Disclaimer: beberapa plotnya aku pinjam dari novel Harry Potter, tapi jalan cerita utamanya itu original milikku sendiri
Rating: T untuk sekarang
Genre: Adventure, Drama, Friendship, Romance, dll.
Pairing: Masih rahasia dong ah!
Daphne tidak tahu sedang berada di mana ia sekarang, ia berada di sebuah tempat yang begitu asing dan sama sekali tidak ia kenal saat ia melihat ke sekeliling. Gadis muda berusia 16 tahun itu memandang ke sekelilingnya, mencoba menemukan sesuatu yang ia kenal meskipun itu hanya sedikit, tetapi harapannya pupus saat ia sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari. Daphne mencoba mengingat-ingat apa yang tengah terjadi beebrapa saat yang lalu sebelum ia terbangun di tengah hutan belatara yang asing ini.
“Ah… kereta api yang jatuh.” Bisik Daphne pelan pada dirinya sendiri.
Tapi kalau ia jatuh ke dalam jurang seperti apa yang ia ingat lalu ke mana lainnya? Mengapa ia sendirian berada di hutan itu? Lalu di mana ini? Beribu-ribu pertanyaan muncul di benaknya, namun tidak satupun dapat ia jawab, dalam artian kata Daphne masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Daphne merogoh saku jubahnya untuk mengambil tongkat sihirnya, namun benda yang sangat berharga dan dapat ia jadikan senjata untuk melindungi diripun juga tidak ia temukan di dalam sakunya. Padahal ia yakin kalau tadi ia menaruh benda itu di sana sebelum kereta terjatuh ke dalam jurang, tapi sekarang malah lenyap tak berbekas? Apa ikut jatuh? Kiranya itu sangat mustahil.
Sekarang Daphne mengerti bagaimana rasanya menjadi orang yang begitu tidak berdaya, ia tidak begitu mahir menguasai wandless-magic sementara satu-satunya penyalur sihirnya juga tidak ada di tempat, ia tahu kalau hari ini adalah hari sialnya tetapi Daphne sama sekali tidak menyangka kalau ia akan hilang ditempat ini begitu saja. Mungkin inilah rasanya menjadi seorang muggle, apapun yang terjadi gadis itu tidak akan bisa melindungi dirinya sendiri. Untuk beberapa saat ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar yang ada di sana, dipejamkannya kedua kelopak matanya untuk beberapa saat, hanya bayangan-bayangan yang ia usir dari benaknya sejak dulu kembali lagi menghantuinya. Merasa tindakannya tidak ada gunanya, Daphne berhenti melakukannya. Gadis itu memutuskan untuk mencari jalan keluar sendiri, itu lebih baik dilakukan daripada berdiam diri tidak menentu di sana. Jubah hitamnya melambai tertiup angin mengikuti langkahnya berjalan.
Daphne melangkahkan kakinya, pohon demi pohon yang ada di hutan itu ia lalui, selama itu pula pikirannya mengarah pada apa yang terjadi pada teman-temannya yang lain. Ia tidak ingin memikirkan kalau mereka tewas atau terluka parah karena kecalakaan tadi, siapapun orang misterius berjubah yang ia lihat tadi, Daphne yakin orang itu bertanggung jawab atas semua apa yang menimpa dirinya.
“Hallo, Ms. Greengrass, sebuah suatu kebetulan kita bertemu di tempat yang indah seperti ini.” Ujar sebuah suara yang tiba-tiba muncul di belakang Daphne.
Gadis itu secara reflex langsung berbalik ke belakang dan menemukan orang sama yang ia lihat tadi sebelum kecelakaan terjadi. Matanya terbelalak lebar saat orang itu melambaikan tangan kanannya, membuat tempat yang ia anggap adalah hutan berganti suasana menjadi berada di dalam kastil yang sangat familier, yang sangat ia kenal.
“Siapa?” Tanya Daphne sedikit canggung. Ia menggigit bibir bawahnya, tidak berani menebak-nebak.
Orang itu tertawa kecil, begitu sinis dengan suara yang bisa dikatakan mencoba menakut-nakutinya. Daphne merasakan tengkuknya merinding hebat ketika mendengarnya.
“Kau lupa padaku, Little one? Coba diingat-ingat lagi.” Ujar laki-laki itu dengan suara tenang serta dingin pada saat yang sama. Orang berjubah itu berjalan mendekatinya, kontan secara reflek Daphne ikut mundur ke belakang sampai ia tidak bisa mundur lagi karena dinding batu tepat menyentuh bahunya.
Suara itu… suara itu sangat ia kenal, begitu familier yang sering mengusik mimpinya. Kedua mata silver kebiruan milik Daphne terbelalak lebar saat ia menyadari siapa pemilik suara dingin itu, tubuhnya terasa dingin serta darahnya berdesir hebat.
