di hadapanku saat ia kambuh ia hanya mengatakan ‘aku tidak apa apa’ dan tersenyum . apa kamu yakin ingin mengetahui dia sakit apa? Ingin tahu dari mulutku ini?”

“ne! Cepat katakan Minho oppa!”

“dia itu sakit Leukimia stadium 3...”

Jiyeon  seperti  tersambar petir saat mendengar pernyataan dari Minho. Bagaimana tidak? Namja yang ia sayangi sedang sakit parah. Kanker! Itu bukan penyakit biasa, berjuta juta orang terenggut nyawanya oleh penyakit mematikan itu. dan bahkan Jiyeon menuduh Onew meninggalkan dia bersama yeoja lain selama setahun ini. Ia tahu ia salah.
Ia lemas. Kakinya gemetar, tidak bisa berpikir lurus. Air matanya seketika itu juga mengalir di pipi nya yang bening.  Seketika itu ia berlari meninggalkan Minho yang menatapnya dengan tatapan prihatin.

“Jiyeon-ah~!” teriak Minho.

Panggilan dari namja itu tak ia dengar. Ia terus berlari dengan air mata yang masih terus mengalir dari mata indah miliknya. Pikirannya kacau, ingin segera untuk berada di samping namja yang ia cintai dan mendekapnya erat.

--------------------------------------------------------------------

“hosh hosh hosh..” deru nafas Jiyeon yang tak teratur saat ia tiba di depan rumah sakit tempat Onew dirawat.

“chogi, dimanakah kamar Lee Jinki? Tolong cepat!” perintah Jiyeon kepada perawat yang sedang berjaga saat itu.

“ne agassi, chankamanyo.” Jawab perawat itu dan semakin membuat Jiyeon gusar.

“aish! Bisa cepat sedikit?”

“tuan Lee Jinki sedang berada di kamar VIP yang berada di Lantai 3, kemarin dia drop dan tidak sadar.”
Jiyeon tidak menghiraukan perkataan perawat itu. segera ia berlari menuju lantai 3 tempat Onew, namja yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu.

Sampailah ia dilantai 3. Ia diam di depan kamar indap Onew. Ia memandangi Onew yang sedang duduk di tepi ranjangnya dari celah pintu kamar nya yang terbuka. Miris hatinya melihat namja yang ia cintai dalam keadaan seperti itu. ia usap airmatanya dan mencoba tersenyum di hadapan Onew.

“annyeong chicken oppa” sapa Jiyeon dan melukiskan sebuah senyuman di wajahnya. Senyuman yang terpaksa.

“Jiyeon-ah, kau..?”

“ne oppa, aku tahu semua tentang penyakitmu, aish paboya. Mengapa kamu tidak memberitahu ku huh? Aku ini kan yeoja mu saat setahun yang lalu.” Ucapnya memotong perkataan Onew dan langsung duduk di samping nya.

“...” Onew tidak menjawab. Dia terus menunduk , tidak ingin menatap yeoja cantik yang amat ia sayangi.

“waeyo? Gwaenchana oppa? Bagian mana yang sakit? Aigoo bibirmu pucat, dan kamu terlihat kurus oppa.”

Ditariknya tubuh mungil Jiyeon, direngkuh nya sangat erat. Selama setahun berpisah, Onew sangat merindukan Jiyeon yang biasanya selalu ada disaat kapanpun dia butuh. Tapi kali ini dalam setahun ini ia berjuang melawan penyakit mematikannya itu sendirian. Bukannya ia tidak membutuhkan Jiyeon tapi ia takut Jiyeon akan merasa bersedih jadi ia tidak berani mengatakannya.

“oppa...” lirih Jiyeon disela pelukan hangat dari Onew.

“mianhae, jeongmal mianhae... aku ini namja pengecut aku terlalu takut untuk mengatakan ini semua. Tolong maafkan aku...” ucap Onew dengan nada sedih. Tak beberapa lama ia mulai terisak tak bisa membendung air matanya lagi.

