English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Senin, 12 Desember 2011

The Death Book_ chapter 1

Author : Melody-Cinta
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku. But this is only for complement the story. Because the main genre is horror/tragedy
Genre : Like I said, Horror/Tragedy
.
Summary : Buku memang biasa kita baca sampai habis. Tapi, ada satu buku yang tidak boleh kita baca sampai habis. Judulnya The Death. Jika kita membacanya sampai habis, maka habis pula riwayat kita.
.
.
Original Idea by Melody-Cinta
Inspired by my horror fic, Melodi Kematian
.
Hope you enjoy!
.
CHAPTER ONE
.
Sasuke Uciha. Seorang pria yang bisa dibilang keren dan tampan. Ternyata, adalah seorang pecinta buku tingkat akut! Banyak buku yang telah selesai dibacanya. Mulai dari cerpen sampai novel setebal 5 cm. Tapi kecintaannya pada buku tetap tidak membuatnya melupakan cintanya pada wanita. Dan itu dibuktikannya dengan mempunyai pacar yang cantik dan ceria seperti Sakura Haruno.
"Jadi jika X:L = blablablabla.." guru terus menerangkan pelajaran di depan kelas. Anak-anak terlihat tidak fokus sekalipun mereka melihat ke arah depan. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya mereka bisa mempercepat waktu agar pelajaran dapat terlewat begitu saja tanpa harus berpikir.
Beda dengan Sasuke. Baiklah, dia memang bosan seperti anak-anak lainnya. Dan juga berharap agar bisa mempercepat waktu. Tapi itu bukan dengan alasan yang sama dengan anak lain. Ia ingin mempercepat waktu agar ia bisa pergi ke perpustakaan dan meminjam beberapa buku baru. Seperti biasa, buku di rumahnya sudah habis dia baca semua.
KRIING!
Bel terdengar nyaring; walaupun begitu, bel nyaring itu terdengar sangat indah di telinga anak-anak. Satu persatu anak-anak SMA itu mulai keluar. Ada yang menuju kantin, taman, lapangan, bahkan atap untuk pembicaraan pribadi.
Sasuke berjalan santai menuju perpustakaan di sekolahnya yang megah itu. Dia sudah sangat afal jalan menuju perpustakaan. Mungkin, ia bisa berjalan ke perpustakaan hanya dengan mata tertutup!
"Sasuke-kun," panggil seorang gadis manis yang setia berjalan di samping Sasuke. Tentu saja dia Sakura. Sasuke hanya mendelik kearah pacarnya itu. "Ano, kau ingin ke perpus lagi ya?" tanya Sakura hati-hati.
"Hn." jawab Sasuke. "Aku ingin meminjam buku baru. Ada apa?" tanya Sasuke kepada Sakura.
"Ano.. Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Ino-chan untuk makan bersamanya di kantin. Tidak apa-apa 'kan aku meninggalkan Sasuke-kun?" tanya Sakura meminta izin. Ia tahu bahwa ia sama sekali belum menjadi istri seorang Sasuke Uciha. Tapi, ia sangat senang bergaya seolah menjadi istri yang baik.
"Terserah kau, Sakura." beda dengan Sakura. Sasuke justru lebih condong sebagai seorang teman yang baru kenal dengan Sakura Haruno. Entahlah, mungkin ini semua karena kebiasaannya yang jarang bicara atau bersosialisasi dengan orang lain.
"Arigatou." Sakura membungkuk dan mulai jalan berbalik arah dengan Sasuke. Kearah kantin.
8888888
Krieek..
Sasuke membuka pintu perpustakaan pelan. Ia tidak mau ruangan yang di-cap sebagai ruangan sepi itu berubah menjadi ruangan yang berisik. Bahkan hanya dengan suara pintu pun ia tidak suka.
Sasuke langsung menghampiri beberapa rak buku yang biasanya berisikan buku-buku baru yang ada di perpustakaan itu. Atau buku yang baru saja selesai di pinjam dari perpustakaan itu. Dengan lihai, tangannya mulai memilah-milah buku yang akan di pinjam. Sebagian besar buku yang ada di sana sudah ia baca. Tapi ada juga beberapa yang belum ia baca.
Sebuah buku di pojok kiri mulai menarik perhatian Sasuke. Ia dengan cepat mengambil dan menimang-nimang buku itu. Buku itu terlihat tua. Warnanya sudah hijau tua dan berdebu. Judulnya pun tidak jelas. Satu-satunya tulisan yang dapat dibaca oleh Sasuke hanya kata 'The' di kiri.
"Hmm.. Buku ini kelihatan aneh. Tapi aku jadi penasaran. Mungkin aku harus membacanya." gumam Sasuke. Ia pun melanjutkan memilah-milah beberapa buku untuk di pinjamnya di perpustakaan itu.
