English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Senin, 12 Desember 2011

The Death Book_ chapter 6 ( End )

Author : Melody-Cinta
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku. But this is only for complement the story. Because the main genre is horror/mystery
Genre : Like I said, Horror/Mystery
.
Summary : Buku memang biasa kita baca sampai habis. Tapi, ada satu buku yang tidak boleh kita baca sampai habis. Judulnya The Death. Jika kita membacanya sampai habis, maka habis pula riwayat kita.
.
.
Original Idea by Melody-Cinta
Inspired by my horror fic, Melodi Kematian
.
Hope you enjoy!
.
CHAPTER SIX
.
Sasuke merunduk untuk mencari buku itu. Bagaimana pun caranya, ia harus menemukan buku itu. Karena buku itu adalah satu-satunya kunci agar nyawanya selamat.
SREEK! SREEK!
Rumput demi rumput telah ia raba. Tangan pun telah kotor oleh tanah. Tapi, buku itu belum juga ditemukan oleh Sasuke. Dan itu sukes membuat Sasuke semakin frustasi.
Ia telah mengelilingi tenda itu berkali-kali. Mengacak-acak tanah dan rumput berkali-kali. Tapi hasilnya tetap saja. Nihil. Buku itu tidak ditemukannya.
Sasuke terduduk frustasi. Tak pernah ia bayangkan, hanya karena dulu; atau kurang lebih dua bulan yang lalu, ia meminjam buku aneh di perpustakaan, hidupnya bisa berakhir seperti ini. Apakah, ia memang sudah ditakdirkan untuk meninggal? Sehingga walaupun sudah berusaha, ia tetap tidak bisa menemukan buku kematian itu.
Pasrah. Itulah yang muncul dalam pikiran Sasuke sekarang.
88888888888
Itachi menyusuri tiap-tiap kios yang terpampang di mall yang tengah ia kunjungi. Tak ada yang membuatnya tertarik. Sama sekali.
Hal itu membuat Itachi berpikir, apa sebenarnya yang Sasuke lakukan dengan Sakura? Kenapa dia tidak boleh ikut dalam liburan mereka? Baiklah, ia tahu bahwa Sasuke dan Sakura itu sedang berpacaran. Tapi, hey! Dia ini sudah besar! Dia bisa kok mencari dunianya sendiri dan tidak menganggu kemesraan mereka! Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.
Perempuan berambut pirang begitu saja lewat dihadapannya. Membuat Itachi berpikir sejenak dan akhirnya menemukan jawaban bahwa perempuan itu adalah Ino Yamanaka. Sahabat dari Sakura. Tanpa pikir panjang, Itachi pun menghampiri Ino.
"Hai. Kau Ino, kan?" tanya Itachi sok kenal. Tapi, nyatanya itu berhasil.
Ino terkejut awalnya, tapi kemudian ia tersenyum. "Iya. Anda kakak Sasuke kan?" tanya Ino. "Itachi kalau tidak salah.." ujarnya sedikit ragu.
"Ah, iya. Kau benar." Itachi mengangguk. "Ada yang ingin kutanyakan padamu, Ino.. tentang Sasuke dan Sakura.." Itachi memulai topik pembicaraannya.
"Eh? Ada apa dengan mereka berdua? Bukankah mereka sedang berlibur ke Iwagakure?" tanya Ino makin terkejut. Apa jangan-jangan mereka menyerah dan pulang lagi? Atau malah mereka tidak selamat?
"Iya. Justru itu yang ingin kutanyakan.." sergah Itachi. Ino menghela nafas tenang. "Sebenarnya ada apa mereka pergi ke sana? Dan harus berdua? Aku tidak boleh ikut?" tanya Itachi langsung memberikan banyak pertanyaan pada Ino.
Ino terdiam sejenak. Apa ia harus merahasiakan hal itu atau tidak? Kemudian Ino berpikir, Itachi adalah kakak dari Sasuke, jadi, pasti tidak salah kalau ia memberitahukan hal itu pada Itachi.
"Begini.. sebenarnya, Sasuke telah membaca buku The Death. Dan sekarang, ia dan Sakura akan pergi ke hutan Iwagakure dan membakar buku itu." jelas Ino singkat, padat dan jelas.
"The Death? Ya ampun! Sasuke benar-benar dalam bahaya! Kenapa aku tidak diperbolehkan ikut?" tanya Itachi terkejut. Ia khawatir akan adiknya yang dalam bahaya.
Ino mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Kurenai memberitahu kami seperti itu. Tapi, Itachi-san, saya sarankan kita tetap menunggu di sini. Biarkan mereka yang menyelesaikan masalah itu. Kau percaya pada Sakura dan Sasuke, bukan?" tanya Ino menjelaskan.
Itachi mengangguk. "Ya. Aku percaya." ujarnya tersenyum.
