English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Senin, 28 November 2011

_The Book of Lost Things_ chapter 2

Perjalanan di dalam kereta itu bejalan sangat mulus, meskipun pada saat itu hujan deras yang disertai dengan petir menerpanya. Daphne menatap ke arah luar jendela kereta, ia melihat rintikan air hujan yang turun secara terus-menerus dalam diam, di sepanjang kereta ia hanya diam, menghiraukan gelak tawa milik anak-anak yang berceloteh ria. Ia menghiraukan Goldstein yang tengah menggoda JK, ia menghiraukan Nicholas yang tiba-tiba muncul di dalam kompartemen mereka secara tiba-tiba, bahkan ia pun menghiraukan apa yang tengah ia pikirkan sendiri.

Mungkin ini memang sedikit rumit, Daphne sama sekali tidak tahu apa yang saat ini berada di dalam otak kecilnya. Dalam satu sisi ia ingin memikirkan masalah sekolahnya untuk sementara, namun di sini lain ia juga ingin memikirkan kebebasannya sendiri. Memang ia adalah putri dari keluarga penyihir berdarah murni, sangat tradisional menurutnya, namun bukan berarti Daphne harus bertingkah sama dengan mereka. Tidak, terima kasih banyak karena itu.


“Daph.” Panggil JK, gadis itu menatap sahabatnya dengan penuh kekhawatiran di kedua bola matanya. “Kau melamun lagi.”

Daphne tersentak pelan, ia memberikan senyuman kecil pada JK. “Bukannya memang setiap hari aku melamun seperti ini?” Tanya Daphne setengah bergurau.

“Memang setiap hari, tapi aku ‘kan tidak selalu melihatmu melamun tidak jelas.”

“Dari mana kau tahu kalau aku melamun sesuatu yang tidak jelas?”

JK memutar kedua bola matanya, terkadang temannya ini terlalu naïf atau apa. “Aku tidak bilang kalau sesuatu yang tidak jelas, tapi melamun tidak jelas. Dua kalimat yang sedikit mirip tapi kau tahu mempunyai arti yang berbeda.” Kata JK dengan seringai kecil di wajahnya.

Goldstein yang mendengar pembicaraan di antara kedua murid Slytherin-Gryffindor itu hanya bisa melongo tidak mengerti, otaknya masih dalam proses mencerna. Sementara Nick yang juga menjadi tamu-tak-diundang serta salah satu dari murid Ravenclaw yang terkenal sangat pintar, hanya bisa menyipitkan matanya. Ia tahu kalau ada yang sedikit ganjil dengan mereka berdua.

“Terserah apa katamulah.” Ujar Daphne sebelum diam.

Gadis muda berambut sebahu itu berdiri dari tempat duduknya, dengan perlahan ia melewati JK, Goldstein, dan Nick yang masih melongo tidak mengerti. Saat tangan kanannya memegang gerendel pintu kompartemen kereta yang tengah berjalan itu, tiba-tiba Nicholas Flamel yang sedari tadi hanya dia langsung berdiri.

“Kau mau ke mana?” Tanya Nick dengan nada tegas yang tidak biasa.

Gadis itu tidak menoleh, hanya mengangkat bahunya tanpa menjawab apapun. Tangannya membuka pintu kompartemen sampai terbuka. Sebelum keluar ia hanya mengucapkan, “Itu bukan urusanmu.”

Ya…. Hanya itu kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan kompartemen kereta di mana ketiga temannya yang melongo keheranan itu memberinya tatapan tidak mengerti.

“Apa yang terjadi dengan anak itu?” Tanya Nick kepada JK yang masih shock dengan tindakan yang Daphne lakukan.

JK menoleh dan memberikan tatapan aku-juga-tidak-tahu, “Entahlah, sejak musim panas yang lalu Daphne jadi sedikit aneh.”

“Aneh? Bukannya setiap hari Daphne itu sudah aneh?” Tanya Goldstein dengan wajah polos.

Baik JK maupun Nick hanya memberikan tatapan ‘are-you-crazy’ pada Goldstein yang sedari tadi masih terlihat kebingungan.