Setelah puas dengan buku-buku yang telah dipilihnya, Sasuke berjalan menuju penjaga perpustakaan.
Sasuke manaruh buku-buku yang tadi di pegangnya ke atas meja di depan wanita sang penjaga perpustakaan. Ah, ya, nama penjaga perpustakaan itu Kurenai. Ia terkenal sangat tegas masalah buku, pendidikan dan juga perpustakaan.
Kurenai mulai menghitung buku yang akan di pinjam oleh Sasuke. Tapi, tiba-tiba Kurenai berhenti dan menimang buku terakhir. Tepatnya buku tua berdebu yang tadi Sasuke temukan.
"Aku tidak ingat perpustakaan pernah punya buku seperti ini," ujar Kurenai membetulkan letak kacamatanya. "Buku yang aneh. Kuharap ini bukan buku The Death." lanjutnya.
"The Death?" tanya Sasuke kelihatan heran. Memang benar, ia tidak pernah mendengar apapun tentang The Death. Semoga saja itu bukan benar-benar buku yang tadi Kurenai bilang. Hanya mirip.
"Ini. Totalnya ada 8 buku. Kembalikan buku-buku ini paling lambat 2 minggu." kata Kurenai sambil memberikan kedelapan buku itu kepada Sasuke. Sasuke hanya tersenyum kecil sambil menerima kedelapan buku tersebut.
88888888
Sasuke membaca salah satu buku yang baru saja di pinjamnya tadi. Sambil menunggu Sakura di depan gerbang, daripada berdiri melamun, Sasuke lebih suka membaca buku. Hm, tidak aneh sih mengingat ia benar-benar maniak membaca.
Angin melambai-lambaikan beberapa helai rambut hitam Sasuke yang tengah membaca buku. Itu sukses membuat Sasuke repot karena harus menyingkirkan rambutnya atau merapihkan rambutnya.
"Sasuke-kun, maaf menunggu lama." Sakura menyapa Sasuke yang masih sibuk membaca buku. Disertai dengan senyuman ceria dan lembut khasnya itu.
"Hn. Tidak apa-apa. Ayo pulang." Sasuke menggenggam tangan mungil Sakura dan mereka mulai berjalan bersamaan menuju rumah mereka. Untung saja rumah mereka satu arah. Jadi, mereka bisa selalu pulang bersama.
"Sasuke-kun," panggil Sakura. Seperti biasa, Sasuke hanya mendelik. "Tadi pagi ibu menyuruhku untuk mengajakmu ikut makan siang di rumahku. Apa kau bersedia?" tanya Sakura malu-malu. Sungguh, ini baru pertama kalinya ia mengajak Sasuke ke rumahnya untuk makan siang sejak mereka jadian. Rasanya pasti beda!
"Boleh." jawab Sasuke. Ia menerawang ke depan. Bukan! Bukan karena ia memikirkan harus bersikap apa ke ibu Sakura nanti, tapi ia memikirkan, apa yang sebenarnya ada di dalam buku The Death sehingga dapat membuat muka sang penjaga perpustakaan yang serius itu menjadi sedikit cemas dan takut.
Kalau benar buku yang ia pinjam itu buku The Death, maka ia harus segera membacanya sampai habis agar tahu apa yang ditakuti atau apa yang ada di dalam buku itu. Dari judulnya, buku itu jelas buku horor. Tapi, apa sebegitu mengerikankah cerita di dalam buku itu sampai Kurenai merasa cemas dan takut? Entahlah, Sasuke benar-benar tidak mengerti. Yang jelas ia harus segera membaca buku itu!
"Err, Sakura, maaf. Setelah ku ingat-ingat, ada sesuatu hal penting yang harus segera ku kerjakan. Jadi aku tidak bisa ke rumahmu untuk makan siang. Maaf ya?" jelas Sasuke secara tiba-tiba. Ia sudah bertekad bulat untuk membaca buku itu.
Sakura yang awalnya merasa sangat bahagia karena Sasuke sudah menerima ajakannya, kini hanya bisa kecewa. "Ah, ya, tidak apa-apa kok! Ini bukan acara resmi. Hanya ajakan makan siang." Sakura mencoba membuat Sasuke tidak merasa tidak enak.
Sasuke mengangguk. "Terima kasih, Sakura." ujarnya tersenyum kecil. Sasuke pun berhenti di depan rumahnya, "Ah, aku sudah sampai. Sampai bertemu besok. Salam untuk ibumu." ujar Sasuke lalu masuk ke dalam rumahnya dengan terburu-buru.