8888888888
Sakura dengan tertatih-tatih keluar dari tenda. Dan dengan segera, ia mencari buku itu diantara semak-semak. Entah kenapa, perasaannya mengatakan bahwa buku itu ada disana. Walaupun bukan jatuh disana.
Benar saja, tak lama kemudian, tangannya mulai menyentuh sesuatu. Yang keras seperti buku. Dengan segera, ia memegang buku itu dan akan membawanya menuju Sasuke yang tengah pundung dibelakang tenda. Namun..
SAATT!
Tiba-tiba saja buku itu melayang kearah Sasuke. Sakura semakin cemas. Kakinya yang belum pulih menyebabkan dirinya susah bergerak. Dan hanya bisa tertatih untuk mencegah buku itu. Dan saat raga tak dapat membantu, lisan pun bersuara. Memberitahukan.
"SASUKEEEEEEEEE!"
8888888
Sasuke's POV
SAAT!
Buku itu melesat begitu saja ke depan mataku. Melayang dan diam. Seakan menyuruhku untuk membaca buku itu hingga habis. Karena pasrah, aku pun menuruti perintah buku itu. Membacanya.
Perlahan, kulihat sesosok manusia berambut merah. Ia berdiri melayang sambil melihatku seram. Mulutnya bergerak, seakan kata yang aku baca, dia yang ucapkan. Apa dia pemilik uku ini sebelumnya?
"SASUKEEEEEEEEE!"
Kudengar samar-samar teriakan Sakura dibelakangku. Tapi, suara teriakan Sakura tidak membuatku berhenti membaca buku itu. Dan entah mengapa, tanpa disuruh, mata ini membaca kata demi kata dengan cepat dan tepat. Begitu pula dengan mulut orang di hadapanku saat ini.
Tapi tak semudah itu membakarnya. Karena mereka masih akan mengganggumu sampai kau benar-benar membakarnya. Dengan petunjuk yang benar-benar tepat.
Selamat tinggal!
BWUUUSSH!
Diakhiri dengan kalimat itu, buku itu terbakar. Dan orang yang sempat berada di hadapanku pun menghilang seperti buku yang terbakar. Aku menoleh dan mendapati Sakura sudah berdiri disampingku dan membakar buku itu dengan korek apinya. Dan juga linangan air mata.
"Kau.. Jangan baca buku itu.. hiks," ujarnya menangis. "Aku.. hiks.. tidak mau kau pergi.. hiks.." ujarnya masih sesunggukan. Api menyala kini telah padam oleh kencangnya tiupan angin malam. Korek api itu pun jatuh bersamaan dengan abu dari buku yang baru saja terbakar.
Aku terkejut. Tapi aku segera memeluk Sakura dengan erat. "Terima kasih.. Sakura. Kau menyelamatkanku.." ujarnya masih memeluknya. Ia pun menangis di dadaku.
Tapi, entah kenapa aku kembali merasakan pusing yang sangat hebat. Sehingga aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Dan kesadaranku perlahan-lahan mulai menghilang. Hal terakhir yang kutahu adalah Sakura memanggil namaku dengan keras.
8888888
Aku membuka mataku dengan perlahan. Semua terlihat berbayang. Butuh beberapa saat untuk-ku agar penglihatanku bisa sempurna. Setelah itu kupegang kepalaku yang masih sedikit pusing sambil duduk. Hal pertama yang kulihat adalah Sakura yang tengah bertelepon dengan seseorang.
"Sasuke, kau sudah bangun?" tanya Sakura tersenyum. Wajahnya tampak ceria dan senang. Ia pun segera menutup telepon itu. Aku hanya mengangguk kecil sambil memperhatikannya. "Oh, ini. Tadi Kak Itachi nelpon, katanya dia akan menjemput kita sore ini. Dan aku cerita tentang keadaanmu, sehingga ia mengganti jadwalnya jadi menjemput kita siang ini di stasiun." jelasnya menjawab pandanganku.
Aku hanya menghela napas. "Kalau begitu, ayo sekarang kita ke stasiun." aku mulai berdiri dan mengambil ransel yang kubawa. Ia terlihat melakukan hal yang sama denganku. Dan kami pun pagi itu juga berangkat ke stasiun.
888888888
Konoha. Aku sekarang sudah berada di Konoha. Telah pulang ke tempatku sebelumnya. Selama di perjalanan, aku merasa badanku benar-benar tidak enak. Terkadang, aku merasakan pusing, atau hal lainnya.
Kak Itachi memarkirkan mobilnya di depan rumah kami. Sakura memilih untuk jalan kaki dari rumah kami untuk pulang dibanding diantar. Kami hanya menurutinya saja. Toh, aku juga sedang tidak enak badan. Dan mereka tahu itu.
"Baiklah, sampai jumpa besok, Sasuke! Semoga lekas sembuh!" Sakura berpamitan padaku lalu ke Itachi. Dan setelah itu dia pulang.
