Disclaimer:
Naruto by Masashi Kishimoto
Enjoy Read!
# + # + # + #
"Katakan, cheese!" gadis bercepol dua menekan tombol 'potret' pada kameranya. Mengabadikan momen terindah di masa liburan musim panas bersama teman-teman dengan mendaki gunung. Empat belas kawan lainnya berlomba menampilkan wajah ternarsis dan tergokil. Memang menyenangkan jika kita berpergian bersama teman-teman sejawat."Tenten sekali lagi! Kita bersama-sama. Gunakan tombol otomatis!" Sakura berteriak dari tempat lokasi. Tenten sang fotografer cepat-cepat menekan tombol otomatis dengan waktu sepuluh detik. Dan berlari menuju tempat mereka berkumpul kemudian memasang wajah narsis.
'JEPRET'
# + # + # + #
Seminggu berlalu semenjak hari pertama berakhirnya musim panas. Tak ada lagi libur panjang. Tak ada lagi bersenang-senang. Tak ada lagi kursi pantai. Tak ada lagi tidur siang. Semua kembali pada aktivitas sebelumnya. Bersekolah. Mengerjakan PR. Kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain. Begitu juga dengan bocah-bocah dari Konoha High School yang beberapa minggu lalu bertamasya mendaki gunung di Iwa. Menyenangkan namun melelahkan. Hari ini Tenten –sang fotografer, akan mencetak foto-foto yang diambil di sana.Ada banyak sekali foto yang akan dicetak. Dari foto-foto keren, narsis, gokil, lucu, sampai dengan foto tak penting. Namun tak masalah, dengan melihat foto itu akan membuat kita mengenang kejadian menyenangkan itu.
Esoknya, Tenten heboh sambil membawa setumpuk lembaran foto yang telah dicetak. Niatnya setelah bel tanda istirahat berbunyi mereka akan melihat bersama-sama hasil karya 'wajah unik' mereka. Karena kelas mereka berbeda-beda, jadi mereka tak dapat bersama menikmatinya. Walaupun kini berbeda tapi pernah melalui masa satu kelas ketika masih kelas satu SMA. Yang kini telah beranjak ke kelas dua.
"Istirahat nanti anak-anak G-Team ke atap ya." Sakura mengusulkan. G-Team, itulah julukan tim mereka. Aneh memang, tapi mau diapakan lagi. Berhubung mereka pernah satu kelas di kelas G. Jadinya G-Team saja.
"Ng, Sakura, sepertinya anggota kita tidak bisa full." Kiba yang baru saja datang memberitahu diikuti dengan tatapan 'kenapa' dari Sakura, Tenten dan Ino. Kiba menjelaskan. "Barusan aku dari kelas Shikamaru, katanya sudah tiga hari ini Temari tidak masuk dan dia masuk Rumah Sakit."
"Apa? Dia sakit? Kenapa tidak bilang?" Ten Ten yang dulu berpredikat 'teman sebangku Temari yang tak pernah lepas dari Temari' langsung khawatir dan nyrocos tanpa henti. Kiba ingin sekali menyumpal mulut Tenten dengan uwabaki kalau saja Neji –pacar Tenten tidak lewat diantara mereka.
"Aku juga tidak tahu. Shikamaru 'kan jarang keluar." Ucap Kiba.
"Tanyakan saja seka—" Niat Sakura begitu.
'KRIINGG'
"—rang" tapi bel tanda masuk jam pertama telah berbunyi. Dan mereka mengakhiri perbincangan dan segera masuk kelas.
Jam pelajaran ketiga telah usai. Waktunya istirahat tiba. Sensei segera mengakhiri pelajaran diikuti hamburnya anak-anak ke luar kelas.
Sakura, Tenten, Sasuke dan Kiba yang satu kelas segera keluar dan menuju kelas Shikamaru dan Temari. Namun, belum sempat mereka sampai pintu, Tenten mencegah.
"Tunggu!" Semuanya menoleh.
"Ada apa Tenten?" Sakura menghampiri Tenten. Tangannya menggenggam selembar foto yang berisikan anak-anak G-Team. Tubuhnya gemetar. Matanya memucat. "Ada apa sih?" Sakura mengamati foto yang Tenten amati sejak tadi. Karena penasaran, semuanya pun ikut mendekat.