“Tidak, Daphne tidak seaneh sekarang yang kau bayangkan.” Tukas JK. “Kurasa ini ada hubungannya dengan apa yang ia lakukan pada musim panas kemarin, tapi aku yakin kalau semuanya sudah beres.”

Nick kembali pada tempat duduknya, “Bisa kau ceritakan apa yang terjadi selama musim panas ini padaku?”

JK mengangguk dan mulai bercerita mengenai apa yang terjadi



************

Beberapa saat kemudian telah ia lalui semenjak keluar dari dalam kompartemennya, selama itu pula rasa bersalah mulai hinggap pada hati Daphne karena ia telah berlaku sedikit dingin kepada temannya. Terkadang ia sangat membenci apa itu yang dinamakan emosi, karena sedikit saja ia melakukan kesalahan yang sama sekali tidak disengaja pasti imbasnya adalah rasa bersalah selalu muncul setelah beberapa saat ia melakukan kesalahan itu. Tapi Daphne sendiri menyadari kalau seandainya ia tidak memiliki emosi sedikitpun, maka ia akan menjadi seseorang yang hampa, hampa seperti robot yang melakukan apapun tanpa hati.

Langkah kakinya berhenti di sebuah kompartemen, dengan perasaan campur aduk namun juga dengan ekspresi yang ia buat senetral mungkin, Daphne membuka pintu kompartemen itu. Di dalam kompartemen yang ia sangka tidak ditempati oleh siapapun ternyata di dalamnya duduk seorang murid. Daphne menatap orang itu, tidak bergerak sedikitpun sementara murid yang dimaksud juga balas menatapnya tanpa berkedip. Murid itu mengenakan seragam tradisional Hogwarts dengan dasi berwarna biru yang diselingi warna perunggu serta sebuah emblem seekor elang dengan sayap-sayapnya yang terlihat gagah. Gadis itu memiliki rambut hitam panjang, kulit putih dan sepasang bola mata berwarna Hazel, dalam artian kata ia cukup manis.

“Hallo, mengapa tidak kau masuk dan duduk di sini. Berdiri di depan pintu saja seperti itu tentu pekerjaan yang tidak enak.” Jawab gadis muda itu.

Daphne menemukan dirinya mengangguk perlahan, ia masuk ke dalam kompartemen dan menutup pintunya sebelum mengambil tempat duduk di hadapan murid tersebut. Daphne mengamatinya secara sekilas, dalam hati ia berpikir di mana ia pernah melihatnya. Rasanya wajah gadis itu sangat familier, tapi Daphne tidak tahu di mana ia pernah melihatnya. Meneliti raut wajahnya, gadis itu seusia dengannya, berarti ia juga murid tahu akhir juga.

‘Murid Raven seperti Nick.’ pikir Daphne.

“Kau pasti Daphne Greengrass?” Tanya gadis muda itu dengan perlahan.

“Kau tahu aku?” Tanya Daphne perlahan.

“Tentu, siapa yang tidak mengenal murid Durmstrang yang pindah ke Hogwarts dua tahun lalu? Semuanya pasti sudah tahu, terlebih lagi kita ini satu angkatan.”

Kali ini Daphne yang bingung, ia mencoba mengingat-ingat tentang murid Ravenclaw yang satu ini. “Apa aku mengenalmu?”

Gadis berambut gelap itu tertawa kecil, membuat Daphne blushing sedikit karena kebodohannya. Ya ampun… dia ini Slytherin, masa harus malu karena sedikit kekonyolan sih?

“Tentu saja kau tidak mengenalku, kita tidak pernah memiliki jadwal sama kecuali dalam pelajaran Rune kuno. Aku Padma, Padma Patil.” Di sini Padma mengulurkan tangan kanannya yang dijabat oleh Daphne.

“Daphne.” Ujar Daphne pelan

“Aku tahu. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di tempat ini? Tidak biasanya seorang Slytherin berada di daerah seorang Ravenclaw.”

Daphne menatap Padma secara sekilas sebelum sebuah seringai tipis terukir di wajahnya, “Dan ini juga bukan kebetulan aku menemukan seorang Ravenclaw berani mengusik seorang Slytherin.”

“Aku tidak mengusik, tapi kau sendiri yang nyelonong seperti itu.” Kata Padma, rupanya gadis ini memiliki selera humor yang lumayan bagus.