“Tidak mungkin, kau seharusnya sudah tewas.” Desah Daphne pelan.
Laki-laki tadi mengangguk pelan, sebuah angin yang datang secara tidak sengaja berhembus ke arah mereka dan secara tidak sengaja menurunkan kerudung jubah yang menutupi sebagian besar wajah laki-laki itu, memperlihatkan sepasang mata indah berwarna emerald yang berkilat itu tengah menatap Daphne dengan bosan. Kulit alabaster dengan rambut hitam pekat yang dipotong pendek, bisa dikatakan laki-laki itu sangat tampan, benar… tampan dalam artian berbahaya, apalagi auranya yang mengatakan kalau ia bukanlah orang yang sembarangan.
“Sangat mengesankan bukan, aku bangkit lagi untuk kedua kalinya, nona kecil. Tidak ada yang bisa membayangkannya, Daphne.” Ujar laki-laki itu dengan suara lirih, ia memberikan seringai tipis pada gadis muda yang masih berdiri membeku di hadapannya itu.
Daphne baru tersadar dari keterkejutannya saat ia merasakan tangan laki-laki berambut hitam tersebut membelai rambutnya pelan sebelum jatuh ke arah lehernya, tepat di mana liontin Kristal yang terpasang di lehernya berada. Jari-jari itu membelai Kristal yang sangat bening dari liontin Daphne, gadis itu sama sekali tidak tahu sejak kapan ia memakainya.
Namun proses berpikirnya harus terpotong saat suara yang lirih namun berbahaya itu berbisik di telinganya, “Katakan padaku, nona kecil, di mana kau menyimpan benda itu?”
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud.” Elak Daphne pelan, ia benci akan situasinya seperti ini.
“Hmmm…. Benda itu, Daphne… benda yang kau curi dariku.” Ujar sang laki-laki yang kelihatannya malah terhibur. Ingin rasanya gadis itu menampar wajah tampan laki-laki itu dan menghapus seringai dari wajahnya.
Daphne menggeleng, pelan kali ini.
“Cukup keras kepala juga, young lady.”
Laki-laki itu melepaskan cengkeramannya pada bahu Daphne, ia berdiri tegap dan memberikan tatapan penuh hiburan di mata emeraldnya sebelum memberikan seringai khas pada wajahnya, kelihatannya ia begitu menikmati ini. Daphne melihat laki-laki misterius itu mengambil satu langkah ke belakang dan melambaikan tangan kanannya, membuat beberapa sosok berjubah hitam yang sebelumnya tidak ada di sana langsung muncul seketika. Sepertinnya mereka adalah pengikut dari laki-laki itu, Daphne merasakan dirinya merinding hebat karena aura sihir di sekitarnya bergejolak hebat dan begitu sinis, sangat sinis dan gelap.
“Kau begitu keras kepala, nona kecil. Mau bertaruh denganku sampai kapan kau tetap seperti ini?” di sini Daphne hanya memberikan glare pada laki-laki itu, tapi ia masih bungkam. “Yang kuinginkan hanya benda itu, tidak lebih dari apapun. Nah, saat ini aku akan melepaskanmu, anggap saja ini adalah permulaan dari permainan kita. Aku akan kembali lagi, nona kecil.”
“Apa maksudmu?” Tanya Daphne yang baru saja menemukan suaranya. “Aku sama sekali tidak mengerti.”
Laki-laki itu berjalan mendekat lagi, “Saat ini kau memang tidak mengerti, tapi saat ingatan itu terbuka maka kau akan mengerti semuanya.” Bisiknya pelan. “Pejamkan matamu, nona kecil dan kau akan terbangun pada hal yang berbeda.”
Pada saat itu juga Daphne merasakan kedua kelopak matanya terasa begitu berat, ia ingin tetap terjaga tetapi ia tidak bisa karena suara itu begitu dalam. Ia menemukan dirinya tidak sadar lagi.
*****************
Apa yang dilihatnya adalah sebuah ilusi belaka, ia melihat sebuah tempat yang sangat indah, tapi tempat apa itu? Ia mendengar suara-suara dari beberapa orang, dari apa yang ditangkapnya sepertinya mereka kedengaran begitu khawatir. Begitu kabur dan rasa sakit menjalari tubuhnya, secara perlahan-lahan ia merasakan tekanan sebuah tangan berada di atas bahu kanannya.
“Ah dia bangun.” Ujar sebuah suara yang sepertinya ia kenal. “Daphne… Daphne.”