"Lihatlah foto ini." Tenten akhirnya bicara. Semuanya lantas mengarahkan pandangan ke tempat yang Tenten tunjukkan. Lekat-lekat. Hingga bola mata hampir lepas dari rongganya. Oke lupakan. Too lebay. Kiba menggaruk belakang kepalanya. Bingung. Tak ada yang ia lihat. Yang ada hanyalah anak-anak G-Team yang bernarsis ria tanpa gerakan –tentu saja karena itu foto biasa bukan foto dalam dunia Harry Potter yang dapat bergerak.
"Lihat baik-baik! Pada bahu kiri Temari." Perintah Tenten. Tiga pasang mata kembali mengamati. Setelah diamati betul, memang ada yang mengganjal.
"Ini..?" Sasuke berusaha berucap namun tak bisa.
"Benar Sasuke, seseorang sedang menepuk pundak Temari. Padahal posisi Temari tepat di pojok kiri bagian depan." Tenten menerangkan. Gadis cepol itu kembali mengamati foto temannya yang mengganjal itu. Foto narsis Temari. Senyumnya yang memperlihatkan gigi putihnya dengan kedua tangan membentuk huruf 'V' dengan jari telunjuk dan jari tengah.
"Bisa saja itu tangan Shikamaru. Dia 'kan di sebelah Temari." Kata Kiba tak percaya.
"Tidak, bukan!" Sasuke menyalahkan pernyataan Kiba. Alis Kiba menyatu. Bingung. Sasuke segera membenarkan, "Lihat baik-baik tangan Shikamaru, kedua tangannya berada di saku celana. Mana mungkin bisa berada di bahu Temari." Laki-laki rambut raven itu menunjuk pada kedua tangan Shikamaru.
"Kalau begitu mungkin tanganmu Tenten, kau 'kan tepat di belakangnya." Cerocos Kiba asal. Tanpa memperhatikan fakta.
"Bukan, baka!" Tenten membenarkan, "Kedua tanganku sedang memeluk lengan Neji, mana sempat aku menepuk pundak Temari."
"He? Jadi itu tangan siapa?"
Hening.
Semua saling pandang.
Wajah mereka memucat.
"Jangan-jangan—" Kiba menatap Sakura.
"Itu—" Sakura yang ditatap horor oleh Kiba malah menatap Tenten.
"Hantu." Tenten balik menatap Sakura.
"Baka. Mana mungkin jaman sekarang ada hantu." Sasuke tetap bersikap staycool.
"Tunggu!" Kiba merebut foto itu dari genggaman Tenten. "Jangan-jangan Temari tidak masuk gara-gara tangan misterius ini." Pernyataan asal –yang sebenarnya kenyataan, keluar kembali dari mulut si pecinta anjing.
"Kau ini bodoh apa? Mana mungkin." Sakura mengibaskan tangannya di depan wajah Kiba dengan senyum mengejek.
"Aku serius, Sakura!" bentak Kiba. Wajahnya mulai serius. Sakura jadi ciut nyali. Gadis pink itu langsung diam. " Teman ayahku pernah mengalami hal serupa. Dalam foto reuninya seperti ada seseorang yang menepuk pundaknya. Tak lama setelahnya, orang itu sakit dan tak lama ia meninggal."
"KYAA!" Sakura berteriak histeris. "Kiba! Jangan membuatku merinding!" Sakura reflek memeluk Sasuke.
"Aku serius. Ini mungkin ada hubungannya dengan penyakit Temari. Kita harus segera menolong—"
"Apa yang kau maksud dengan penyakit Temari? Hubungan apa?" seseorang menghentikan acara cerita seram empat orang itu. Shikamaru tiba-tiba saja datang.
"Shikamaru, kenapa kau ke sini?"
"Jawab dulu pertanyaanku! Ada apa dengan Temari?" Shikamaru mulai murka. Firasat bahwa ia mendengarkan semua ucapan Kiba, Tenten, Sakura dan Sasuke.
"Ng.. ano, Shikamaru, sebenarnya—" Tenten menjelaskan semuanya.