“Benarkah? Aku pikir hanya aku saja yang berpikir demikian, di mana etikaku selama ini!” ujar Daphne

“Atau mungkin kedua orangtuamu tidak mengajarkan hal itu padamu.” Dengus Padma. “Wow, ini bahan lelucon yang lumayan payah.”

Daphne memberikan senyuman sinis pada gadis muda berambut hitam tersebut, ia mengamati tinkgah laku dari putri keluarga Patil tersebut dengan seksama. Apakah ini keberuntungannya? Oh, mungkin saja. Ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh beberapa anak yang tinggal di asrama Slytherin mengenai putri dari keluarga Patil yang bersekolah di Hogwarts, karena Daphne jarang bergaul dengan orang luar makanya ia tidak paham akan maksud tersebut, dan saat ini ia baru ia tahu siapa Patil itu.

Salah satu dari putri kembar, sama sekali tidak pernah ia duga.

“Ouch.” Ujar Daphne, ia memegang dada kirinya seolah-olah ada pisau yang menancap di sana. “Kata-katamu sungguh tajam, Ms Patil. Kalau saja itu orang lain dan bukannya aku, sudah pasti mereka akan mengutukmu dengan sihir yang sangat menyakitkan.”

Padma tertawa pelan, ia menyilakan rambutnya yang jatuh ke pelipis matanya, “Dan aku tidak takut dengan serangan macam apapun, Ms Greengrass.”

Daphne menaikkan alis kirinya medengar kalimat yang Padma lontarkan, “Benarkah? Lumayan untuk seukuran gadis muda sepertimu.” Bisik Daphne lirih yang hampir saja tidak dapat didengar oleh gadis yang duduk di hadapannya. “Tapi aku tidak tahu apakah itu benar seperti perkataanmu, ataukan hanya sekedar membesarkan ego saja.”

Padma mau saja membalas kata-kata sarkatis itu namun sebuah suara yang sangat keras dan goncangan yang begitu hebat terjadi. Kedua gadis itu terjatuh dari tempat duduk mereka, saat guncangan yang hebat itu mereda dengan perlahan Daphne bangkit meskipun ia harus menghiraukan lututnya yang terasa begitu sakit akibat membentur lantai kereta. Ia menemukan Padma dalam keadaan yang sama, gadis itu meringis kesakitan namun secara umum ia baik-baik saja.

Sebuah aura yang tidak mengenakkan menyelimuti atmosfer kereta, Daphne sedikit merinding karena itu tanpa alasan yang jelas, ia memang sangat sensitif dengan pergerakan dan aura sihir yang ada di sekitarnya jadi ia tidak akan heran bila ia merasakan sesuatu yang sangat aneh terjadi di sekitarnya, apalagi di sebuah dunia di mana sihir dan makhluk aneh berkeliaran. Suara celoteh panik dari anak-anak terdengar, kelihatannya para murid yang penasaran keluar dari kompartemen masing-masing, meskipun begitu Daphne dapat menduga kalau mereka tengah panic karena tidak tahu dengan apa yang terjadi.

Gadis itu menatap ke arah luar jendela secara perlahan, kereta api yang membawa mereka berdiri di tengah jembatan yang sangat curam di mana di bawah jembatan adalah jurang yang sangat dalam, sekali saja mereka terjatuh ke dalamnya maka dapat dipastikan mereka tidak akan pernah kembali lagi. Daphne merinding memikirkan hal itu, ia terlalu muda untuk menghadapi ajalnya.

“Ada apa ini? Apa yang terjadi?” Tanya Padma yang berdiri di samping Daphne, ia juga sama penasarannya dengan gadis itu.

“Aku sendiri juga tidak tahu.” Jawab Daphne pelan, perasaan aneh seperti sihir yang menggelitik pada bagian bawah kulitnya masih belum hilang. Begitu sinis yang mampu membuatnya ketakutan, tapi karena di Slytherin ia telah diajari bagaimana untuk mengendalikan emosi maka sangat mustahil bagi emosinya untuk keluar begitu saja.

Sebuah suara pintu kompartemen terbuka terdengar, baik Padma dan Daphne dengan cepat mengambil tongkat sihir mereka dan dengan cepat pula langsung mengacungkannya pada orang yang membuka pintu kompartemen.

