English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Senin, 12 Desember 2011

The Death Book_Chapter 5

Author : Melody-Cinta
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku. But this is only for complement the story. Because the main genre is horror/mystery
Genre : Like I said, Horror/Mystery
.
Summary : Buku memang biasa kita baca sampai habis. Tapi, ada satu buku yang tidak boleh kita baca sampai habis. Judulnya The Death. Jika kita membacanya sampai habis, maka habis pula riwayat kita.
.
.
Original Idea by Melody-Cinta
Inspired by my horror fic, Melodi Kematian
.
Hope you enjoy!
.
CHAPTER FIVE
.
KRINGG !
"Baiklah anak-anak, mulai besok, kalian libur musim panas. Walaupun kalau sedang berlibur, jangan pernah lupakan belajar ya! Hari pertama masuk kita langsung ulangan!" seru sang guru ilmu pengetahuan sosial.
"Yaahh…" anak-anak yang tadinya senang karena liburan mulai kecewa. Jelas saja karena hari pertama mereka masuk, mereka langsung diberikan ulangan. Siapa coba yang tidak kesal?
Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana serunya liburan mereka nanti. Toh, masalah ulangan kan bisa dipikirkan nanti-nanti.
"Sasuke-kun," panggil Sakura mengejar Sasuke yang sedang berjalan menuju rumahnya. Sasuke berhenti berjalan; menunggu Sakura dapat menghampirinya. "Kapan kita bisa berangkat ke Iwagakure dan mencari hutannya?" tanya Sakura antusias. Sungguh, ini pertama kali baginya pergi berdua dengan sang kekasih ke tempat yang jauh.
"Entahlah. Secepatnya kalau bisa." jawab Sasuke dingin.
Sakura mengangguk mengerti. Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya ia kembali bersuara. "Lalu, yang membiayai kita disana siapa?" tanyanya cemas. Bagaimana kalau disana mereka harus bekerja supaya dapat makan? Atau.. bahkan tidak bisa pergi kesana? Kan gawat!
"Hn.." Sasuke bergumam sejenak. "Pakai saja tabungan kita masing-masing." jawabnya setelah terdiam sesaat. Yeah, sepertinya uang tabungannya sudah dapat terpakai sekarang.
Sakura kembali mengangguk. "Er.. Oke." jawabnya. Sebenarnya, ia berencana untuk memakai uang tabungannya untuk membeli sepeda. Dia lelah berjalan. Tapi, kalau keinginannya itu dibandingkan dengan nyawa Sasuke, jelas ia lebih memilih nyawa Sasuke!
"Aku sudah sampai," ucap Sasuke memecahkan keheningan yang sempat tercipta. "Sampai ketemu nanti." lanjutnya lalu masuk ke dalam rumahnya yang bergaya Jepang.
Sakura tersenyum sambil melambai kearah Sasuke. Ia menghela napas sejenak. Semoga saja perjalanannya nanti lancar dan diberkati oleh Tuhan.
888888888888
"Kak," panggil Sasuke saat kakaknya tengah mencuci piring di dapur. Yah, Ibu dan Ayah mereka memang bekerja sampai malam. Sehingga, mereka diharuskan dapat melakukan segala sesuatu sendiri. Termasuk mencuci piring sehabis makan.
Itachi yang masih sibuk dengan piring-piring yang dicucinya hanya bergumam singkat, "Hm?"
Sasuke terdiam sebentar. Apa iya kakaknya harus diberitahu bahwa ia akan pergi ke Iwagakure? Masih terdiam, Sasuke menarik kursi makan dan duduk disana sambil memperhatikan kakaknya.
"Hei, bicara! Aku sudah siap mendengarkan daritadi!" Itachi menegur Sasuke yang hanya bergumam kecil. "Baiklah~ Ada masalah dengan Sakura?" tanya kakaknya menebak. Yeah, bagi Itachi, menebak jauh lebih baik daripada menunggu.