Sepertinya ada yang memanggil namanya, ia tidak tahu siapa. Namun Daphne merasakan kekhawatiran serta ketakutan dari suara yang bergetar itu, orang yang memanggilnya pasti sangat khawatir padanya. Daphne ingin sekali menjawab, tapi ia menemukan suaranya terkunci serta ingin sekali ia menjangkau tangan yang membelainya secara perlahan, tapi lagi-lagi ia menemukan tubuhnya tidak mengikuti kemauan otaknya.
“Nona Rowlings, biarkan Nona Greengrass beristirahat dulu.” Ujar suara seorang wanita yang tidak jauh dari sana.
“Tapi, Madam Pomfrey, aku tadi lihat Daphne mulai menggerakkan jarinya.” Kata suara yang sama lagi. Yang tidak lain adalah milik JKR, sahabatnya sendiri.
Sebuah derak langkah kaki mendekati mereka, Daphne yang masih berada di alam bawah sadar dapat merasakannya. Ia merasa sihir menyelimuti tubuhnya, kelihatannya Madam Pomfrey menggunakan sihir penyembuh untuk membuat kesadaran Daphne yang hilang untuk kembali.
Untuk beberapa saat tidak terjadi apa-apa, JKR memandang sosok sahabatnya dengan penuh kekhawatiran. Sudah lebih dari dua hari semenjak kecelakaan itu Daphne tidak sadarkan diri, padahal mereka yang mengalami luka yang lebih parah dari Daphne sudah bisa beraktivitas layaknya orang normal, tapi Daphne sama sekali tidak sadarkan diri. Hal ini tentu saja membuat sahabat-sahabatnya menjadi cemas, apakah ini ada hubungannya dengan peristiwa musim panas yang lalu? Ataukah ini ada hubungannya dengan kemunculan hal-hal aneh yang berada di sekitar mereka akhir-akhir ini? Beribu-ribu pertanyaan berputar-putar di benaknya, tapi lagi-lagi JKR sama sekali tidak menemukan jawabannya.
“Jk.” Panggil sebuah suara lirih, gadis itu menemukan sahabatnya yang telah dua hari tidak sadarkan diri itu tengah menatapnya dengan tatapan bingung, penuh keraguan di sana.
Dan Daphne yang tiba-tiba membuka kelopak matanya langsung menemukan sahabatnya seperti orang yang tidak tidur berhati-hari, begitu pucat dan berantakan. Tanpa mengatakan apa-apa Daphne langsung menemukan dirinya dipeluk oleh JKR dengan sangat erat.
“Daphne Rosaline Belvina Greengrass, kau benar-benar membuat orang khawatir saja?! Aku pikir aku sudah kehilanganmu, bagaimana mungkin kau melakukan ini semua padaku!!” ujar JKR yang diiringi dengan isak tangis.
“Ssst… aku ada di sini, kau tidak perlu khawatir seperti ini.” Kata Daphne yang mencoba untuk menenangkan JKR.
JKR melepaskan pelukannya pada Daphne dan memberikan glare ganas pada temannya tersebut.
“Jangan pernah mengucapkan kalau aku tidak boleh khawatir padamu, Greengrass. Kau itu adalah temanku dan aku berhak khawatir padamu, kau selalu saja begini… apa kau pikir setiap orang itu tidak akan khawatir atau sedih bila kau tidak ada?!” nada dari JKR meninggi, Daphne hanya berterima kasih madam Pomfrey sudah pergi dan di sana hanya mereka berdua saja yang tersisa. “Daphne, kumohon jangan pernah menganggap dirimu tidak berharga di mata orang lain. Aku peduli padamu, semua orang peduli padamu.”
Daphne hanya terdiam, ia tahu kalau apa yang diucapkan oleh JKR tidak selamanya benar. ia tidak bisa menyalahkan JKR, gadis yang sudah menjadi temannya sejak tahun pertama itu memang selalu menganggap dunia penuh dengan cinta kasih dan sebagainya, ia belum pernah melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Terkadang Daphne iri pada keluguan JKR, tapi ia tidak ingin menjadi seperti temannya. Daphne tahu kalau tidak semua orang peduli padanya, kalau iya lalu di manakah orang tuanya? Mengapa mereka tidak menjengukanya di rumah sakit Hogwarts?
Gadis bermata silver kebiruan itu hanya menghela nafas panjang, membiarkan JKR memberikan ceramah yang lumayan panjang lebar, namun semuanya sama sekali tidak meresap ke dalam otaknya. Ada banyak hal yang masuk dalam waktu yang sama, membuat kepalanya semakin bertambah pusing saja. Daphne menyadari kalau ia tengah mengenakan piama warna putih milik rumah sakit, ia benci warna itu karena menurutnya warna putih terlalu bersih bagi dirinya, sama sekali tidak cocok dengan jiwanya yang telah ternoda jauh sebelumnya semenjak ia dilahirkan ke dunia ini.
