Author : Melody-Cinta
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku. But this is only for complement the story. Because the main genre is horror/mystery
Genre : Like I said, Horror/mystery
.
Summary : Buku memang biasa kita baca sampai habis. Tapi, ada satu buku yang tidak boleh kita baca sampai habis. Judulnya The Death. Jika kita membacanya sampai habis, maka habis pula riwayat kita.
.
.
Original Idea by Melody-Cinta
Inspired by my horror fic, Melodi Kematian
.
Hope you enjoy!
.
CHAPTER TWO
.
Sasuke memalingkan wajahnya keluar jendela. Ini memang sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh seorang Sasuke Uciha yang notabene selalu memerhatikan pelajaran karena tidak mau di-cap bodoh seperti salah satu temannya. Jangan sebut nama, karena ia tidak mau merendahkan temannya dalam hal ini.Setelah kejadian kemarin, entah kenapa sepertinya ia terus memikirkan tentang sesuatu yang dibilang "The Death" oleh Kurenai. Apa maksudnya?
Sekarang ia telah berada di halaman ke-36 di buku itu. Dan ia sama sekali belum menemukan kata "The Death" atau semacamnya disana. Yang ada hanya percakapan beberapa orang tentang keseharian sang tokoh utama yang sering membaca. Lalu, disana juga hanya ada beberapa penjelasan seperti layaknya cerita biasa. Yah, ditambah sedikit cerita horor yang bisa dibilang cukup seram dalam beberapa adegan. Selepas itu, tak ada yang begitu menarik.
KRIIING!
Bel pulang berdering begitu saja. Anak-anak langsung bersorak-sorai dan merapihkan alat tulis dan juga buku-buku mereka. Setelah itu berjalan berdua, sendiri, ataupun berombongan keluar kelas. Khas anak sekolah.
Sasuke memilih untuk keluar kelas sendiri. Dia memang tidak pernah begitu akrab dengan anak-anak lain. Walaupun ia bisa dibilang cukup terkenal sebagai salah satu pria tampan dan pintar, tapi ia tidak bisa melaksanakan apa yang disebut sosialisasi. Memang bukan awal yang bagus, tapi berpacaran dengan Sakura telah membuatnya berpikir sejenak untuk berteman dengan seseorang. Tidak mengacuhkan orang itu seperti dulu.
"Sasuke!" Sakura dengan lincah menghampiri Sasuke dan menggenggam tangan pacarnya itu senang. Tak lupa ia juga tersenyum ceria. "Kata ibuku, kemarin tidak apa-apa kau menolak makan siang dengan kami, tapi hari ini kau tidak boleh menolaknya!" ujar Sakura memberitahu.
Sasuke berpikir sejenak. Ia memang penasaran dengan apa isi dalam buku itu. Dan ingin segera membacanya. Tapi, terus menerus menolak ajakan Sakura dan ibunya serta tidak memedulikan mereka juga bukanlah hal yang bagus. Dan semua dalam buku itu membuatnya sedikit bingung. Mungkin dia memang harus menerima ajakan makan siang dari ibu Sakura dan rehat sebentar dari memikirkan The Death.
"Baiklah," jawab Sasuke singkat. Mereka pun berjalan menuju gerbang sekolah sebelum Sasuke lanjut bertanya, "Kau tidak ada ekskul atau tugas dari guru 'kan hari ini?" tanya Sasuke penuh selidik. Biasanya sebelum pulang, Sakura selalu mengikuti ekskul atau ada tugas dari guru.
Sakura menggeleng. "Tidak! Aku hari ini bebas. Jadi, kita bisa langsung pulang ke rumah dan makan siang!" jawab Sakura riang. Sasuke mengangguk dan mereka pun berjalan dengan tenang; walaupun ada beberapa candaan, menuju rumah Sakura.
8888888888
"Tadaima~" Sakura berseru saat ia dan Sasuke tiba di rumahnya. Tak lama kemudian, Ibu Sakura mulai muncul dari ruang makan dengan celemek dan senyum yang ramah. Sama persis dengan Sakura. Mungkin dulu waktu muda, Ibu Sakura seperti Sakura kali ya?"Eh, kalian sudah datang. Silahkan masuk! Makanan sudah siap!" Ibu Sakura mempersilahkan Sasuke dan Sakura masuk. Dengan enggan, Sasuke masuk dan duduk di samping Sakura.
Makanan sudah tersedia di meja. Mulai dari nasi goreng sosis; sst.. ini makanan favorit Sakura lho! Lalu ada ikan goreng, jus jeruk dan air putih. Tak lupa dengan beberapa buah yang sudah dipotong sebagai dessert.
"Kelihatannya enak, Tante." puji Sasuke. Semua aroma harum makanan masuk ke dalam hidungnya. Dari baunya sih sudah lezat, kalau makanannya.. pasti lebih lezat! Jus jeruknya juga kelihatan segar! Hmm..