"Hm. Sepertinya bukan," jawab Sasuke singkat. Itachi pun menunggu kelanjutan kata dari Sasuke. "Aku.. Aku dan Sakura akan berlibur ke Iwagakure dengan tabungan kami masing-masing.." ujar Sasuke memberitahu.
"Berlibur, eh?" tanya Itachi sambil berbalik; selesai mencuci piringnya. "Kurasa itu ide yang bagus. Melihat keadaan mentalmu yang sedikit aneh saat ini," komentar Itachi. "Tapi.. kenapa harus dengan Sakura? Aku bisa menemanimu!" lanjutnya curiga.
"Ja.. Jangan!" cegah Sasuke dengan muka sedikit kesal. Kemudian ia menunduk mencari alasan yang tepat. Dan mukanya memerah saat dia sudah menemukan alasan itu. "Aku.. hanya ingin berduaan dengan Sakura.." jawabnya.
Itachi tersenyum menyeringai. Berjalan pelan menuju Sasuke dan menepuk pundaknya pelan. "Adik-ku rupanya sudah besar ya. Baiklah, aku akan mengizinkanmu! Tapi masih ada satu syarat lagi!" ujarnya membuat Sasuke menengadah.
"Apa?" tanyanya heran. Dia pikir bicara dengan Itachi dan memberi alasan sudah cukup.
"Kau harus minta izin dengan ayah dan ibu! Kau pikir aku orang tuamu?" marah Itachi. Tapi, perilaku Itachi yang seperti itu tidak sepenuhnya dibilang marah. Karena setelah itu ia tertawa dan juga tersenyum jenaka.
Sasuke tersenyum kecil. "Tentu saja, Kak."
888888888
"Ibu, liburan musim panas ini aku dan Sasuke mau berlibur ke Iwagakure. Bolehkah?" tanya Sakura disela-sela makannya. Matanya yang indah bersinar penuh harap.
"Iwagakure? Itu kan tempat yang jauh, nak. Kau yakin bisa melindungi dirimu disana?" tanya Ibu Sakura khawatir. Tentu saja, sebagai orang tua, siapa yang tidak khawatir anaknya akan pergi jauh?
"Kan, ada Sasuke, Bu." jawab Sakura mengelak. Dia kembali mengeluarkan jurus mata memelasnya. Atau biasa disebut puppy eyes.
"Ya, ya. Baiklah." Ibu Sakura menyerah dengan jurus anaknya yang satu itu. Ia sungguh tidak tega melihat anaknya sedih. Toh, ada Sasuke yang bisa menjaga Sakura disana. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semoga saja Sasuke bisa diharapkan.
"Terima kasih, Ibu! Ibu cantik deh~" rayu Sakura tersenyum lebar.
88888888888
Keesokan harinya, Sasuke berinisiatif untuk mendatangi rumah Sakura dan memberitahu bahwa mereka akan pergi tidak lama lagi. Yah, mungkin besok atau lusa. Dengan sepedanya, ia mulai bersepeda ke rumah Sakura.
CKITT!
Dengan tiba-tiba Sasuke memberhentikan sepedanya. Kepalanya tiba-tiba saja pusing. Di depannya, terlihat sesosok manusia yang berjalan sambil memegang kepala yang telah terpisah dari tubuhnya. Dan sosok itu seakan berkata "Baca buku itu.. baca buku itu sampai habis.. baca.."
Sasuke memegangi kepalanya sambil menutup mata. Membuat sosok itu tak tampak di depan matanya.
"Sasuke!" Sakura segera berlari kearah Sasuke yang badannya sudah limbung. Dengan bergegas, Sakura membopong Sakura menuju rumahnya.
Sakura menduduk-kan Sasuke di sofanya. Dan membiarkan pemuda itu bersandar di merah yang empuk. "Sasuke, ada apa?" tanya Sakura berhati-hati.
Sasuke merasa mulai tenang karena tidak melihat sosok tadi di depannya. "Tadi.. aku melihat hal yang menyeramkan sekali.." jawabnya dengan suara bergetar.