Malam semakin larut saja, suara jam besar yang ada di rumah sakit itu berdetak setiap saat mengiringi irama malam yang sepi. Setelah madam Pomfrey menyuruh JKR kembali ke menara Gryffindor, Daphne hanya termenung di atas tempat tidurnya yang ada di rumah sakit. Ia sama sekali tidak bisa tidur, maklum juga untuk orang yang sudah tertidur selama dua hari dalam keadaam koma.
Gadis muda itu duduk dengan memeluk kedua lututnya dia atas tempat tidur, pandangannya kosong menerawang ke arah jendela besar yang berada tepat di depannya. Ia melihat daun-daun kering terbang berguguran di tiup oleh angin malam, bahkan beberapa kunang-kunang yang sedikit jarang muncul pun ikut meramaikan suasana malam.
Sebuah sensasi aneh muncul di sana, gadis itu menengok ke samping dan ia menemukan sebuah sosok yang tidak asing baginya. Daphne tersenyum kecil melihat sosok hantu jail nan usil yang sudah menghuni Hogwarts bertahun-tahun.
“Halo, Peeves.” Sapa Daphne singkat.
Sang hantu yang bernama Peeves itu mengangguk singkat dan memberikan senyuman lebar, seperti layaknya seorang hantu ia terbang mengelilingi ruangan itu dengan penuh riang gembira.
“Kudengar kau baru bangun dari tidur panjangmu, pasti banyak mimpi indah yang kau lihat sampai-sampai baru sekarang bangunnya.” Ujar Peeves. Ia menarik rambut Daphne yang tentu saja tidak dapat tersentu olehnya.
“Mimpi indah? Dari mana kau mendengarnya?” Tanya Daphne, ia melirik ke arah Peeves yang terlihat berusaha untuk menjangkau beberapa helai rambut panjangnya.
“Oh, ayolah… sebut saja itu intuisi seorang hantu.”
Daphne tertawa kecil mendengar perkataan Peeves, “Intuisi hantu? Apa aku tidak salah dengar.” Ujar Daphne.
Peeves menyerah akan usahanya ingin menarik rambut milik gadis muda itu, ia terbang melayang ke hadapan Daphne. Matanya yang besar menyemburatkan kilatan nakal di sana, Daphne tidak bisa memastikan karena bagaimanapun hantu ‘kan tembus pandang.
“Kau pasti tidak mengerti, aku ingin seorang hantu juga mempunyai intuisi layaknya kalian. Masa kalian tega melihat kami keleleran tidak berdaya seperti ini.” Ujar Peeves dengan penuh percaya diri, ia menghiraukan komentar Daphne ‘tidak berdaya? Yang benar saja!’ dan ia malah melanjutkan, “Dan karena melihat kenyataan yang menyakitkan itulah makanya aku dan Grey Lady membentuk laskar para hantu yang isinya adalah memperjuangkan hak para hantu khususnya yang ada di Hogwarts. Aku juga berhasil mengajak Bloody Baron yang penggerutu itu, hah… aku hebat ‘kan!”
Daphne memutar bola matanya mendengar celoteh panjang lebar dari sahabatnya yang juga seorang hantu ini, ide Peeves membentuk Laskar hantu Hogwarts benar-benar terlihat konyol.
“Bagaimana kau bisa mengajaknya bergabung pada laskarmu itu? Bukannya dia sangat membencimu.” Kata Daphne di sela-sela
“Ya, mungkin saja dia menyukaiku sampai-sampai dia mau bergabung dengan laskar Hantu Hogwarts. Hohoho, karismaku memang tidak ada tandingannya.” Kata Peeves sombong.
“Atau mungkin karena ada Helena.” Gumam Daphne lirih.
Peeves yang mendengarnya kontas segera menepisnya, “Oh tidak bisa, karisma seorang Peeves itu nomor satu dan tidak ada yang bisa menolaknya.”
“Ah, terserah apa katamulah, Peeves. Dasar hanatu aneh.”
“Bilang saja kau iri pada Peeves. Tenang, Daphne, aku tahu kalau sebenarnya dalam lubuk hati yang terdalam kau itu nge-fans sama diriku. Aku akan senang hati memberikan tanda tangan padamu.” Kata Peeves yang bergaya seperti artis saja.
Daphne yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang, susah juga bicara dengan seorang hantu apalagi hantu itu adalah Peeves yang selain terkenal sebagai hantu jahil juga terkenal dengan beberapa julukan. Narsis adalah salah satunya, oh… malam ini akan menjadi malam yang panjang dengan Daphne yang dengan sangat terpaksa harus mendengarkan ocehan Peeves mengenai kehebatan dirinya. Merlin, tolonglah dia dari siksa ini!!!