"Terima kasih, Sasuke-kun. Nah, silahkan dimakan~" Ibu Sakura berterima kasih dan mulai membalik piring diikuti Sakura dan Sasuke. Mereka pun mulai makan dengan tenang, damai dan beberapa obrolan ringan.
Jam telah menunjukkan pukul 02.00 saat mereka semua sudah selesai makan. Karena sudah hampir sore, Sasuke pun pamit akan pulang.
"Terima kasih atas makanannya, Tante. Sekarang saya pulang dulu. Nanti dicariin sama orang rumah." pamit Sasuke sopan. Tak lupa membungkuk dan tersenyum manis.
"Sama-sama, Sasuke-kun. Terima kasih juga telah menerima ajakan Tante. Hati-hati ya dijalan!" Ibu Sakura; dan Sakura tentu saja, melambai kearah Sasuke. Sasuke hanya tersenyum dan mulai berjalan menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari rumah Sakura.
88888888888
"Tadaima.." ujar Sasuke. Ia melepas sepatunya; rumah Sasuke itu benar-benar rumah tradisional Jepang, jadi harus melepas sepatu/alas kaki dahulu sebelum masuk. Lalu ia pun melihat kakaknya yang tengah tertawa menonton salah satu acara televisi."Eh, Sasuke, tadi aku menerima surat. Sepertinya sih untukmu, habis ada namamu disana. Coba kau cek!" seru Itachi saat adiknya telah menaiki beberapa anak tangga. Tangan kanannya menyodorkan satu amplop putih tanpa berniat berdiri sedikitpun.
Terpaksa, Sasuke kembali turun dan mengambil surat itu dari tangan kakaknya. Lalu membolak-balik surat itu. Aneh. Tidak ada nama pengirimnya disana. "Dari siapa?" tanya Sasuke akhirnya. Meringankan sedikit rasa penasarannya.
Itachi mengangkat kedua tangannya. "Entahlah. Aku menemukannya di depan pintu begitu saja. Jadi aku tidak tahu." jawab Itachi tanpa merasa bersalah. Ia pun melanjutkan menonton acara TV tersebut. Sasuke dengan pasrah kembali naik ke atas untuk membaca surat itu.
8888888888888
Sasuke duduk di atas kursi putar miliknya. Bersandar sebentar untuk menghilangkan lelahnya akan hari ini sebelum membuka surat yang tidak tahu darimana asal-usulnya itu.Kira-kira siapa ya yang mengirimi surat kepada Sasuke? Mana tidak ada nama pengirimnya lagi. Benar-benar surat yang aneh.
Karena mulai penasaran, Sasuke membuka surat itu perlahan. Disana, terdapat satu kertas putih yang dilipat. Sasuke mengambil kertas itu dengan ragu-ragu. Lalu membuka dan membacanya.
Hai, Sasuke.
Kau sedang apa? Hm, pastinya sedang membaca surat ini ya?
Aku ingin beritahu sesuatu padamu. Tentang.. ya, kau tahu buku yang kau baca itu?
Sebenarnya buku itu milikku. Tapi, aku akan pinjamkan buku itu padamu. Aku ikhlas.
Ah, ya, nanti kau balik-kan padaku ya? Tapi kau yang harus balik-kan. Oke?
Aku akan menunggumu. Sampai kapanpun.
Oh, ya, kau tidak tahu siapa aku ya? Hmmm.. Nanti kau juga tahu kok! Sudah ya! Sampai bertemu nanti!
Dan itu adalah isi dari surat itu. Semuanya. Surat yang singkat dan… aneh. Apa coba maksudnya Sasuke meminjam buku orang itu? Jelas-jelas ia meminjam buku itu di perpustakaan!"Ah, ya, apa dia Kurenai? Tapi masa Kurenai mengirimiku surat seperti ini? Sepertinya tidak mungkin!" Sasuke bergumam sendiri. Ia merebahkan dirinya di kasur dan membiarkan surat itu tergeletak disebelahnya. Dan ia pun tertidur masih dengan pakaian seragam sekolah.
Jam berjalan dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 saat Sasuke bangun dan akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu ia keramas agar merasa lebih segar lagi.
Sasuke keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk. Tiba-tiba, matanya terfokus akan sesuatu yang tergeletak begitu saja di meja. Sepucuk surat. Dengan warna putih seperti sebelumnya. Ia yakin sekali bahwa itu adalah kertas surat yang tadi dibacanya.
Dan seingatnya, tadi ia tertidur di kasur dengan kertas surat yang tergeletak di sampingnya. Dan sudah jelas sekali ia tidur di kasur, bukan di meja! Kenapa kertas surat itu bisa berada di meja saat ia bangun? Apa mungkin Itachi memindahkannya? Hm, mungkin.
Setelah memakai baju dan merapihkan rambut, Sasuke pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton TV. Seingatnya, jam segini ada salah satu acara TV yang ia sukai.
