Author: Tania Hikarisawa
Semoga saja orang tersebut tidak apa-apa. Tapi, hal tersebut tidak mungkin. Arrgghh..sudahlah. Yang terjadi, biarlah terjadi, aku tidak peduli. Aku cukup pura-pura tidak tahu saja. Lagipula, dalam keadaan seperti ini, mana mungkin ada saksi mata yang melihat? Sekarang, yang kubutuhkan hanyalah mandi air hangat setelah sampai di flat dan pura-pura hal ini tidak pernah terjadi.
Selang beberapa menit, aku pun sudah sampai di flatku. Aku meletakkan mobilku didalam bagasi. Dan kemudian segera masuk ke dalam flatku.
CTAR!
Tiba-tiba saja terdengar bunyi petir yang sangat keras. Semoga itu bukan pertanda buruk. Aku pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk mandi. Dan satu lagi, semoga di mobilku tidak ada noda darah dari orang yang kutabrak. Kalaupun ada, semoga saja noda darah itu sudah hilang karena air hujan. Tuhan, tolong aku. Ampunilah aku. Aku mohon. Terus, kata-kata itu yang aku ulangi di dalam hati. Aku harap tabrakan ini tidak ada orang yang tahu selain aku.
..o0o..
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian tabrakan tersebut. Dan sekarang perasaanku sudah mulai tenang. Aku juga tidak pernah mendengar berita dari tabrakan tersebut.
"Hai, Sakura,"
Tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh salah satu temanku di Universitas Konoha.
"Hai juga, Ino," balasku.
"Hari ini apa kau dapat kelas dosen Tsunade?"
"Iya, bukannya kau sudah tahu itu. Kenapa menanyakannya lagi? Sudah lima kali kau menanyakannya sejak tadi pagi," ujarku sedikit ketus.
"Iya, iya, maaf. Kau tahu sendiri aku selalu takut di kelasnya Tsunade itu," tiba-tiba wajah Ino berubah agak kebiruan seperti orang yang melihat hantu. Aku jadi ingin tertawa melihatnya.
"Melihat mayat tubuh manusia yang kemudian kita potong-potong dengan pisau, lalu melihat bagian dalamnya. Bbrr..itu menakutkan. Belum lagi, kalau kita mendapat bagian menguliti kepalanya arrgg..aku tidak bisa membayangkannya," lanjut Ino sambil mengacak-ngacak rambut pirangnya.
"Hahaha..seperti biasa, kau penakut,"
"Ahh..Sakura, jangan mengejekku. Ini salah satu kelemahanku tau. Pokoknya nanti aku tidak ingin menjadi dokter forensik yang setiap hari berurusan dengan mayat tersebut. Ihh..menakutkan.." ujar Ino lagi.
"Kalau begitu, nanti kau sekelompok denganku saja. Nanti kau kutugaskan untuk mencatat saja, biarkan aku yang mendapat bagian memotong dan mengiris-ngiris beserta menguliti. Bagaimana?" usulku.
"Wah, Sakura baik. Aku bersyukur karena punya teman sepertimu," ujarnya sambil memelukku.
"Iya, iya, sudah hentikan, Ino."
Sekarang aku dan Ino sedang berjalan di koridor kampusku. Tujuan kami adalah laboratorium yang biasa digunakan mahasiswa kedokteran untuk praktek. Dan praktek kali ini adalah mengenai tubuh manusia. Aku sudah berkali-kali melakukan praktek dengan mayat manusia ini. Memang, saat pertama kali melakukannya, aku sangat takut dan badanku terus saja gemetar. Tapi, karena aku sudah sering melakukan praktek seperti ini, aku pun mulai terbiasa dan tidak pernah takut lagi. Memang, senior-seniorku sering bilang kalau arwah dari mayat yang kita gunakan akan terus menghantui kita. Hah! Tapi itu hanya gosip belaka. Mana mungkin di duniaini ada hantu? Benarkan? Tidak mungkin! Dan satu-satunya orang yang percaya akan hal tersebut hanyalah Ino. Ya ampun, lihat, betapa gemetarnya dia sekarang.
..o0o..
"Baiklah, hari ini aku akan membagi kalian menjadi sepuluh kelompok. Satu kelompok terdiri dari empat orang. Ayo, cepat bagi dirikalian!" perintah salah satu dosen kedokteran yang bernama Tsunade.
Aku pun segera bergabung dengan teman-temanku. Aku menjadi kelompok paling terakhir yang terdiri dari aku, Ino, Sasori dan Gaara.
Kami berempat berdiri melingkar di salah satu meja yang ada di laboratorium lengkap dengan mengenakan pakaian laboratorium kami. Aku dapat melihat dosen Tsunade mulai membagi-bagikan potongan-potongan tubuh manusia kepada setiap kelompok dibantu oleh dosen Shizune.
Saat dia mencapai meja kami, tiba-tiba saja dia berbalik mencari Shizune. Sepertinya mereka kehabisan potongan tubuh. Mereka terlihat berbincang-bincang sebentar, entahapa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinyadosen Shizune sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh dosen Tsunade. Memang apa yang ia katakan? Sampai akhirnya aku melihat dosen Shizune mengangguk kemudian dia pergi ke ruangan tempat menyimpat mayat. Beberapa saat kemudian dia kembali sambil membawa sebuah kardus dan ia pun meletakkan kardus tersebut di meja kelompokku.
"Kalian mendapat tangan kanan," ujarnya kemudian pergi.
Next to Chapter 3
Kamis, 29 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.