# + # + # + #
Sepulang sekolah, sebagian anak G-Team akan menengok Temari di Konoha Hospital. Karena sebagian anak ada urusan pribadi, jadi hanya beberapa yang menengok. Lumayanlah supaya tidak merepotkan kalau seluruh kelas rombongan menjenguk satu orang. Shikamaru, Sasuke, Sakura, Tenten, Kiba dan Neji tiba di depan gerbang rumah sakit. Besar namun terlihat menyeramkan. Karena memang bangunannya sudah tua dan kuno.Sakura sudah merinding dibuatnya. Tapi demi Temari, ia memaksakan masuk. Ruang rawat Temari terletak di lantak dua. Kamarnya terisi enam tempat tidur, empat dihuni dan sisanya kosong. Sesampainya mereka disambut oleh Gaara dan Kankurou. Sakura meletakkan sepaket buah-buahan di meja dekat tempat tidur Temari. Sementara Tenten meletakkan beberapa tangkai bunga dalam sebuah vas. Setelah itu mereka mengobrol bersama.
"Kau tidak apa-apa 'kan Temari?" Sakura membuka obrolan. Temari tersenyum dan menggeleng pelan kemudian menjawab, "Tak apa-apa kok, mungkin demam." Jawab Temari, wajahnya agak pucat.
"Benar tak apa? Kau selalu ceria dan jarang sekali sakit, baru kali ini." Sambung Tenten yang ucapannya terdengar menyindir secara tak sadar.
"Memangnya ada orang yang tak pernah sakit?"
Lelucon dan candaan tawa pun menghiasi sore hari Temari.
Sementara itu.
"Apa? Dokter pun tak tahu penyakit yang diderita Temari?" Shikamaru begitu kaget setelah mendengar penjelasan dari Gaara mengenai penyakit Temari.
"Ya, semakin hari kondisinya makin lemah. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi kuharap ia baik-baik saja." Gaara memandang kakak perempuannya yang tertawa bahagia dari celah pintu.
"Ya, kuharap juga begitu." Shikamaru ikut memandang kekasihnya.
# + # + # + #
Kelas XI-3 begitu ramai. Ramai karena teriakan histeris dari seorang Sakura. Tenten yang telah mengetahui sesuatu mencoba untuk tetap tenang. Kiba dan Sasuke pun demikian."Tidak mungkin! Ini pasti mimpi!" Sakura kembali berteriak histeris.
"Tenangkan dirimu Sakura!" Sasuke duduk di samping Sakura dan memeluk gadis pink itu. Badannya sedikit gemetar.
"Bagaimana aku bisa tenang Sasuke? Kau tak lihat ini?" Sakura melepaskan pelukan, merebut selembar kertas –foto- dari tangan Tenten dan memperlihatkannya pada Sasuke, seolah Sasuke belum tahu apa yang sedang terjadi.
"Aku tahu, Sakura." Sasuke tetap mencoba bersikap tenang, walaupun dalam kondisi seperti ini.
"Sakura, Sasuke, Tenten, Kiba, gawat! Temari kritis!" Gaara tiba-tiba masuk ke kelas XI-3 tanpa permisi dan dengan sangat tidak sopan: berteriak. Keempat orang yang dipanggil menoleh dan berlari bersamaan mengejar Gaara yang akan menuju kelas Shikamaru: memberitahunya hal penting nan gawat. Walaupun Gaara dan Kankurou sempat menentang hubungan Temari dengan Shikamaru, tapi karena suatu hal, Gaara dan Kankurou pun menyetujui hubungan mereka, bahkan Shikamaru menjadi kepercayaan Gaara untuk senantiasa menjaga Temari.
Mereka terlalu terburu-buru hingga melupakan selembar potret diri mereka bersama orang tersayang tergeletak begitu saja di meja Tenten. Potret diri Temari khususnya. 'Tangan' aneh yang sebelumnya hanya menepuk pundak Temari kini berubah posisi. Sebagian tangan –dari jemari hingga siku- 'orang' itu seperti sedang memeluk Temari dari belakang.
'Ia' hampir menunjukkan sosok aslinya.
# + # + # + #
"Temari baik-baik saja. Dia sedang tidur saat ini. Tapi, kami akan segera memeriksa penyakit apa yang dideritanya." Dokter mengatakan hal yang sangat ditunggu oleh mereka. Mengatakan bahwa kondisi Temari memang baik-baik saja. Sehat walafiat."Terima kasih, dok." Gaara dan Shikamaru segera berpamitan dan keluar dari ruangan dokter kemudian menuju tempat Temari yang sedang terlelap.