"Mengerikan?" tanya Sakura. Tapi, ia tidak mau fokus akan hal itu. "Tapi, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sakura lagi.
Sasuke mengangguk. "Iya. Aku ingin beritahu padamu bahwa besok atau lusa kita akan pergi ke Iwagakure." jawab Sasuke. Perasaannya sudah mulai tenang. Sakit kepalanya pun sudah mulai reda.
"Oh, begitukah? Baik. Atur saja sesukamu." ujar Sakura tersenyum.
"Mungkin lebih baik aku pulang sekarang. Maaf merepotkan." Sasuke berdiri dan berbalik kearah pintu keluar. Dengan sigap, ia mengambil sepedanya dan mengayuhnya sampai rumah.
8888888888
Lusa pun datang dengan begitu cepat. Sakura dan Sasuke tengah berada di stasiun kereta dengan Kurenai dan Ino yang mengantar mereka.
Kurenai menepuk pundak Sasuke pelan. "Hati-hati, nak. Petualanganmu kali ini bukanlah petualangan biasa. Jika ada yang salah, maka nyawamulah taruhannya." nasihat Kurenai.
"Baik. Akan kuingat pesanmu." jawab Sasuke singkat. Dalam hatinya ada perasaan takut, tapi di sisi lain, ada juga keinginan untuk memusnahkan buku laknat itu.
"Sakura, berjanjilah kau akan kembali lagi dengan selamat!" Ino memeluk Sakura sambil berlinangan air mata. Ia sangat berat melepas kepergian sahabatnya. Karena mungkin, setelah ini ia tidak akan bertemu lagi dengan Sakura.
"Iya, Ino. Kau jaga dirimu baik-baik ya?" Sakura membalas ucapan Ino. Dan Ino hanya mengangguk masih sambil berlinangan air mata.
"Kalian ini berlebihan." Kurenai memotong drama antara kedua sahabat itu, kemudian memalingkan wajah kearah Sasuke dan Sakura. "Lebih baik kalian cepat naik ke kereta. Jangan sampai terlambat untuk misi penting." Kurenai memberitahu.
Sasuke dan Sakura mengangguk. Dan mereka pun berjalan pasti menuju kereta.
88888888
Perjalanan di kereta berlangsung lancar tanpa hambatan. Menurut perkiraan, mereka akan sampai di Iwagakure setelah perjalanan dua hari, dua malam. Tapi, kereta bisa jalan lebih cepat maupun lebih lambat dari perkiraan.
Sakura telah tertidur di kursinya. Wajahnya terlihat sangat lelah namun damai. Di tangannya, ia memegang jaket merah muda yang terlipat asal-asalan.
Sasuke mengambil HP-nya dan mulai mengotak-atik apa saja yang ada di dalamnya. Sebenarnya, ini hanya salah satu cara untuk menghilangkan rasa bosan. Dengan maksud iseng, ia membuka kamera HP-nya dan mengarahkannya ke Sakura yang tengah tertidur pulas. Ia sempat tertawa pelan sebelum akhirnya berhasil memotret Sakura.
Hasil dari jepretannya ternyata tidak buruk. Yah, posisi, cahaya, background, semuanya sangat pas. Mengesankan indah pada pandangan pertama. Tapi ada satu hal yang ganjil. Sakura memang tengah tidur bersandar pada jendela, dan tidak ada yang ganjil dalam hal itu. Yang bikin ganjil dalam foto itu adalah ukiran dari darah yang terdapat di jendela.
Kejadian yang pernah terjadi padanya kembali terulang. Untuk memastikan, Sasuke pun men-zoom foto tersebut pada daerah jendela. Tulisan "Aku menunggumu" kembali terukir. Dan itu sukses membuat Sasuke ketakutan.
Kembali memastikan, Sasuke mengalihkan pandangannya menuju jendela di dekat Sakura. Dan, tidak terdapat apa-apa disana. Yah, selain goresan-goresan kecil bekas tangan manusia. Bukan goresan darah. Dan tak ada ukiran dengan kalimat itu.