Seorang murid laki-laki yang dari penampilannya berada di tahun bawah mereka hanya bisa membelalakkan kedua matanya saat ia disambut oleh acungan dua buah tongkat sihir dari milik kedua gadis manis itu.

Murid laki-laki itu mengangkat tangannya seperti seorang tawanan yang menyerahkan dirinya, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ia terpaksa melakukan itu kalau ia masih sayang dengan nyawa, apalagi kedua Lady muda yang mengacungkan tongkat sihir mereka padanya itu memiliki tatapan tajam yang siap menyerang kapan saja dan siapa saja. Oh, mungkin ini adalah hari sialnya!

“Hei, aku bukan musuh tahu.” Ujar murid laki-laki itu, ia melonggarkan dasi kemerahan-keemasannya itu, tipikal murid Gryffindor.

Daphne menurunkan tongkat sihirnya, ia melakukan itu karena ia merasakan aura murid yang sedikit ketakutan di hadapannya ini sama sekali tidak berbahaya, meskipun begitu Daphne tidak akan lengah atau menurunkan penjagaannya sedikitpun juga. Di lain pihak Padma masih belum menurunkan tongkat sihirnya, ia malah berjalan mendekati murid tadi sebelum menurunkantongkat sihirnya.

“Apa yang terjadi? Mengapa kereta api tiba-tiba berhenti di tempat seperti ini?” Tanya Padma penuh selidik.

“Er… a… aku sendiri juga tidak tahu.” Jawab murid laki-laki itu, ia masih belum bisa bernafas lega. Kakak kelasnya ini membuatnya sedikit takut.

Goncangan dan getaran yang lebih hebat dari yang tadi kembali mereka rasakan, Daphne berpegangan pada sisi kursi kompartemen agar ia tidak terjatuh, hal ini sama sekali tidak wajar, apalagi saat ini Hogwarts Express berhenti tepat di tengah-tengah jembatan yang berada di atas jurang kematian yang sangat terkenal itu.

Percy Weasley, nama murid laki-laki itu hanya bisa menatap pasrah saat murid Slytherin dan Ravenclaw yang menawannya begitu mengerikan dan mengintimidasinya, ia melihat sang senior Slytherin itu mendorongnya pelan untuk menghindar dari pintu kompartemen sebelum gadis itu keluar dari sana tanpa mengatakan apa-apa.

Dengan nafas berat Percy menoleh pada Padma yang memberinya death glare karena telah berani masuk ke dalam kompartemennya tanpa izin pada saat-saat genting seperti ini.



*******************

“Hei, kalian berdua mau ke mana?” Tanya Sirius kepada kedua temannya yang bergegas keluar dari kompartemen setelah goncangan kedua terjadi.

King dan Albus menatap kawannya itu sebelum Albus membuka pintu kompartemen, “Kami ingin tahu apa yang terjadi.” Jawab sang kepala murid laki-laki tersebut.

“Tapi bagaimana kalau keadaannya berbahaya, maksudku kita berada di atas jurang for Merlin sake!” kata Sirius sedikit panic.

“Tenang saja, kami tidak akan lama.” Ujar King dengan senyum kecil di wajahnya.

Kedua sahabat itu berjalan meninggalkan Sirius yang sendirian di dalam kompartemen, mereka berdua berjalan menyusuri sepanjang gerbong. Keadaan di sekitar mereka memang sangat menegangkan, beberapa murid tahun pertama yang masih kecil dan merasa ketakutan bahkan ada yang menangis. Albus yang terpilih sebagai Head Boy tahun ini menghampiri partnernya yang juga seorang Head Girl, Luna Lovegood, yang kelihatan tengah sibuk menangkan seorang murid perempuan tahun keempat.

“Pansy, tenang ya. Tidak akan terjadi apa-apa, kau tenang saja.” Ujar Luna dengan lembut.

Pansy Parkinson yang merupakan murid tahun keempat hanya bisa sesenggukan menahan tangis, ia takut kalau ia akan mati pada saat itu. Dengan pelan ia mengusap air matanya yang mulai berjatuhan lagi, ia menemukan kakak seniornya yang bernama Luna itu hanya bisa memberikan senyuman kecil. Sedikit tenang dari guncangan, Pansy mengangguk pelan dan menerima tissue pemberian Alice Longbottom yang berdiri di sampingnya.