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, kondisinya makin melemah tiap hari." Gaara menjelaskan sebelum teman-temannya mengoceh macam-macam.
"Sepertinya benar kata Kiba, penyakit Temari ada hubungannya dengan 'tangan' itu." Shikamaru mengemukaan pendapatnya. "Kiba, Sasuke, Sakura, Tenten, kalian ikut aku ke gunung Iwa." Shikamaru mengabsen satu per satu temannya. Yang dipanggil mengangguk setuju. "Sementara Gaara menjaga Temari di sini." Lelaki nanas itu memalingkan kepalanya pada si bungsu Sabaku. Menandakan ia percayakan sepenuhnya si sulung Sabaku pada si bungsu. Gaara mengangguk setuju. "Hal merepotkan mulai terjadi." Gumam Shikamaru sebelum pergi.
"Aku percayakan padamu, Shikamaru."
# + # + # + #
Siang menjelang sore, ketika Shikamaru dan kawan-kawan tiba di tempat tujuan. Dengan menumpang mobil Sasuke tentunya. Walaupun sempat terjebak macet selama 30 menit."Jadi di sini?" Shikamaru mengamati keadaan sekitar. Tak ada yang berubah semenjak terakhir kali menginjakkan tempat ini. Hanya saja tanah pijakan begitu becek akibat hujan semalam. Semuanya berpencar. Mencari hal yang berbau mistis.
"Hei, kalian merasa bau dupa tidak?" Sakura mengendus seperti anjing pelacak. Memang rasa-rasanya bau dupa. Tapi, dari mana asalnya. Ditelusurilah misteri itu.
"Anak muda, sedang apa di sini?" seorang wanita paruh baya menyapa. Tangannya membawa sepaket err –seperti sesaji lengkap dengan dupanya yang menyengat. Pakaiannya masih sangat tradisional. Mungkin penduduk sekitar.
"Eng, kami—"
"Lebih baik segera pulang, hari mulai gelap. Berbahaya malam-malam di tengah hutan begitu." Sarannya. Perkataannya penuh misteri. Wanita itu meletakkan sesaji tadi di depan sebuah batu kecil yang berdiri bersama bunga yang berserakan di sekitarnya. Lokasinya tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.
"Em, Anda sendiri sedang apa?" tanya Sasuke penasaran.
"Aku sedang memperingati kematian putriku." Wanita itu duduk simpuh di depan batu itu dengan kedua tangan mengatup di depan dada. Kepalanya menunduk. Matanya terpejam. Hening. Khusyuk berdoa. Usai berdoa, wanita itu berdiri.
"Apa ini makam putrimu?" Shikamaru segera mengajukan pertanyaan. Seharusnya tanpa bertanya ia sudah bisa menebak. Tapi, hanya untuk memastikan saja.
"Mampirlah ke rumahku. Tak jauh dari sini." Wanita itu menunjuk sebuah atap rumah di antara rimbunan pepohonan. Lima anak itu saling pandang. Bingung. Akhirnya sepakat menyetujui tawaran si wanita.
# + # + # + #
"Jadi, Mashiro-san, Akira-san itu putri anda yang dimakamkan di hutan tadi?" Sakura meneguk secangkir teh hijau hangat sajian Mashiro Misao –wanita itu. Rumahnya begitu tenang dan damai. Bergaya khas Jepang yang rapi dan indah."Benar." Mashiro-san meletakkan secangkir teh terakhir di depan Tenten. Kemudian melanjutkan cerita. "Dia putriku satu-satunya. Dia sangat cantik dan ceria." Mashiro-san menoleh ke belakang, tempat dimana foto putrinya yang tersenyum manis bersama seorang pria.
"Lelaki di sebelahnya siapa?" Sakura menunjuk pada foto itu.
"Dia Motoki Kurosawa, tunangan putriku." Raut wajahnya berubah sedih. Teringat kejadian pahit yang sulit dilupakan. Ada rasa bersalah di dalam hati Sakura karena telah membuat orang yang baru dikenalnya sedih. "Ah, maaf, aku jadi teringat kembali." Raut wajahnya kembali seperti semula. Sempat membuat penasaran kelima anak itu untuk mendengarkan cerita dari ibu itu.