Sasuke menghela nafas tenang. Sepertinya, hal seperti tadi akan berlangsung sampai setidaknya buku itu berhasil mereka bakar.
8888888888
Malam pun tiba. Kereta mulai berjalan lambat. Dan selanjutnya berhenti. Itu menandakan bahwa mereka sudah berada di Iwagakure. Tempat tujuan mereka.
Sasuke dan Sakura membereskan barang bawaan mereka dan mulai turun dari kereta itu. Awalnya mereka bingung dengan suasana stasiun yang ramai. Namun, lambat laun stasiun mulai sepi dan akhirnya mereka bisa menemukan jalan keluar dari stasiun itu.
"Jadi, ini tempatnya?" tanya Sakura melihat ke sekeliling. Hari sudah sangat larut saat mereka telah berada diluar stasiun. Berjalan tak pasti melintasi jalan demi jalan. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk berkemah di tempat itu. Sasuke dan Sakura mencari tempat yang nyaman untuk ditinggali dan segera membuat tenda. Untung mereka sudah belajar tentang hal ini di pramuka.
Sakura merebahkan badannya di dalam tenda. Sendirian tentunya, Sasuke tidur diluar sekaligus melindungi Sakura dari segala apapun yang terjadi.
88888888
Kesunyian malam membuat Sasuke sedikit mengantuk. Ia memeluk kedua kakinya; untuk mencegah dari hawa dingin, dan mulai bersiap untuk tidur sebelum sebuah suara menganggetkannya.
SREKK!
Sasuke menengok ke semak-semak di sampingnya. Kemudian Sasuke terkejut. Setelah ia memutuskan untuk mendirikan tenda disana, ia sama sekali tidak menyadari bahwa HUTAN IWAGAKURE berada tepat DISAMPINGNYA.
Dengan segera, Sasuke memasuki tenda dan mengguncang-guncang tubuh Sakura yang hampir tertidur. "Sakura! Sakura!" panggil Sasuke tak sabaran.
Sakura menggeliat sebentar dan terbangun. "Ada apa, Sasuke?" tanya Sakura heran. Tidak biasanya Sasuke bersikap seperti itu padanya.
"Aku sudah menemukan hutan Iwagakure!" Sasuke membertahu Sakura dengan antusias. Sakura terkejut. Semudah itukah mereka menemukan hutan Iwagakure? Ternyata do'anya didengar oleh Tuhan. "Mana buku itu sekarang?" tanya Sasuke lagi.
Sakura mengaduk-aduk tasnya. Mukanya yang cerah perlahan-lahan berubah menjadi suram. Perasaannya mulai tak enak akan hal ini. "Sepertinya.. buku itu.. hilang." ucap Sakura terpotong-potong.
"APA?" Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa ia selamat kalau begini caranya?
"Sepertinya terjatuh saat kita mendirikan tenda. Karena posisi kita yang berubah-ubah, pasti menyebabkan buku itu jatuh ke tanah. Dan perkiraanku, buku itu pasti masih ada di sekitar sini." ujar Sakura memberitahu apa yang ada di pikirannya.
Sasuke segera menuju keluar tenda untuk mencari buku itu. Begitu pula Sakura. Tapi, saat ia hendak menuju keluar tanda, sebuah benda tajam tertancap di kakinya.
"Pa.. Paku?" tanya Sakura bergetar diantara takut dan rasa sakit. Ia yakin sekali tadi bahwa tidak ada benda tajam dalam bentuk apapun disini. Ia pun tidak membawanya. Tapi kenapa bisa ada paku?
Sakura mencabut paku itu. Karena bagaimana pun, kuman atau bakteri yang terdapat di paku itu bisa mencemari darahnya. Akibatnya ya infeksi. Setelah dicabut, ia; yang juga seorang dokter kecil di sekolahnya, mulai menutup lukai bekas paku itu dengan kain.
To Be Continue..

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.