Author: rin-fyrinichi
Ia membalikkan badannya dan kembali melakukan pencarian ke tempat lain. Cukup sulit untuk melihat di tengah keremangan seperti ini. Dari jendela di ruang tengah, ia dapat melihat sosok beberapa temannya yang masih menunggu dengan penasaran.
Mereka harus mencobanya sendiri dan merasakan sensasinya!
Angin musim gugur bertiup dingin menerbangkan tirai putih kusam yang membingkai jendela. Dari ekor matanya ia menangkap sekelebat putih-putih yang membuatnya segera memutar badannya. Tirai putih kusam di jendela yang satunya lagi tampak terbang-terbang. Ichigo menghela napas. Ia kembali meneruskan pencariannya ke ruangan berikutnya. Dapur.
Klontang!
Ia menoleh dengan cepat. Langsung bertemu dengan sepasang mata hijau emerald si Tuan Hijau yang berkilauan. Boneka itu duduk dengan manis di atas rak piring. Suara tetesan air dari boneka basah itu menggema di tengah kesunyian.
… siram boneka itu dengan air garam yang tersisa di cangkir dan siram juga dengan air garam di dalam mulutmu. Kau menang.
Dengan hati-hati Ichigo mendekati boneka itu. Ia berani bersumpah kalau sepasang mata emerald itu mengikuti setiap gerakannya. Mata yang bercahaya itu tampak begitu mengerikan.
Splash~!
Ichigo menyiramnya dengan air garam di cangkir, lalu menyemburnya dengan yang ada di dalam mulutnya. "Aku menang. Aku menang. Aku menang."
Hening.
Hanya terdengar suara tetesan air.
… bakar boneka itu, permainan selesai.
Kebetulan ada kompor gas di dekatnya. Uryuu sudah mengeceknya dan ia bilang kalau gasnya masih menyala. Orang itu benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik dan memastikan permainan ini berjalan dengan aman.
Jadi kurang menarik.
Ia pikir akan lebih seru kalau ada saat ia berlari di tengah kegelapan dengan menghindari berbagai macam perabot yang umumnya ada di rumah. Atau saat ia kesulitan mencari air garam. Atau bahkan saat tidak ada televisi dan ia tidak tahu apakah si Tuan Hijau sudah ikut berpartisipasi dalam permainan ini atau belum. Ia ingin melihat bagaimana si Tuan Hijau berpindah tempat.
Uryuu membuat semuanya begitu mudah.
Atau Ichigo beranggapan demikian hanya karena permainan ini sudah berakhir?
Ctek!
Ia menyalakan kompor dan api biru segera menerangi ruangan gelap itu. Saat ia hendak mengambil si Tuan Hijau dan membakarnya di atas kompor, seperti ada sesuatu yang menarik boneka itu ke arah yang berlawanan. Tiba-tiba ia merasakan angin dingin menyapu tengkuknya.
" Permainan belum berakhir."
…
"Ichigo mana, ya? Tidak terjadi apa-apa dari tadi." Keigo mencoba melongokkan kepalanya ke jendela, tapi tidak dapat melihat atau mendengar apa pun kecuali televisi yang menyala dengan suara rusaknya.
Uryuu tertegun. Ia membuka ponsel lipatnya dan melihat angka yang tertera di pojok kanan atas. Sudah 35 menit sejak Ichigo masuk ke dalam rumah itu. "Kurasa ia sedang mencari. Televisinya masih menunjukkan kalau ada sesuatu di dalam sana."
"Eto…kalau benar bonekanya berpindah tempat, pasti akan sulit untuk menemukannya di tengah gelap. Iya kan, Ishida-kun?" Orihime bertanya sambil membenarkan syal yang melingkari lehernya. Sepertinya musim dingin akan segera tiba. Udaranya semakin dingin menusuk tulang saja.
"Ah, iya. Kalau Kurosaki melakukan semuanya sesuai prosedur, ia hanya harus mencari boneka itu dan permainan berakhir. Sama sekali tidak akan terjadi apa-apa."
Mizuiro yang dari tadi hanya diam pun angkat bicara. "Bagaimana kalau ada hal yang ia lewatkan?" tanyanya hati-hati.
Hening.
Hanya terdengar suara gesekan ranting dedaunan.
Bagaimana kalau Kurosaki melewatkan sesuatu?
Sama saja. Ia hanya harus menemukan boneka itu dan menyiramnya dengan air garam kemudian membakarnya dan permainan berakhir. Yang penting ia sudah menyatakan kemenangannya, masalah pembakaran boneka bisa dilakukan diluar.
Ia sudah memainkannya sejak kecil.
Dia, Uryuu Ishida, selalu bermain petak umpet saat ia kecil untuk mengisi waktu sampai ayahnya pulang dari rumah sakit. Sampai ada orang lain selain dirinya di rumah besar itu.
Setidaknya petak umpet single player adalah satu-satunya permainan yang membuatnya tidak merasa sendirian.
Tapi apa yang akan terjadi kalau ada hal yang terlewatkan?
Ia belum pernah melakukan kesalahan sama sekali selama melakukan permainan itu. Tidak satu pun kekeliruan pernah ia perbuat. Semuanya selalu berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Kecuali ayahnya yang mempertanyakan berkurangnya jumlah beras dan sisa-sisa boneka yang tidak terbakar dengan sempurna.
… bagaimana kalau Kurosaki melakukan kesalahan?
"Gyaaa!"
Mereka yang berada di luar rumah langsung membelalakkan mata terkejut.
Apa yang sedang terjadi di dalam?
"Ichigo!" Uryuu segera berlari ke pintu depan. Terkunci.
Ia memutar-mutar knob pintu dengan panik. Ia sudah memperingatkan Ichigo untuk tidak mengunci pintunya dan pemuda itu tidak mungkin dengan sengaja mengunci diri di dalam rumah.
Uryuu berlari ke pintu samping. Terkunci juga!!
Next to part 4
Jumat, 16 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.