English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Jumat, 16 Desember 2011

-Hide And Seek- (Part 4)

Padahal ia sudah memastikan untuk membuka semua kunci rumah itu! Ia yakin sekali kalau semua pintu dalam keadaan tidak terkunci terakhir ia memeriksanya sebelum Ichigo masuk dan memulai permainan! Kecuali…kecuali ada yang-
"Kurosaki-kun! Apa yang terjadi?" Orihime berseru panik.
Tidak terdengar teriakan Ichigo lagi.
"Mungkinkah si bodoh itu menipu kita?" bisik Tatsuki lirih.
"Tidak mungkin! Ada sesuatu yang terjadi didalam sana!" Semua pintu dan jendela terkunci. Kurosaki terkurung di dalam rumah itu dan sedang bermain petak umpet dengan sesuatu. Tidak. Bahkan mungkin sudah bukan petak umpet lagi.
Ia yang menantang Ichigo melakukan permainan ini. Ia yang akan bertanggung jawab.
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah masuk ke dalam sana!" kata Uryuu. Ia melangkah mundur diiringi tatapan heran dari teman-teman sekelasnya. Ia mengambil napas dan berlari dengan cepat.
Prang~!
Keigo dan yang lainnya hanya melongo melihat aksinya barusan.
Jendela kaca besar yang menuju ke kamar tempat Ichigo bersembunyi berhasil ia pecahkan. Ia mendarat di atas serpihan-serpihan kaca dan melukai dirinya sendiri. Meringis menahan sakit, ia segera bangkit dan berlari ke dalam rumah. "Ichigo!"
Sunyi dan sepi yang mencekam di dalam sini. Ia tidak lagi dapat mendengar suara-suara dari luar. Atmosfernya begitu berat membuatnya kesulitan bernapas. Sesuatu macam apa yang sudah merasuk ke dalam boneka bermata hijau itu?
"Ichigo!" Ini adalah kali ketiga ia meneriakkan nama depan orang yang selalu berselisih dengannya tanpa sadar. Kalau tidak dalam keadaan panik, ia mungkin akan memotong lidahnya sendiri karena meneriakkan nama itu dengan begitu mudahnya. "Ichi-"
Di hadapannya, tampak si Tuan Hijau dalam ukuran yang sebenarnya sedang mencengkeram leher Ichigo kuat-kuat hanya dengan tangan kirinya. Ujung kaki pemuda berambut oranye itu tidak menyentuh lantai, kakinya berayun-ayun dengan gusar.
Perlahan si Tuan Hijau menolehkan kepalanya ke arah Uryuu. Sepasang mata hijau emerald dengan tatapan kosong itu bertemu pandang dengan sepasang mata biru kobalt Uryuu yang membulat. "Kau mau ikut bermain?"
Uryuu menahan napas melihat pisau lipat yang tergenggam di tangan kanan makhluk itu.
"Aargh!" Tuan Hijau menghempaskan tubuh Ichigo ke dinding di belakangnya dan melepasnya jatuh. Pemuda itu langsung terbatuk-batuk, memegangi lehernya.
Makhluk itu mendekat perlahan. Ia tidak berjalan. Kakinya tidak menapak lantai. Ia- terbang.
"Kau tahu aturan mainnya lebih dari siapa pun. Hanya ada satu pemain di sini, Uryuu ."
Sepasang mata biru itu membelalak. Bagaimana hantu itu bisa tahu namanya?
Sosok putih itu terbang semakin dekat dengannya, sementara ia tidak bisa menggerakkan anggota badannya sama sekali. Ia terpaku di tempat. Tuan Hijau itu sekarang berdiri tepat di belakangnya. Kehampaan yang bisa ia rasakan. Hollow. Membuat seluruh tubuhnya gemetar. Ia berkeringat dingin. Tubuhnya masih belum bisa digerakkan juga. Atau ia hanya merasa sangat ketakutan?
Ia berbisik, "Sudah lama kita tidak main petak umpet." Suaranya begitu kosong.
Petak umpet?
Jangan-jangan…
"Kau tidak lupa padaku yang selalu menemanimu bermain kan, Uryuu ?"
Roh yang sama dengan dulu? Tapi ia sudah berhenti bermain petak umpet sejak berusia 8 tahun dan itu artinya sembilan tahun yang lalu. Dia masih saja bergentayangan?
Di sela-sela batuknya, Ichigo melihat ke arah Uryuu yang berdiri terpaku. Badannya gemetaran. Terlihat begitu jelas. Tentu saja, ia juga akan seperti itu jika ada roh yang bisa membunuh berdiri tepat di belakangnya.
"Tunggu di sini. Aku akan mengakhiri permainanku dengan anak itu. Lalu kita dapat bermain petak umpet bersama." Ia terbang menuju Ichigo, menghunus pisau lipat yang berkilauan memantulkan cahaya dari api biru kompor yang masih menyala.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Badannya masih terlalu lemas.
Si Tuan Hijau terus mendekat. "Aku yang menang." Ia mengangkat pisau lipat itu, menirukan gerakan Ichigo ketika menusuk tubuh boneka dan-
"Aargh!"
"U-Uryuu!" Pemuda berambut hitam itu jatuh berlutut sambil memegangi perutnya. Darah merah pekat merebak, begitu kontras dengan jaket putih yang ia kenakan.
"Lari, Ichigo! Aakh!" Si Tuan Hijau mencabut pisaunya. Ia terlihat tidak senang.Mata hijau emerald yang tadinya kosong itu kini berkilat-kilat.
Kekuatan itu datangnya saat kau terpojok dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi kuat!
"Ayo!" Ichigo menggendong Uryuu di kedua lengannya dan membawanya berlari secepat kilat dari tempat itu. Ia tidak tahu apakah yang akan ia lakukan benar atau tidak, tapi tidak ada salahnya mencoba. Ia tidak mungkin membiarkan mereka berdua terbunuh oleh roh. Kematian yang sangat konyol kalau sampai hal itu terjadi.
Ia berhenti di kamar tempat persembunyiannya tadi.
"Hh-hh-h-…" Ia membungkam mulut Uryuu yang merintih kesakitan. Mendapat tusukan di perut memang bukan hal yang dapat membuatmu tutup mulut dan meneruskan permainan petak umpet dengan tenang.
Sembunyi, tapi jangan lari. Jangan coba-coba lari dari permainan ini. Atau kau akan mati.

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.