Author : Melody-Cinta
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku. But this is only for complement the story. Because the main genre is horror/mystery
Genre : Like I said, Horror/Mystery
.
Summary : Buku memang biasa kita baca sampai habis. Tapi, ada satu buku yang tidak boleh kita baca sampai habis. Judulnya The Death. Jika kita membacanya sampai habis, maka habis pula riwayat kita.
.
.
Original Idea by Melody-Cinta
Inspired by my horror fic, Melodi Kematian
.
Hope you enjoy!
.
CHAPTER THREE
.
Sasuke menjalani pagi ini dengan tidak semangat. Kejadian kemarin benar-benar membuatnya bingung dan takut. Entah kenapa semenjak ia membaca buku tua dan horor itu, hidupnya mendadak menjadi horor juga.Saat pelajaran matematika, entah kenapa ia melihat seseorang yang berdiri di samping sang guru. Mungkin bukan orang, tapi bayangan hitam yang berdiri tegak lalu menghilang dalam hitungan detik. Lalu, beberapa kejadian serupa juga terjadi. Dan itu sukses membuat Sasuke makin takut.
"Sasuke!" Naruto; teman sebangku Sasuke, menepuk pundak Sasuke untuk memanggilnya. Sebenarnya ia heran, kenapa sejak tadi Sasuke memandang kearah depan. Okay, dia tahu kalau Sasuke adalah anak pintar yang selalu memerhatikan gurunya bicara. Tidak seperti dia. Tapi, kali ini sorot matanya tampak berbeda. Seperti orang ketakutan. Dan itu sukses membuat Naruto merasa heran.
Sasuke dengan refleks menengok. Ditatapnya Naruto dengan terkejut. Yah, baiklah, kalau seseorang sedang ber-konsentrasi ke suatu arah, dan seseorang menepuk pundaknya, pasti secara refleks orang itu akan kaget. Jadi Naruto tidak terlalu memusingkan hal itu.
"Ada apa?" tanya Sasuke setelah rasa terkejutnya mulai hilang. Tatapan terkejutnya kini kembali menjadi tatapan dingin seperti biasa.
Naruto menggeleng sebentar. "Ada yang aneh dengan dirimu," ujar Naruto. Sasuke merasa heran pada awalnya, sehingga ia hanya terdiam menunggu kelanjutan kata dari Naruto. Naruto yang merasa ditunggu, mulai kembali angkat bicara. "Baiklah, aku tahu kau sedang memerhatikan pelajaran matematika ini, tapi ada yang aneh dengan tatapanmu. Kau tampak seperti.. ketakutan?" tanya Naruto hati-hati. Ia mencoba memilih kata-kata yang halus dan tidak menyinggung.
Sasuke terdiam. Apa yang Naruto katakan tadi memang benar. Dia memang kembali melihat bayangan hitam itu di samping sang guru matematika. Dan entah kenapa, ia merasa bayangan itu hanya ditunjukkan olehnya. Bukan orang lain. Sebenarnya tak ada alasan untuk berbohong masalah hal ini pada Naruto, tapi ia belum siap kalau semua orang tahu tentang hal ini. "Mungkin kau salah liat. Tatapanku biasa saja kok!" elak Sasuke. Dia memang pandai dalam menyembunyikan kebohongan.
Naruto berpikir sejenak. "Yeah.. anggap saja begitu." ujar Naruto. Ia pun kembali menatap kearah depan. Memerhatikan kata demi kata yang keluar dari mulut sang guru.
Sasuke menghela napas. Untung saja Naruto tidak terlalu membesar-besarkan masalah ini. Sasuke menopang dagunya dengan tangan kanannya. Ia memalingkan matanya kearah jendela disampingnya. Namun matanya melebar saat melihat sebuah tulisan yang terukir dengan warna merah pekat di sana. Ia yakin bahwa itu darah. Tapi, bukan itu saja yang membuatnya kaget. Tulisan yang bertuliskan, "Aku menunggumu" yang terukir acak membuatnya semakin kaget. Mungkin ini ada hubungannya dengan surat yang diterimanya kemarin.
Sasuke mencoba mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ia hanya berhalusinasi. Tapi kenyataan tidak seperti yang ia pikirkan, tulisan itu tetap saja terukir disana. Ia memalingkan wajahnya dari arah jendela menuju kearah depan. Tapi, hal itu sama sekali tidak membuat ia lebih tenang. Disana. Ya, di depan sana. Telah berdiri sesosok bayangan hitam yang tersenyum senang kearahnya. Tapi senyuman itu terlihat mengerikan.
Menutup mata adalah pilihan Sasuke selanjutnya. Ia menutup mata untuk beberapa detik lalu membuka matanya. Namun, tulisan di jendela, dan juga sosok di depan tidak juga hilang. Dengan ketakutan yang luar biasa, Sasuke mencoba menepuk pundak Naruto. Namun ia takut kalau-kalau terjadi sesuatu hal yang lain. Misalkan, Naruto ternyata berubah menjadi sesosok monster atau hantu yang mengerikan.