Author: Artemis Lumina Hammond
Rating: T untuk sekarang
Genre: Adventure, Drama, Friendship, Romance, dll.
Pairing: Masih rahasia dong ah!
Daphne tidak tahu sedang berada di mana ia sekarang, ia berada di sebuah tempat yang begitu asing dan sama sekali tidak ia kenal saat ia melihat ke sekeliling. Gadis muda berusia 16 tahun itu memandang ke sekelilingnya, mencoba menemukan sesuatu yang ia kenal meskipun itu hanya sedikit, tetapi harapannya pupus saat ia sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari. Daphne mencoba mengingat-ingat apa yang tengah terjadi beebrapa saat yang lalu sebelum ia terbangun di tengah hutan belatara yang asing ini.
“Ah… kereta api yang jatuh.” Bisik Daphne pelan pada dirinya sendiri.
Tapi kalau ia jatuh ke dalam jurang seperti apa yang ia ingat lalu ke mana lainnya? Mengapa ia sendirian berada di hutan itu? Lalu di mana ini? Beribu-ribu pertanyaan muncul di benaknya, namun tidak satupun dapat ia jawab, dalam artian kata Daphne masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Daphne merogoh saku jubahnya untuk mengambil tongkat sihirnya, namun benda yang sangat berharga dan dapat ia jadikan senjata untuk melindungi diripun juga tidak ia temukan di dalam sakunya. Padahal ia yakin kalau tadi ia menaruh benda itu di sana sebelum kereta terjatuh ke dalam jurang, tapi sekarang malah lenyap tak berbekas? Apa ikut jatuh? Kiranya itu sangat mustahil.
Sekarang Daphne mengerti bagaimana rasanya menjadi orang yang begitu tidak berdaya, ia tidak begitu mahir menguasai wandless-magic sementara satu-satunya penyalur sihirnya juga tidak ada di tempat, ia tahu kalau hari ini adalah hari sialnya tetapi Daphne sama sekali tidak menyangka kalau ia akan hilang ditempat ini begitu saja. Mungkin inilah rasanya menjadi seorang muggle, apapun yang terjadi gadis itu tidak akan bisa melindungi dirinya sendiri. Untuk beberapa saat ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar yang ada di sana, dipejamkannya kedua kelopak matanya untuk beberapa saat, hanya bayangan-bayangan yang ia usir dari benaknya sejak dulu kembali lagi menghantuinya. Merasa tindakannya tidak ada gunanya, Daphne berhenti melakukannya. Gadis itu memutuskan untuk mencari jalan keluar sendiri, itu lebih baik dilakukan daripada berdiam diri tidak menentu di sana. Jubah hitamnya melambai tertiup angin mengikuti langkahnya berjalan.
Daphne melangkahkan kakinya, pohon demi pohon yang ada di hutan itu ia lalui, selama itu pula pikirannya mengarah pada apa yang terjadi pada teman-temannya yang lain. Ia tidak ingin memikirkan kalau mereka tewas atau terluka parah karena kecalakaan tadi, siapapun orang misterius berjubah yang ia lihat tadi, Daphne yakin orang itu bertanggung jawab atas semua apa yang menimpa dirinya.
“Hallo, Ms. Greengrass, sebuah suatu kebetulan kita bertemu di tempat yang indah seperti ini.” Ujar sebuah suara yang tiba-tiba muncul di belakang Daphne.
Gadis itu secara reflex langsung berbalik ke belakang dan menemukan orang sama yang ia lihat tadi sebelum kecelakaan terjadi. Matanya terbelalak lebar saat orang itu melambaikan tangan kanannya, membuat tempat yang ia anggap adalah hutan berganti suasana menjadi berada di dalam kastil yang sangat familier, yang sangat ia kenal.
“Siapa?” Tanya Daphne sedikit canggung. Ia menggigit bibir bawahnya, tidak berani menebak-nebak.
Orang itu tertawa kecil, begitu sinis dengan suara yang bisa dikatakan mencoba menakut-nakutinya. Daphne merasakan tengkuknya merinding hebat ketika mendengarnya.
“Kau lupa padaku, Little one? Coba diingat-ingat lagi.” Ujar laki-laki itu dengan suara tenang serta dingin pada saat yang sama. Orang berjubah itu berjalan mendekatinya, kontan secara reflek Daphne ikut mundur ke belakang sampai ia tidak bisa mundur lagi karena dinding batu tepat menyentuh bahunya.
Suara itu… suara itu sangat ia kenal, begitu familier yang sering mengusik mimpinya. Kedua mata silver kebiruan milik Daphne terbelalak lebar saat ia menyadari siapa pemilik suara dingin itu, tubuhnya terasa dingin serta darahnya berdesir hebat.