"Dua tahun lalu, di malam yang dingin karena hujan deras, Akira meninggal. Dia ditabrak mobil. Diduga sopir itu mabuk. Karena tak mau bertanggung jawab, ia membuang tubuh Akira yang berlumuran darah ke jurang dekat makam tadi. Dan hingga sekarang, mayatnya belum ditemukan." Mashiro-san mengambil tisu dan mengelapnya di sudut mata. Hampir saja terjatuh jika tak segera dilap. Ia pun melanjutkan, "Seminggu sebelum kematiannya, ia sudah bertunangan dengan Motoki dan sedang merencanakan pernikahan. Tapi semuanya gagal total. Motoki yang tak terima kematian tunangannya begitu tragis memilih menyusulnya tiga hari kemudian." Wanita itu kembali menyeka air matanya yang kini sudah jatuh di atas tatami.
"Tunggu. Apa yang dilakukan Akira pada malam itu?" tanya Sasuke.
"Dia sedang mencari cincin pertunangannya. Sewaktu berjalan-jalan bersama Motoki ia menjatuhkannya dengan tak sengaja karena memang cincin itu terlalu longgar untuk jari manisnya." Jawabnya. Kemudian menambahkan sedikit, "Akira sangat menyayangi cincin itu lebih dari nyawanya. Cincin yang begitu berharga baginya karena pemberian dari Motoki."
"Apa cincin itu sudah ketemu?" giliran Tenten yang bertanya.
"Aku juga tidak tahu."
'DRRTT DRRTT DRRTT'
Belum selesai bercerita. Iklan mengganggu. Handphone Shikamaru bergetar. Ada telepon. Ternyata dari adik Temari, Gaara. Buru-buru ia menekan tombol jawab dan meletakkannya di telinga kanan.
"Halo, Gaara? Ada ap—Apa?" Shikamaru berteriak lantang dan histeris. Membuat temannya yang menyaksikan makin penasaran dengan pembicaraan antara Gaara dan Shikamaru. "Oke oke. Aku mengerti. Aku segera ke sana. Tut tut—" Shikamaru mengakhiri pembicaraan dan memasukkan kembali handphonenya ke saku.
"Kita kembali ke rumah sakit. Temari kritis. Sekarang akan dibawa ke UGD!" Shikamaru segera memberitahu. Dan buru-buru berpamitan dengan Mashiro-san dan melesat menuju rumah sakit. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke rumah sakit dengan super kilat: ngebut. Sekali mengumpat karena lampu merah. Coba saja kalau mereka naik mobil ambulans, memotong lampu merah pun aman.
Tanpa permisi mereka berlari menyusul Temari. Tempat tidur Temari dibawa menuju ruangan yang mengerikan. Unit Gawat Darurat. Kawannya sang infus pun senantiasa menemani. Suster dan dokter panik. Apalagi keluarga dan temannya. Temari tiba-tiba sesak napas. Suara napasnya yang memekik pun terdengar. Badannya panas tinggi. Berat badannya menurun. Hal yang tak biasa dialaminya.
"Temari, bertahanlah!" Shikamaru menggenggam tangan Temari yang tak berdaya sembari menjajari laju dorongan tempat tidurnya oleh para suster.
"Nee-chan.." Gaara dan Kankurou ikut memberi dukungan pada kakak perempuannya untuk tetap kuat. Begitu juga dengan mereka yang menyusul di belakang. Perjalanan hampir usai. Ruangan yang dituju telah tiba. Dokter yang merawat Temari membuka dua daun pintu ruangan.
Dan Shikamaru jelas 'melihatnya'. 'Orang' yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum sinis. 'Ia' mengangkat wajahnya yang telah rusak dan tak berbentuk. Rambutnya yang putih sudah menipis dan kusut. Bajunya berwarna putih kusam dan kotor compang-camping. Sangat mengerikan. Tiba-tiba ia menghilang ketika dua pintu itu sudah tertutup.
"Aku jelas-jelas melihatnya!" teriak Shikamaru lantang. Tak peduli dimana ia berada.
"Diamlah!" Sakura ikut berteriak. Gemas dengan ucapan Shikamaru sejak lampu UGD menyala yang hanya 'aku melihatnya. Aku melihatnya dengan jelas!'