Tapi, satu-satunya orang yang terdekat darinya adalah Naruto. Ia benar-benar harus meminta bantuan atau setidaknya bertanya pada orang lain kalau apa yang dilihatnya itu sungguhan atau tidak. Dengan ketakutan yang luar biasa, tangan Sasuke mulai mencoba menyentuh pundak Naruto. Walaupun dengan gemetar yang hebat.
Dalam waktu yang cukup lama—walaupun tidak sampai satu jam, akhirnya tangan Sasuke berhasil menyentuh pundak Naruto. Dengan spontan, Naruto menepis tangan Sasuke dan menengok kearahnya. "Apaan sih?" ujarnya sedikit berteriak. Ia tak mungkin berteriak keras. Kalau ia berteriak keras, pasti sekarang guru sedang memarahinya dan menyuruhnya keluar.
"Maaf," ujar Sasuke. Ia menelan ludahnya sebentar. "Aku ingin bertanya.."
"Masalah pelajaran matematika ini? Kau tahu kan aku paling bodoh dalam hal pelajaran?" tanya Naruto tanpa mendengar pertanyaan Sasuke terlebih dahulu. Sasuke dengan cepat menggeleng. "Aku ada uang atau tidak? Jangan berharap, Sasuke. Uang jajanku minggu ini saja sudah habis." ujar Naruto lagi. Sasuke kembali menggeleng. "Lalu?" tanya Naruto heran. Semua prasangka yang ada di otaknya sudah ia kemukakan kepada Sasuke. Jadi, sudah jelas sekarang ia tidak tahu apa yang dimaksud Sasuke.
Sasuke terdiam sejenak. Sebenarnya ia agak ragu untuk menanyakan hal ini, tapi ia harus menanyakannya. "Apa kau.. melihat ukiran dari darah disini?" tanya Sasuke saat ia menunjuk kearah jendela. Walaupun menunjuk kearah jendela, wajahnya sama sekali tidak mau menatap jendela saking takutnya.
Naruto memandangi jendela itu dengan teliti. Ia menopang dagunya sejenak sebelum membuka mulutnya. Sasuke berharap bahwa Naruto melihat hal itu. Tapi beberapa detik selanjutnya Naruto kembali menutup mulutnya. "Kurasa tidak ada. Apa yang kau maksud dengan ukiran darah? Disana hanya ranting pohon dari luar jendela." jawab Naruto akhirnya.
Sasuke merasa terkejut sekaligus heran. Ia dengan takut-takut menengok kearah jendela. Benar kata Naruto, disana hanya ada ranting-ranting pohon dari luar jendela. Selain itu, tak ada apa-apa lagi.
"Apa yang salah denganmu, Sasuke?" tanya Naruto makin heran. Sebelumnya ia memang merasakan Sasuke bersikap aneh, tapi ia berpikir bahwa itu hanya perasaannya saja. Tapi sekarang, Sasuke membuatnya kembali berpikir bahwa itu bukan hanya perasaannya saja.
Sasuke menggeleng. "Entahlah. Sepertinya aku terlalu banyak berimajinasi." jawab Sasuke apa adanya. Naruto mengangguk.
"Yeah, kuharap begitu." ujarnya. Akhirnya mereka pun menjalankan kegiatan sekolah mereka seperti biasanya.
888888888
Sebulan berlalu begitu saja di kehidupan Sasuke. Kejadian demi kejadian menyeramkan terjadi dalam kehidupan Sasuke dalam kurung waktu sebulan ini. Dan kejadian-kejadian itu masih belum berhenti sampai sekarang.Tentang buku itu.. Sasuke sudah berulang kali mengembalikkan buku itu ke perpustakaan, namun, setiap ia mengembalikan buku itu ke perpustakaan, malamnya, buku itu pasti ada lagi di dalam tasnya. Hal yang benar-benar mistis. Dan itu sukses membuat Sasuke terus dan terus membaca buku itu.
Dan ada satu paragraf yang sempat membuat Sasuke tercengang. Isi dari paragraf itu adalah..
Dan bila sang pembaca benar-benar membacanya sampai habis, dia akan terbunuh secara tragis. Bagaimana caranya, aku tidak tahu pasti. Karena mereka bisa membunuhmu kapan saja dan dimana saja. Yang jelas, sang pembaca pasti akan meninggal.
Paragraf itu sukses membuat Sasuke sangat takut dengan apapun yang terjadi di sekitarnya. Teman-temannya pun merasa Sasuke menjadi aneh sekarang. Terkadang, ia suka bertanya apakah ada seseorang di samping sang guru dan teman-temannya yang lain. Terkadang pula, ia suka bertanya apakah ada ukiran dari darah di beberapa tempat tertentu. Dan hal itu sukses membuat Sasuke sebagai murid yang "aneh".Siang ini, Sakura sedang makan siang bersama dengan Ino di kantin. Memang hal yang aneh mengingat bahwa Sakura biasanya selalu mengikuti atau setidaknya berada di dekat Sasuke saat istirahat, tapi memang itu semua tidak berarti ia harus selalu bersama Sasuke. Terkadang ia juga ingin berbincang dengan teman lainnya seperti Ino.