Aku hendak melepas sepatuku untuk masuk ke rumah sebelum perasaan pusing yang sangat dahsyat melanda kepalaku. Aku mencengkram rambutku, dan terbaring di lantai. Perasaan pusing apa ini? Rasanya.. aku ingin mati..
"Sasuke!" Itachi yang baru saja menutup pintu gerbang segera menghampiriku. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Aku tersenyum tipis. "Yeah, sedikit.." jawabku pelan. Untung dia masih bisa mendengarnya. "Kak," aku memanggilnya dengan suaraku yang mulai parau. "Akh!" aku kembali meremas kepalaku yang sakit. Itachi menatapku cemas. "To.. long.. be.. rita.. hu.. ka.. AKH!" aku merasakan sakit lagi.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Itachi makin cemas kepadaku.
"Ka.. lau.. ak..u.. mening.. gal.. i.. tu.. kare.. na.. a.." aku berhenti sejenak. Nafasku terasa sesak. Sepertinya nyawaku benar-benar akan dicabut. Ya Tuhan, harusnya aku tidak membaca buku tiu sampai habis!
"Sasuke!" Itachi kembali meneriakiku.
"A.. a.. ku…,"
"Te.. telah.. mem.. ba.. ca.."
"Bu.. ku.. i.. tu.. sampai.. ha.. bis.."
Itachi membelalakan matanya. Pasti ia sudah tidak heran kalau aku mati nanti. "Kamu.. jangan bercanda.. Sasuke.." Itachi nampak tak percaya.
Aku menggeleng. "Ma.. af.. kak.. UKH!" dan itu adalah kata terakhirku sebelum aku merasakan nyawaku benar-benar dicabut.
88888888
Normal PoV
Hari ini cuaca sangat tidak bagus. Hujan membasahi Konoha sejak pagi. Tapi itu tidak membuat acara pemakaman Sasuke terbengkalai. Acara pemakaman itu tetap berlanjut walaupun hujan datang. Puluhan orang menangis bersama hujan.
Ino merangkul Sakura yang nampak lemas. Ia tak menyangka, bahwa akhirnya Sasuke akan pergi meninggalkannya. "I.. Ino.. Padahal aku.. aku sudah.. menyelamatkannya.. aku sudah membakar bukunya.. kenapa..? kenapa..?" tanya Sakura menangis.
Ino tak dapat berucap apa-apa. Ia mengelus lengan Sakura yang gemetar. Berharap hanya dengan itu, Sakura bisa tenang,
Itachi menerobos hujan dan berjalan menuju Sakura. Ia menatap Sakura dengan serius dan menyuruh Ino menjauh sebentar. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan untuk gabung, Ino pun memilih pergi dan menuju Kurenai.
"Sakura, aku ingin bicara padamu." ujar Itachi. Sakura hanya menangis sambil menunggu kelanjutan dari ucapan Itachi. "Sebelum meninggal, Sasuke berkata padaku bahwa jika ia meninggal, itu semua karena ia telah membaca buku itu sampai selesai. Jadi, ini bukan kesalahanmu." Itachi menjelaskan pada Sakura.
Sakura menatap Itachi. "Sasuke.. dia.. padahal aku.." Sakura sudah tidak dapat berkata-akat lagi. Itachi memeluk Sakura. Berharap dapat menegarkan Sakura.
"Sabar, Sakura. Yang jelas, Sasuke sudah tenang di alam sana. Dan buku itu sudah dibakar. Kan?" tanya Itachi menguatkan Sakura. Sakura hanya mengangguk. Setidaknya, tak akan ada korban dari buku itu lagi.
Tapi memang benar, buku kematian memang membawa kematian bagi pembacanya. Maka, berhati-hatilah!
.OWARI.
Side-Story :
Dua puluh tahun kemudian,
Di gelapnya malam di pinggiran hutan Iwagakure. Debu-debu mulai berterbangan dan membentuk sebuahh bentuk baru. Buku? Yah, itulah bentuk yang telah tercipta.
"Hei! Lihat! Aku menemukan buku!" ujar seorang pria dengan rambut coklat.
"Kankurou! Berhenti bercanda! Mana mungkin di dekat sini ada buku?" ujar sang pri dengan rambut merah. Ia tampak kesal dengan prilaku pria berambut coklat.
"Ayolah, Garaa, aku tidak baercanda! Aku bawa pulang ya? Aku penasaran dengan isinya!" sang pria berambut coklat meminta izin.
"Terserah." ujarnya acuh-tak-acuh.
Dibalik pohon, munculah sesosok pria dengan rambut merah. Ia tersenyum menyeringai, "Hm, ada mangsa baru."
Dan kisah dari buku ini pun kembali dimulai.
Bersiap-siaplah.
Siapa tahu kalian yang akan menjadi pembaca selanjutnya!
.OWARI.

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.