"Kau tak mengerti. Akira! Dia di sini! Dia yang membuat Temari seperti ini!" Shikamaru juga gemas karena tak ada yang percaya.
"Aku mengerti, Shikamaru. Lihatlah!" Tenten menunjukkan selembar foto misterius itu. Kedua mata mereka membulat tak percaya. 'Sosok' itu benar-benar telah menampakkan aslinya. Kepalanya telah nampak. Kini menopang pundak Temari. Wajahnya sangat mirip dengan yang dilihat Shikamaru. Mashiro Akira.
"Kita harus kembali ke tempat tadi!" Shikamaru gusar. Ia menarik Sasuke dan mengatakan, "Pinjamkan mobilmu, gunakan kecepatan penuh!" Shikamaru mengenakan jaket, Sasuke berlari menuju parkiran mobil. "Gaara dan Kankurou menunggu di sini." Lelaki nanas itu menghampiri duo Sabaku dengan tatapan tolong-jaga-Temari! "Kita harus menolong Temari secepatnya!" katanya kemudian.
Kali ini tak butuh waktu lama untuk sampai. Tujuh menit cukup. Lebih cepat tiga menit. Sampailah di bukit Iwa. Hari telah malam, jalanan yang lenggang menguntungkan mereka. Secepatnya menuju lokasi kejadian.
"Tak ada waktu lagi, kita harus menemukan cincin Akira secepatnya!" Shikamaru mengeluarkan beberapa senter yang entah ia dapat darimana. "Dan segera mengembalikannya supaya arwahnya tenang di alam sana." Kini lelaki itu menyalakan satu-satunya alat penerangan di tempat itu. Mengarahkan ke tanah pijakan. Memutarnya kesana kemari. Mencari benda yang kira-kira masih berkilau.
Pencarian dilakukan tanpa peduli waktu. Asalkan cepat ketemu, Temari juga cepat terselamatkan. Itulah yang ada di benak Shikamaru.
'DRRTT DRRTTT DRRTTT'
Ponsel Shikamaru kembali bergetar. Shikamaru hampir saja mengutukinya kalau saja itu bukan dari Gaara. Cepat-cepat tombol 'jawab' ditekan dan diletakkan di daun telinga sebelah kanan. Sambil menyelam minum air. Tetap mencari sambil menelepon. Belum sempat Shikamaru mengatakan 'halo' sang penelepon sudah menyela.
"Shikamaru, GAWAT! Temari kabur dari rumah sakit!" Kini Kankurou yang menelepon, sementara Gaara terfokuskan pada jalanan di depan. Berusaha mengejar Temari yang entah kemana.
"APA? Bagaimana bisa?" Shikamaru kaget setengah mati. Bagaimana Temari bisa kabur sementara kondisinya masih lemah. Belum lagi keadaan sekitar juga tidak mendukung.
"Maaf, Shikamaru. Kami lengah." Sesal Kankurou.
"Oke oke. Aku juga akan mencari—"
"Shikamaru! Itu Temari!" Sakura berteriak. Senternya diarahkan pada seorang gadis pirang yang berjalan sendiri di tengah hutan, tanpa alas kaki, pakaian rumah sakit, dan –hei bagaimana ia bisa cepat sampai di tempat itu? Oh lupakan, yang penting adalah tujuan Temari berada di situ: jurang? Oh tidak! Akira butuh teman!
"—Sepertinya kami telah menemukannya. Kau segera ke bukit Iwa. Sekarang juga! Tut –tut –tut." Shikamaru memutus telepon tanpa permisi. Mengejar kekasihnya yang sedang dalam keadaan tak sadar. Shikamaru dan Kiba mengejar. Sementara yang lain tetap mencari benda penting itu. Tak ada cincin itu, tamatlah riwayat Temari. Sejujurnya target arwah Akira itu adalah cincin yang terlepas dari jari manisnya.
"Temari! Tunggu!" Shikamaru menarik lengan kanan Temari, Kiba menarik lengan kiri. Tapi, tarikan Kiba terlepas karena kakinya lebih dulu ditarik oleh arwah Akira.
'Jangan ganggu~' katanya datar. Kiba merinding dan tiba-tiba ia pingsan. Tapi arwah itu segera melayang pergi dan menarik lengan kiri Temari untuk lebih dekat menuju jurang yang gelap dan dalam. Shikamaru tetap bertahan. Tak mau kalah dengan hantu merepotkan ini. 'Lepaskan!' ucap arwah Akira.