“Tidak mungkin, kau seharusnya sudah tewas.” Desah Daphne pelan.
Laki-laki tadi mengangguk pelan, sebuah angin yang datang secara tidak sengaja berhembus ke arah mereka dan secara tidak sengaja menurunkan kerudung jubah yang menutupi sebagian besar wajah laki-laki itu, memperlihatkan sepasang mata indah berwarna emerald yang berkilat itu tengah menatap Daphne dengan bosan. Kulit alabaster dengan rambut hitam pekat yang dipotong pendek, bisa dikatakan laki-laki itu sangat tampan, benar… tampan dalam artian berbahaya, apalagi auranya yang mengatakan kalau ia bukanlah orang yang sembarangan.
“Sangat mengesankan bukan, aku bangkit lagi untuk kedua kalinya, nona kecil. Tidak ada yang bisa membayangkannya, Daphne.” Ujar laki-laki itu dengan suara lirih, ia memberikan seringai tipis pada gadis muda yang masih berdiri membeku di hadapannya itu.
Daphne baru tersadar dari keterkejutannya saat ia merasakan tangan laki-laki berambut hitam tersebut membelai rambutnya pelan sebelum jatuh ke arah lehernya, tepat di mana liontin Kristal yang terpasang di lehernya berada. Jari-jari itu membelai Kristal yang sangat bening dari liontin Daphne, gadis itu sama sekali tidak tahu sejak kapan ia memakainya.
Namun proses berpikirnya harus terpotong saat suara yang lirih namun berbahaya itu berbisik di telinganya, “Katakan padaku, nona kecil, di mana kau menyimpan benda itu?”
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud.” Elak Daphne pelan, ia benci akan situasinya seperti ini.
“Hmmm…. Benda itu, Daphne… benda yang kau curi dariku.” Ujar sang laki-laki yang kelihatannya malah terhibur. Ingin rasanya gadis itu menampar wajah tampan laki-laki itu dan menghapus seringai dari wajahnya.
Daphne menggeleng, pelan kali ini.
“Cukup keras kepala juga, young lady.”
Laki-laki itu melepaskan cengkeramannya pada bahu Daphne, ia berdiri tegap dan memberikan tatapan penuh hiburan di mata emeraldnya sebelum memberikan seringai khas pada wajahnya, kelihatannya ia begitu menikmati ini. Daphne melihat laki-laki misterius itu mengambil satu langkah ke belakang dan melambaikan tangan kanannya, membuat beberapa sosok berjubah hitam yang sebelumnya tidak ada di sana langsung muncul seketika. Sepertinnya mereka adalah pengikut dari laki-laki itu, Daphne merasakan dirinya merinding hebat karena aura sihir di sekitarnya bergejolak hebat dan begitu sinis, sangat sinis dan gelap.
“Kau begitu keras kepala, nona kecil. Mau bertaruh denganku sampai kapan kau tetap seperti ini?” di sini Daphne hanya memberikan glare pada laki-laki itu, tapi ia masih bungkam. “Yang kuinginkan hanya benda itu, tidak lebih dari apapun. Nah, saat ini aku akan melepaskanmu, anggap saja ini adalah permulaan dari permainan kita. Aku akan kembali lagi, nona kecil.”
“Apa maksudmu?” Tanya Daphne yang baru saja menemukan suaranya. “Aku sama sekali tidak mengerti.”
Laki-laki itu berjalan mendekat lagi, “Saat ini kau memang tidak mengerti, tapi saat ingatan itu terbuka maka kau akan mengerti semuanya.” Bisiknya pelan. “Pejamkan matamu, nona kecil dan kau akan terbangun pada hal yang berbeda.”
Pada saat itu juga Daphne merasakan kedua kelopak matanya terasa begitu berat, ia ingin tetap terjaga tetapi ia tidak bisa karena suara itu begitu dalam. Ia menemukan dirinya tidak sadar lagi.
*****************
Apa yang dilihatnya adalah sebuah ilusi belaka, ia melihat sebuah tempat yang sangat indah, tapi tempat apa itu? Ia mendengar suara-suara dari beberapa orang, dari apa yang ditangkapnya sepertinya mereka kedengaran begitu khawatir. Begitu kabur dan rasa sakit menjalari tubuhnya, secara perlahan-lahan ia merasakan tekanan sebuah tangan berada di atas bahu kanannya.
“Ah dia bangun.” Ujar sebuah suara yang sepertinya ia kenal. “Daphne… Daphne.”