Tak lama, Sasuke mulai terlihat berjalan kearah kantin. Namun, sorot matanya terlihat habis melihat sesuatu yang benar-benar mengerikan. Sorot itu tampak jelas di matanya. Membuatnya benar-benar seperti orang yang aneh. Sangat aneh. Setidaknya, itu yang dipikirkan oleh Ino saat melihatnya masuk ke area kantin ini.
"Sakura!" Ino mengguncang tangan Sakura yang tengah makan di depannya. Sakura yang sedang menatap makanannya sontak menengadah kearah Ino.
"Ada apa, Ino-chan?" tanya Sakura heran. Bahkan dia belum menghabiskan makanannya.
"Coba kau lihat Sasuke," Ino menunjuk kearah Sasuke. Sakura pun mengikuti arah pandang sahabatnya. Lalu menatap sahabatnya heran. Meminta jawaban dari apa yang dimaksud sahabatnya itu. "Dia tampak aneh. Apa kau—sebagai pacarnya, tentu saja—merasakan hal itu?" tanya Ino masih memerhatikan gerak-gerik Sasuke.
Sakura menghela nafas lemas. "Entahlah," jawabnya singkat. "Dia tampak aneh setelah meminjam buku di perpustakaan bulan lalu," lanjutnya sambil memainkan sumpit makannya lemas. "Kuharap tidak ada sesuatu yang mengerikan terjadi padanya. Walau tampak seperti itu.." harap Sakura.
Sejurus kemudian mata Ino membulat. "Hah? Jangan-jangan itu buku The Death!" teriak Ino langsung. Yah, walaupun sedikit, ia tahu tentang buku yang tidak boleh dibaca sampai habis itu.
Sakura menatap Ino heran. "Maksudmu? The Death?" tanya Sakura makin heran.
"Iya! Masa kau tidak tahu?" tanya Ino kaget. Bukankah buku itu termasuk buku yang cukup terkenal? Sakura dengan polosnya menggeleng. Ino menghela nafas. "Baiklah.., setahuku, buku The Death adalah buku yang tidak boleh dibaca sampai habis. Kalau sampai seseorang membaca buku itu sampai habis, maka habis pula riwayat seseorang itu," jelas Ino panjang lebar.
Sakura terkejut. Sebegitu mengerikankah sanksi dari membaca buku itu? Tak lama kemudian, Sakura kembali teringat tentang sesuatu.
Flashback : On
"Pagi, Sasuke-kun!" sapa Sakura saat Sasuke sudah berdiri di sampingnya.
"Pagi, Sakura." balas Sasuke dingin. Ia mulai berjalan sambil menggandeng tangan Sakura. "Kau tahu tidak apa buku yang tidak boleh dibaca sampai selesai?" tanya Sasuke.
Sakura tertegun. "Heh? Memangnya ada ya? Setahuku sih tidak ada," jawab Sakura polos. Sontak, membuat Sasuke tertawa kecil. "Hmm.. Kalau ada pun aku rasa buku kimia. Karena aku rasa buku itu tidak patut untuk dibaca sampai habis!" Sakura mulai marah dengan polos.
"Kau memang lucu, Sakura!" Sasuke mencubit pipi Sakura dengan gemas.
Flashback : Off
"Ah, ya! Aku ingat!" ujar Sakura tiba-tiba. Ino awalnya terkejut. Tapi, rasa penasaran membuat rasa terkejutannya menghilang. Ino menunggu lanjutan Sakura dengan diam. Setelah tersenyum sesaat, Sakura melanjutkan kata-katanya. "Kalau tidak salah, dulu Sasuke pernah bertanya padaku apakah ada buku yang tidak boleh dibaca sampai habis. Tapi, karena aku belum tahu masalah The Death itu, aku hanya bilang tidak ada." jelas Sakura.
"Hmm.. berarti kemungkinan besarnya itu adalah buku The Death ya?" Ino menopang dagunya tanda berpikir. Sakura hanya menunggu reaksi Ino dengan diam. "Kalau begitu, mungkin supaya lebih jelas, kita harus bertanya pada Kurenai sang penjaga perpustakaan untuk penjelasan yang lebih rinci! Ayo!" Ino menarik tangan Sakura setelah beberapa lama berpikir.
Tanpa basa-basi, Sakura mengikuti Ino. Karena ia pun sudah tidak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menolong pacarnya, Sasuke. Lagipula, mungkin akan ada petualangan seru setelah ini. Hmm, siapa tahu?
To Be Continue..
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.