“aigoo oppa gwaenchana.. aku bisa mengerti semua, awalnya aku memang marah padamu tapi cinta dihati ini selalu bisa memaafkanmu. Aku pernah bilang jika semua ini usai, tapi di satu sisi aku tidak bisa membuang rasa cinta yang begitu besar dihatiku oppa aku memendamnya selama ini dan itu semakin membuat aku menyadari bahwa aku hanya membutuhkanmu..”

“aku masih membenci diriku chagiya, kamu tahu kan aku sakit apa? Aku benci karena aku tidak akan bersamamu lagi , tidak akan bisa memelukmu lagi, tidak bisa memarahimu lagi saat kamu selalu melupakan makan, tidak bisa menenangkanmu disaat kamu menangis lagi...” lirihnya disela isakan tangisnya.

“kamu ini berbicara apa oppa? Jangan berbicara seperti itu lagi, kamu ingat kita telah mengunci nama kita berdua di Namsan kan? Kuncinya masih ada di kalungmu, dan jangan pernah membuka gembok itu arra?” kali ini Jiyeon yang mulai meneteskan airmata.

“jangan menyerah oppa, aku mohon aku membutuhkanmu disini. Jika kamu pergi walaupun banyak orang di dunia ini tapi tetap saja ada yang kurang untuk ku..” sambungnya.

“aku juga ingin jika aku bisa, tapi berjanjilah akan menjadi Jiyeon yang selalu tegak seperti bunga matahari walaupun hujan dan terik, tetaplah cerah ceria seperti warnanya. Tetap tunjukkan senyummu itu arra? Aku akan selalu memperhatikanmu dan mengawasimu Jiyeonie..”


-------------------------------------------------------------------------

Senja pun tiba. Sejak siang tadi matahari selalu cerah dan tidak henti hentinya menyinari Seoul. Jiyeon masih berada di rumah sakit menunggui Onew dan tidak beranjak dari sisi Onew yang kini sedang tertidur.

Di tatapnya lekat wajah pucat Onew, dielusnya pipi beningnya, di kecupnya kening Onew dengan sangat lembut. Ia masih membayangkan bagaimana bisa ia hidup tanpa Onew? Sehari hari mereka selalu bersama dan saling melengkapi. Tapi kini ia hanya bisa berharap Onew bisa sembuh, kembali seperti dahulu kala , tidak sakit, tidak lemah seperti ini.

“Jiyeon-ah....” lirih Onew dan mengerjapkan kedua matanya.

“ne oppa, aku disini. Apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Jiyeon sambil menggenggam tangan Onew erat.

“ah sudah berapa lama aku tertidur? Sepertinya sudah senja ya? Bagaimana jika kita melihat matahari terbenam dari lantai atas rumah sakit ini?” pinta Onew manja pada Jiyeon.

“mwo? Oppa kau harus istirahat...” sergah Jiyeon.

“aku mohon, kali ini saja. Aku sangat ingin menghabiskan sisa waktu ku denganmu..”

“eh maksudku sisa waktu hari ini denganmu. Kamu besok pasti akan sibuk dengan kuliah mu , ya kan?” sambung Onew sebelum Jiyeon berpikiran aneh lagi.

Tuhan, apakah benar ini sisa waktunya?

Aku tahu ia berbohong padaku, aku bisa merasakan ia akan pergi dari sisi ku

Ambil lah dia jika itu yang terbaik, aku tidak suka melihatnya merintih menahan sakit

Ku relakan ia kau ambil Tuhan, bawalah ia ke sisi mu jangan biarkan ia sakit lagi....

Jiyeon termenung sesaat. Ia menghapus butiran air mata yang siap turun membasahi pipinya. Lalu ia tersenyum sangat manis pada Onew. Di papahnya Onew menuju kursi roda dan di dorongnya ia menuju lantai atas.

Lantai demi lantai ia lewati. Semakin dekat dengan lantai terakhir dari rumah sakit itu. di dorong nya Onew menuju balkon saat pintu lift terbuka. Suasana di atas sangat indah, sinar matahari senja yang masih setia menyinari Seoul , hembusan angin yang damai dan ditambah suara kicauan burung yang merdu membuat suasana menjadi damai.