“Luna, ada apa ini?” Tanya Albus yang menghampiri mereka bertiga.

Luna yang namanya dipanggil oleh partner-nya itu menoleh ke arah Albus dan memberikan senyuman kecil sebelum menggeleng pelan, “Aku sama sekali tidak mengerti.” Hanya itu jawaban dari Luna.

“Lebih baik kalian ke gerbong masinis, mungkin ada sesuatu yang terjadi.” Usul Alice.

Baik King dan Albus menemukan itu adalah ide yang bagus, dengan memberikan lambaian singkat kepada mereka bertiga, King dan Albus segera bergegas menuju gerbong masinis. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan dua orang gadis muda yang kelihatannya memiliki pikiran yang sama.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanya Albus dengan penuh authoritas.

Daphne mengangkat bahunya, tidak peduli. “Hal sama yang patut aku tanyakan juga padamu.” Jawabnya singkat.

“Aku adalah Head Boy, Greengrass, jadi sudah kewajibanku untuk memeriksa apa yang terjadi.” Jawab Albus sedikit ketus.

“Kalau begitu kita mempunyai pemikiran yang sama, mending kita segera melihat apa yang terjadi. Aku tidak suka dengan suasana seperti ini.” Kata seorang murid perempuan yang kelihatan jauh lebih muda dari mereka bertiga, mungkin murid tahun keenam.

“Ide yang sangat bagus, lebih banyak orang itu lebih bagus.” Sahut King yang sedari tadi diam.

Sekiranya mereka berempat telah mencapai kesepakatan, mereka berjalan menuju gerbong masinis. King membuka pintu yang ada di sana, ruangan itu penuh sekali dengan mesin. Namun ia tidak sempat mengagumi pemandangan yang menakjubkan itu karena ada sesuatu hal yang jauh lebih penting, ia menemukan masinis Hogwarts Express tidak sadarkan diri. Pria tua yang mungkin sudah berusia 40 tahunan itu tersungkur di atas lantai dengan pelipisnya berdarah, darah itu merembes dan sangat banyak. Tonks yang tidak tahan melihat darah hampir saja kehilangan kesadaran kalau saja Albus tidak memegang bahunya, ia memejamkan kedua kelopak matanya dan mengalihkan wajahnya dari pemandangan yang mengerikan itu, apalagi ia tadi sempat melihat kalau luka yang diderita sang masinis sangat parah. Albus yang sama terkejutnya hanya bisa melihat saja, ia tidak tahu dengan apa yang terjadi.

Sementara itu King membalikkan tubuh sang masinis yang tertelungkup itu menjadi telentang, anak laki-laki itu memeriksa denyut nadi sang masinis untuk memastikan apakah ia masih hidup atau sudah tewas. King menghembuskan nafas lega saat ia masih merasakan denyut nadi milik sang masinis, meskipun itu sangat lemah.

Daphne berjalan menghampiri King, ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengayunkannya pelan sambil mengucapkan beberapa mantra penyembuh yang ia tahu. Ia dan King membantu masinis yang masih tidak sadarkan diri itu untuk beralih tempat.

“Episkey.” Gumam Daphne pelan.

Gadis itu menghentikan apa yang tengah ia lakukan karena tiba-tiba ia memiliki perasaan yang tidak mengenakkan, secara mendadak ia merasakan aliran sihir yang aneh.

“MENUNDUK!!” teriaknya pada mereka bertiga yang ada di sana.

Sebuah sabetan angin yang sangat keras menghantam sisi depan kereta, Albus memaksa Tonks untuk menunduk karena kalau tidak maka sudah dapat dipastikan mereka akan tewas bila terkena. Serangan itu menghancurkan kaca jendela, membuat kaca-kaca yang tajam berhamburan ke sana-kemari.

“Ada penyerangan, siapa orang gila yang berani menyerang kereta Hogwarts seperti ini!!” ujar King dengan nada geram, ia berdiri dan menemukan tempat itu hancur berantakan, bagian sisi kereta hancur dan ia melihatnya.