Sepertinya ada yang memanggil namanya, ia tidak tahu siapa. Namun Daphne merasakan kekhawatiran serta ketakutan dari suara yang bergetar itu, orang yang memanggilnya pasti sangat khawatir padanya. Daphne ingin sekali menjawab, tapi ia menemukan suaranya terkunci serta ingin sekali ia menjangkau tangan yang membelainya secara perlahan, tapi lagi-lagi ia menemukan tubuhnya tidak mengikuti kemauan otaknya.
“Nona Rowlings, biarkan Nona Greengrass beristirahat dulu.” Ujar suara seorang wanita yang tidak jauh dari sana.
“Tapi, Madam Pomfrey, aku tadi lihat Daphne mulai menggerakkan jarinya.” Kata suara yang sama lagi. Yang tidak lain adalah milik JKR, sahabatnya sendiri.
Sebuah derak langkah kaki mendekati mereka, Daphne yang masih berada di alam bawah sadar dapat merasakannya. Ia merasa sihir menyelimuti tubuhnya, kelihatannya Madam Pomfrey menggunakan sihir penyembuh untuk membuat kesadaran Daphne yang hilang untuk kembali.
Untuk beberapa saat tidak terjadi apa-apa, JKR memandang sosok sahabatnya dengan penuh kekhawatiran. Sudah lebih dari dua hari semenjak kecelakaan itu Daphne tidak sadarkan diri, padahal mereka yang mengalami luka yang lebih parah dari Daphne sudah bisa beraktivitas layaknya orang normal, tapi Daphne sama sekali tidak sadarkan diri. Hal ini tentu saja membuat sahabat-sahabatnya menjadi cemas, apakah ini ada hubungannya dengan peristiwa musim panas yang lalu? Ataukah ini ada hubungannya dengan kemunculan hal-hal aneh yang berada di sekitar mereka akhir-akhir ini? Beribu-ribu pertanyaan berputar-putar di benaknya, tapi lagi-lagi JKR sama sekali tidak menemukan jawabannya.
“Jk.” Panggil sebuah suara lirih, gadis itu menemukan sahabatnya yang telah dua hari tidak sadarkan diri itu tengah menatapnya dengan tatapan bingung, penuh keraguan di sana.
Dan Daphne yang tiba-tiba membuka kelopak matanya langsung menemukan sahabatnya seperti orang yang tidak tidur berhati-hari, begitu pucat dan berantakan. Tanpa mengatakan apa-apa Daphne langsung menemukan dirinya dipeluk oleh JKR dengan sangat erat.
“Daphne Rosaline Belvina Greengrass, kau benar-benar membuat orang khawatir saja?! Aku pikir aku sudah kehilanganmu, bagaimana mungkin kau melakukan ini semua padaku!!” ujar JKR yang diiringi dengan isak tangis.
“Ssst… aku ada di sini, kau tidak perlu khawatir seperti ini.” Kata Daphne yang mencoba untuk menenangkan JKR.
JKR melepaskan pelukannya pada Daphne dan memberikan glare ganas pada temannya tersebut.
“Jangan pernah mengucapkan kalau aku tidak boleh khawatir padamu, Greengrass. Kau itu adalah temanku dan aku berhak khawatir padamu, kau selalu saja begini… apa kau pikir setiap orang itu tidak akan khawatir atau sedih bila kau tidak ada?!” nada dari JKR meninggi, Daphne hanya berterima kasih madam Pomfrey sudah pergi dan di sana hanya mereka berdua saja yang tersisa. “Daphne, kumohon jangan pernah menganggap dirimu tidak berharga di mata orang lain. Aku peduli padamu, semua orang peduli padamu.”
Daphne hanya terdiam, ia tahu kalau apa yang diucapkan oleh JKR tidak selamanya benar. ia tidak bisa menyalahkan JKR, gadis yang sudah menjadi temannya sejak tahun pertama itu memang selalu menganggap dunia penuh dengan cinta kasih dan sebagainya, ia belum pernah melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Terkadang Daphne iri pada keluguan JKR, tapi ia tidak ingin menjadi seperti temannya. Daphne tahu kalau tidak semua orang peduli padanya, kalau iya lalu di manakah orang tuanya? Mengapa mereka tidak menjengukanya di rumah sakit Hogwarts?
Gadis bermata silver kebiruan itu hanya menghela nafas panjang, membiarkan JKR memberikan ceramah yang lumayan panjang lebar, namun semuanya sama sekali tidak meresap ke dalam otaknya. Ada banyak hal yang masuk dalam waktu yang sama, membuat kepalanya semakin bertambah pusing saja. Daphne menyadari kalau ia tengah mengenakan piama warna putih milik rumah sakit, ia benci warna itu karena menurutnya warna putih terlalu bersih bagi dirinya, sama sekali tidak cocok dengan jiwanya yang telah ternoda jauh sebelumnya semenjak ia dilahirkan ke dunia ini.