"Hei, sudah keluar, Mr. Bookworm? Apa yang kau lakukan di dalam kamar selama dua jam? Membaca?" ejek Itachi ikut duduk di samping Sasuke. Lalu ia tertawa dengan lepas karena telah berhasil membuat muka adik satu-satunya itu kesal.
Tunggu sebentar! Kalau Itachi tidak tahu bahwa ia tadi tertidur, berarti.. yang memindahkan kertas surat itu bukan Itachi kan?, "Hei, bukankah kau tahu bahwa tadi aku tidur?" tanya Sasuke menyindir. Tapi sindiran Sasuke malah membuat Itachi heran.
"Sejak kapan aku masuk ke kamarmu? Dari tadi aku main internet di kamar tahu!" bantah Itachi dengan kesal. Baiklah, mungkin dia memang menjengkelkan dan suka mengejek Sasuke. Tapi itu bukan berarti Sasuke bisa memfitnahnya dengan begitu saja!
"Jadi.. kau tidak masuk ke kamarku?" tanya Sasuke yang dibalas gelengan kesal Itachi. Semua pikiran yang tidak-tidak melanda ke otak Sasuke. Masa hantu sih? "La.. lalu, yang memindahkan kertas suratku dari kasur ke meja siapa dong?" tanya Sasuke setengah takut kepada Itachi.
"Heh? Tapi aku tidak masuk ke kamarmu lho!" Itachi kembali membantah tapi dengan rasa heran. "Hmm.. ada yang aneh. Apa jangan-jangan…"
"STOP!" Sasuke berteriak. Dia hampir saja membuat keputusan seperti itu. Tapi dia tidak mau kalau Itachi benar-benar menganggap begitu. "Kau pasti ingin bilang kalau yang memindahkan itu hantu 'kan?" tanya Sasuke menuduh.
Itachi menggeleng sambil tertawa. "Hahaha! Mana mungkin aku berpikir serendah itu, Sasuke! Maksudku, apa jangan-jangan kamu ngelindur! Jadi, kamu tidur sambil jalan mindahin surat itu ke meja lalu balik lagi ke kasur!" terang Itachi sambil tertawa.
Sasuke terdiam. Hah, kena lagi ejekannya si Itachi. "Hh.. tapi kau benar juga." ujar Sasuke. Ia mengedarkan pandangannya ke tempat lain. Malas melihat kakaknya yang tengah tertawa terpingkal-pingkal.
SETT!
Tiba-tiba sebuah bayangan hitam lewat di depan jendela rumahnya. Bayangan itu bergerak sangat cepat sampai-sampai Sasuke tidak bisa melihat bagaimana rupa bayangan itu. Dengan rasa penasaran yang besar, Sasuke mulai berbicara. "Hei, sepertinya ada yang lewat!"
Itachi berhenti tertawa dan terdiam. "Hah? Mana? Aku tidak melihatnya. Kau berkhayal!" seru Itachi kesal. Baiklah, kali ini ia sudah dua kali dikerjai oleh adiknya. Tapi.. Sasuke serius atau tidak sih sebenarnya?
"Tidak mungkin! Aku melihatnya!" bantah Sasuke kesal. "Aku melihatnya disana! Sangat cepat!" Sasuke menunjuk ke depan jendela dimana ia melihat bayangan tadi.
Itachi terdiam. "Ya, ya, terserah kau. Sekarang lebih baik kau membantuku untuk membuat makan malam sebelum Ibu dan Ayah pulang. Ayo!" suruh Itachi. Sasuke merasa jengkel dan tidak dianggap sama sekali. Dengan pasrah, akhirnya Sasuke pun membantu Itachi untuk membuat makan malam.
888888888
Setelah makan malam, Sasuke kembali menuju kamarnya. Rasanya seharian ini ia belum membaca buku tua dan usang itu. Keinginan untuk membaca buku itu tiba-tiba saja kembali muncul dalam benak Sasuke. Tanpa waktu lama, ia segera mengambil buku itu dan membacanya. Halaman 37.Apakah kalian penasaran dengan buku yang aku ceritakan itu? Baiklah, aku akan beritahu judul buku itu pada kalian semua. Judul buku itu The Death.
Sama seperti judul dan ceritaku sebelumnya, buku itu benar-benar buku kematian.
Membunuh banyak orang hanya dengan membacanya…
Sasuke merasa benar-benar seram dengan semua kata yang terdapat dalam buku itu. Buku ini benar-benar horor. Dan semua kata, semua adegan horor dalam buku ini seperti benar-benar kita yang rasakan. Siapa penulis buku ini sebenarnya? Dia sangat lihai dalam menulis.Ah, ya, mungkin yang membuat Sasuke lebih merasa dalam suasana horor itu adalah entah mengapa akhir-akhir ini ia juga merasakan hal horor itu. Tapi, apa hubungannya buku ini dengan dirinya?
To Be Continue..
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.