Sebuah sosok yang mengenakan jubah hitam tengah berdiri menanti mereka di ujung jembatan rel kereta. King tidak dapat memastikan siapa orang itu dikarenakan jarak mereka yang cukup jauh serta wajah orang misterius itu tersembunyi di balik jubah yang dikenakannya.

“Orang itu yang melakukan semua ini.” Gumam King yang masih marah.

Daphne berdiri dan menghampiri King, ia melihat ke arah yang King tunjukkan. Gadis itu menemukan seseorang yang King yakini adalah dalang dari semua ini, dadanya tersasa bergemuruh keras serta kulitnya merasakan sensasi aneh, begitu sinis dan penuh dengan aura yang begitu hitam. Tanpa sadar ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah liontin yang sangat cantik. Liontin itu mempunyai sebuah Kristal berwarna bening, sangat bening sehingga tembus mata dengan bentuk seperti bintang kecil. King yang memperhatikan liontin itu hanya bisa menatapnya dengan heran, namun yang membuatnya terkejut untuk sekali lagi adalah Kristal yang menjadi medali pada liontin itu mengeluarkan sebuah cahaya, cahaya keperakan dengan warna merah di sana, sangat menakjubkan.

“Benda apa ini?” tanyanya lirih

Daphne tidak menjawab, ia memasukkan kembali benda itu ke dalam saku jubahnya sebelum menatap lurus ke arah sosok misterius yang berdiri di ujung jembatan. Mereka semua merasa terkejut saat jembatan yang menopang kereta itu bergoyang dengan begitu hebat, bahkan cuaca yang ada di luar juga sama sekali tidak mendukung, langit yang pada awalnya cerah kini terselimuti oleh awan hitam yang menggulung-gulung.

“Kita harus pergi dari sini.” Kata Tonks yang mulai mengerti dengan situasi yang ada di sekitar mereka.

Gadis kecil itu mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku jubahnya, dengan anggukan singkat dari Albus ia mengarahkan ujung tongkatnya ke bagian jendela kereta api yang telah hancur tadi, tepat mengarah ke langit.

Ia mengucapkan sebuah mantra dengan lirih, sepercik sinar berwarna kemerahan melesat dari ujung tongkatnya dan terbang ke langit, membuat kembang api yang sangat besar. Tonks melakukan itu karena ia ingin member tahu penyihir yang melintas di sekitar sana untuk membantu mereka, setelah itu Albus menggunakan reparo untuk mengembalikan kaca gerbong masinis yang pecah itu menjadi utuh kembali.

Sebuah suara pintu menggebrak terdengar, menandakan kalau ada orang yang masuk ke dalam gerbong itu. King dan Daphne masih belum melepakan pandangan mereka dari orang misterius yang kelihatannya masih mencoba untuk menantang mereka.

“Ada apa ini?!” Tanya sebuah suara feminism yang mereka kenal adalah milik JK, kalau JK ada di sini berarti Nicholas tidak jauh berada di belakangnya. “Daphne?!”

“JK, kita harus segera pergi dari sini secepatnya.” Balas Daphne lirih, suaranya terdengar begitu letih.

JK menghampiri temannya dan menyentuh bahu gadis itu, ia membelalakkan kedua matanya saat ia melihat apa yang temannya lihat.

“Mustahil.” Hanya itu yang terdengar dari desahan JK.

“Sebenarnya apa yang terjadi?!” kata Nick yang tiba-tiba muncul di sana. Namun perkataan itu terpotong saat getaran yang jauh lebih hebat dari tadi terasa, dan apa yang ditakutkan oleh mereka semua terjadi.

Jembatan yang telah berdiri selama 500 tahun kini roboh, derakan yang hebat membuat tiang yang menyangganya tidak kuat dan akibatnya adalah jembatan itu roboh. Anak-anak yang ada di dalam kereta menjerit ketakutan saat Hogwarts Express terjatuh bersama robohan jembatan ke dalam jurang.

Satu hal yang Daphne lihat sebelum hilang kesadarannya adalah sebuah tanda yang sangat familier berbentuk ular terbentuk di angkasa, dia telah kembali lagi sebelum suara tawa yang sangat sinis terdengar. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa, gelap mengambil kesadarannya.

Author: Artemis Lumina Hammond

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.