Sakura hanya tersenyum simpul. "Sepertinya benar-benar penting sampai ia terburu-buru begitu." gumamnya. Yah, walaupun Sakura merasa kecewa, tapi kalau hal itu benar-benar penting, kenapa ia harus memaksa Sasuke? Yang ada ia hanya mengganggu Sasuke. Ya 'kan?
8888888888
Sasuke memasuki rumahnya dengan terburu-buru. Rasa penasaran memang bisa membuat seseorang menjadi seperti orang gila. Dan itu yang tengah dialami oleh Sasuke sekarang.
"Kau kenapa, Sasuke?" tanya Itachi. Kakak satu-satunya dari Sasuke. Tapi kelihatannya pertanyaan dari kakaknya itu tidak digubris sama sekali oleh Sasuke. "Adik yang aneh!" gumamnya kemudian.
8888888888888
Sasuke yang masih penasaran segera membuka tasnya dengan cepat dan mengambil buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Tak perlu waktu lama baginya untuk mengetahui mana buku yang mirip dengan The Death, karena hanya buku itu saja yang terlihat tua, usang dan berdebu.
Ia membuka buku itu perlahan. Ia memang penasaran dengan buku itu. Tapi ia ingin membuka buku itu pelan-pelan. Yah, sedikit menyimpan tenaganya untuk sesuatu hal yang menganggetkan nanti. Siapa tahu?
Ini semua bermula saat aku mulai menyukai kegiatan yang disebut membaca. Membaca itu memang mengasyikkan, apalagi jika buku itu seru. Kita pasti tak'kan bisa berhenti membacanya sampai habis.
Tapi, ada satu buku yang tidak boleh kita baca sampai habis. Karena jika kau membaca buku itu sampai habis, maka riwayatmu juga akan habis bersama dengan habisnya kau membaca buku itu…
"Sasuke! Waktunya makan malam!" ujar suara berat sang kakak dari arah luar kamar sang Uciha bungsu.
"Malam?" tanya Sasuke heran. Ia melirik jamnya. Jam 7 malam. Tak ia sangka, membaca buku tua dan usang ini bisa membuatnya lupa akan waktu. Tapi buku itu memang benar-benar seru. Tentang buku yang tidak boleh dibaca sampai habis.
"Sasuke!" teriakan kembali terdengar dari luar kamar itu. Kali ini kelihatan tidak sabar.
Sasuke menyahut, "Iya!" dan ia pun membuka lemari dan mengganti baju sebentar sebelum keluar kamar dan pergi ke ruang makan bersama dengan kakaknya.
8888888888888
Pagi datang begitu cepat keesokan harinya. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh Sasuke Uciha. Sejak ia membaca buku yang mirip dengan The Death itu, ia makin rajin membawa buku itu kemana pun. Buku itu benar-benar seru baginya. Tapi betul sih, rada menyeramkan.
"Sasuke! Jangan membaca buku terus! Cepat makan rotimu dan berangkat! Sakura-chan sudah menunggu di depan!" Mikoto memarahi anak bungsunya yang masih asyik membaca buku.
"Iya, maaf, bu." Sasuke meminta maaf dan mengambil satu roti lalu berjalan keluar rumahnya. Diluar, Sakura sudah terlihat menunggu dengan senyumnya yang lembut.
"Pagi, Sasuke-kun!" sapa Sakura saat Sasuke sudah berdiri di sampingnya.
"Pagi, Sakura." balas Sasuke dingin. Ia mulai berjalan sambil menggandeng tangan Sakura. "Kau tahu tidak apa buku yang tidak boleh dibaca sampai selesai?" tanya Sasuke.
Sakura tertegun. "Heh? Memangnya ada ya? Setahuku sih tidak ada," jawab Sakura polos. Sontak, membuat Sasuke tertawa kecil. "Hmm.. Kalau ada pun aku rasa buku kimia. Karena aku rasa buku itu tidak patut untuk dibaca sampai habis!" Sakura mulai marah dengan polos.
"Kau memang lucu, Sakura!" Sasuke mencubit pipi Sakura dengan gemas. Ya ampun, Sakura benar-benar polos atau pura-pura polos sih?
"Hehe.." Sakura menggaruk belakang kepalanya. Tak terasa, mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah mereka. Dan inilah awal perpisahan mereka. Jelas, karena kelas mereka terpisah. Kalau Sasuke 2A, maka Sakura 2B.
"Baiklah, sampai ketemu nanti, Sasuke!" pamit Sakura. Ia dengan semangat langsung berlari kearah teman-teman perempuannya.
"Sampai nanti." balas Sasuke. Ia pun berjalan menuju kelasnya dengan damai tanpa tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Semoga saja bukan sesuatu yang buruk.
To Be Continue..

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.