"Cih, aku tak 'kan kalah dari hantu merepotkan macam kau!" Kau tak sadar Shikamaru, kau baru saja memancing amarah arwah penasaran itu. Ia murka. Wajahnya yang seram kini tambah seram. Arwah Akira menarik lengan Temari begitu keras sehingga Temari kini di ujung tanduk.
"Temari, sadarlah!" Percuma saja. Berteriak sampii pita suara tertelan pun Temari tak 'kan sadar. Ia telah terhipnotis oleh dunia Akira. Satu mili saja Temari bergeser, habislah sudah. Tenaga Shikamaru melemah. Namun, inilah kesempatan bagi arwah Akira untuk menarik lengan Temari. Dan –jatuhlah ia.
"TIDAK! TEMARI!"
Di tempat lain.
"Ayo cepat cari!" Sasuke berusaha mencari kesana kemari. Sia-sia. Tenaga hampir habis. Hasilnya pun nol. Namun, harapan muncul setelah Tenten berteriak, "Ini dia!" sambil mengacungkan benda berbentuk seperti donat kecil berwarna keemasan. Covernya sudah kotor terkena tanah.
Secepat kilat menuju tempat Shikamaru dan Kiba.
"Huf, hampir saja." Shikamaru membatin. Sebelum Temari terjatuh, tangannya diulurkan dan meraih tangan Temari. Keberuntungan berpihak padanya. Namun. Oh sial! Tangannya yang berkeringat membuatnya licin dan genggamannya perlahan terlepas. 'Oh, sial!'
Shikamaru hampir putus asa setelah sebuah teriakan.
"Kami telah menemukannya!" Tenten mengacungkan sebuah cincin sambil berlari. Disusul oleh dua temannya. Shikamaru menoleh kemudian tersenyum senang. Pencarian tidak sia-sia. "Cincin pertunanganmu yang sempat hilang." Tenten menyodorkan cincin itu di hadapan arwah Akira. Perasaannya dag-dig-dug. Jika salah tamat juga riwayatnya. Arwah Akira mengulurkan tangannya yang setengah tengkorak. Mengambil benda yang selama ini dicari.
'Cincinku. Cincinku.' Katanya seperti anak kecil yang diberi es krim. Kesempatanmu Shikamaru. Selamatkan Temari.
'Akira, sudahlah. Jangan kau ganggu lagi orang-orang tak berdosa itu. Mari kita kembali ke alam kita.' Arwah lain datang. Menjemput Akira. Dialah Motoki Kurosawa. Tunangan Akira yang meninggal menyusulnya. Akira meraih tangan Motoki dan segera terbang kembali ke dunianya sendiri. Dunia yang seharusnya mereka tinggali.
Kelopak mata Temari mulai terbuka ketika Shikamaru menyandarkan kepala Temari di lengan kanannya. Shikamaru kelelahan. Mengangkat tubuh Temari yang melayang di sisi jurang sungguh merepotkan.
"Shikamaru? Aku dimana?" kata Temari yang mulai sadar. Shikamaru sontak memeluk erat tubuh Temari.
"Untunglah kau tak apa-apa." Ucapnya dengan kelegaan luar biasa. Sasuke, Sakura dan Tenten menghampiri. Dan disaat yang sama, Gaara dan Kankurou baru saja tiba di TKP dengan napas terengah-engah.
"Kalian terlambat." Goda Sakura. Tenten menimpali, "Kalian tak akan menyangka apa yang barusan terjadi."
"Sialan! Mobil kami tiba-tiba mogok. Sementara tak ada bengkel di situ. Terpaksanya kami berlari sampai sini." Terang Kankurou. Menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan. Mengibaskan tangannya. Malam yang panas, pikirnya.
Temari dibawa kembali ke rumah sakit. Kondisinya makin membaik. Dua hari setelah kejadian ia keluar dari rumah sakit dan memulai aktivitasnya.
Misteri menyeramkan di gunung Iwa telah mereka pecahkan. Foto arwah Akira di belakang punggung Temari telah hilang semenjak kepergian Akira bersama Motoki. Ia sudah tenang dan bahagia di sana.
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.