“jiyeonie, apa kamu suka matahari terbenam?” tanya Onew sambil terus memandang ke arah matahari yang sebentar lagi siap terbenam.

“ne oppa. Karena saat matahari terbenam itu sangat indah.” Jawab Jiyeon dan berjongkok disebelah Onew.

“nado... jiyeonie bisa bantu aku? Bagaimana jika kita duduk di kursi itu? kasihan kamu harus berjongkok seperti ini..” kata Onew sambil menunjuk ke arah kursi panjang yang ada di balkon itu.

Jiyeon membantu Onew berdiri dan membantunya berjalan menuju kursi panjang itu. ditariknya kursi panjang itu agar menghadap ke arah barat agar posisi untuk  melihat matahari terbenam sangat pas.

“wah sangat indah oppa, sebentar lagi matahari akan terbenam.” Ucap Jiyeon dan duduk disamping Onew.

TES TES TES

Darah dari hidung Onew kembali bercucuran. Darah berwarna merah pekat itu menetes mengotori baju putih yang ia kenakan. Jiyeon tidak menyadari itu, buru buru Onew mengusapnya agar Jiyeon tidak mengetahuinya.

“ah Jiyeon, aku mengantuk hembusan angin seperti mengelus rambutku. Bolehkan aku menyandar di bahu mu ya?” tanya Onew seraya menyandarkan kepalanya di bahu Jiyeon dan menggenggam erat tangan Jiyeon.

“ne oppa, mari kita menghitung dari 10 sampai 1.”

“10.....”

“9.........”

“8........”

“7........”

“6.........”

“5..........”

“4..........”

Pada hitungan empat itu lah genggaman tangan Onew di tangan Jiyeon melemah.

“3..........”

Jiyeon memperlambat hitungannya dia tersenyum miris melihat ke arah matahari. Menghela nafasnya panjang.

“2...........”

“1............”

Matahari yang indah itu pun terbenam. Dan pada hitungan ke satu juga genggaman tangan Onew benar benar lepas. Matanya tertutup rapat. Hanya sisa sisa tetesan air mata yang ada di pelupuk mata yang masih menetes.
“chagiya, tidurmu nyenyak sekali...” gumam Jiyeon.

Suasana hening dalam beberapa saat. Jiyeon sudah tahu Onew sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia hanya menatap lurus kedepan, Onew masih dalam posisi yang sama. Dipeluknya tubuh Onew yang mulai mendingin, di kecupnya pucuk kepala Onew. Jiyeon melepaskan kalung yang Onew kenakan. kalung kunci yang menjadi kunci gembok nama mereka di Namsan.

“istirahat lah dengan tenang chagiya, jangan pernah sakit lagi. Kamu tahu? Aku menjadi benci matahari terbenam karena saat itu lah namja yang aku cintai pun terbenam. Berbahagialah disana, jangan sakit lagi, tersenyum lah dan menjadi bintang yang paling terang di saat malam.” Lirih Jiyeon sambil menatap langit yang kini menjadi gelap. Air matanya kembali menetes, tapi ia tetap berusaha tersenyum dan tegar untuk Onew..

“hari hari selanjutnya akan menjadi sepi tanpamu, akan menjadi kosong tanpa tawa renyahmu, akan menjadi hampa tanpa ocehan dari mulutmu saat aku melupakan makan. Semua kenangan itu tidak mungkin akan bisa terhapus. Disini di tempat ini, aku sandarkan cinta, kasih, seluruh jiwa ragaku padamu Lee Jinki... saranghae, jeongmal saranghae!”

How can i live without you?

Who will care about me? Who will be my ‘chicken’ again?

It’s hurt, but i know you will happy in there

Wait me! I will go there someday!

Rest in peace chagi, remember that you are the one for me...

-Jiyeon-

Take away my love...

Take it whenever you want

Always happy always show your sweet smile

Dont ever remind me, but remember that i love you

Jiyeonie... annyeong....

-Onew-


END

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.