Malam semakin larut saja, suara jam besar yang ada di rumah sakit itu berdetak setiap saat mengiringi irama malam yang sepi. Setelah madam Pomfrey menyuruh JKR kembali ke menara Gryffindor, Daphne hanya termenung di atas tempat tidurnya yang ada di rumah sakit. Ia sama sekali tidak bisa tidur, maklum juga untuk orang yang sudah tertidur selama dua hari dalam keadaam koma.
Gadis muda itu duduk dengan memeluk kedua lututnya dia atas tempat tidur, pandangannya kosong menerawang ke arah jendela besar yang berada tepat di depannya. Ia melihat daun-daun kering terbang berguguran di tiup oleh angin malam, bahkan beberapa kunang-kunang yang sedikit jarang muncul pun ikut meramaikan suasana malam.
Sebuah sensasi aneh muncul di sana, gadis itu menengok ke samping dan ia menemukan sebuah sosok yang tidak asing baginya. Daphne tersenyum kecil melihat sosok hantu jail nan usil yang sudah menghuni Hogwarts bertahun-tahun.
“Halo, Peeves.” Sapa Daphne singkat.
Sang hantu yang bernama Peeves itu mengangguk singkat dan memberikan senyuman lebar, seperti layaknya seorang hantu ia terbang mengelilingi ruangan itu dengan penuh riang gembira.
“Kudengar kau baru bangun dari tidur panjangmu, pasti banyak mimpi indah yang kau lihat sampai-sampai baru sekarang bangunnya.” Ujar Peeves. Ia menarik rambut Daphne yang tentu saja tidak dapat tersentu olehnya.
“Mimpi indah? Dari mana kau mendengarnya?” Tanya Daphne, ia melirik ke arah Peeves yang terlihat berusaha untuk menjangkau beberapa helai rambut panjangnya.
“Oh, ayolah… sebut saja itu intuisi seorang hantu.”
Daphne tertawa kecil mendengar perkataan Peeves, “Intuisi hantu? Apa aku tidak salah dengar.” Ujar Daphne.
Peeves menyerah akan usahanya ingin menarik rambut milik gadis muda itu, ia terbang melayang ke hadapan Daphne. Matanya yang besar menyemburatkan kilatan nakal di sana, Daphne tidak bisa memastikan karena bagaimanapun hantu ‘kan tembus pandang.
“Kau pasti tidak mengerti, aku ingin seorang hantu juga mempunyai intuisi layaknya kalian. Masa kalian tega melihat kami keleleran tidak berdaya seperti ini.” Ujar Peeves dengan penuh percaya diri, ia menghiraukan komentar Daphne ‘tidak berdaya? Yang benar saja!’ dan ia malah melanjutkan, “Dan karena melihat kenyataan yang menyakitkan itulah makanya aku dan Grey Lady membentuk laskar para hantu yang isinya adalah memperjuangkan hak para hantu khususnya yang ada di Hogwarts. Aku juga berhasil mengajak Bloody Baron yang penggerutu itu, hah… aku hebat ‘kan!”
Daphne memutar bola matanya mendengar celoteh panjang lebar dari sahabatnya yang juga seorang hantu ini, ide Peeves membentuk Laskar hantu Hogwarts benar-benar terlihat konyol.
“Bagaimana kau bisa mengajaknya bergabung pada laskarmu itu? Bukannya dia sangat membencimu.” Kata Daphne di sela-sela
“Ya, mungkin saja dia menyukaiku sampai-sampai dia mau bergabung dengan laskar Hantu Hogwarts. Hohoho, karismaku memang tidak ada tandingannya.” Kata Peeves sombong.
“Atau mungkin karena ada Helena.” Gumam Daphne lirih.
Peeves yang mendengarnya kontas segera menepisnya, “Oh tidak bisa, karisma seorang Peeves itu nomor satu dan tidak ada yang bisa menolaknya.”
“Ah, terserah apa katamulah, Peeves. Dasar hanatu aneh.”
“Bilang saja kau iri pada Peeves. Tenang, Daphne, aku tahu kalau sebenarnya dalam lubuk hati yang terdalam kau itu nge-fans sama diriku. Aku akan senang hati memberikan tanda tangan padamu.” Kata Peeves yang bergaya seperti artis saja.
Daphne yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang, susah juga bicara dengan seorang hantu apalagi hantu itu adalah Peeves yang selain terkenal sebagai hantu jahil juga terkenal dengan beberapa julukan. Narsis adalah salah satunya, oh… malam ini akan menjadi malam yang panjang dengan Daphne yang dengan sangat terpaksa harus mendengarkan ocehan Peeves mengenai kehebatan dirinya. Merlin, tolonglah dia dari siksa ini!!!
Author: Artemis Lumina Hammond
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.