Disclaimer: beberapa plotnya aku pinjam dari novel Harry Potter, tapi jalan cerita utamanya itu original milikku sendiri
Rating: T untuk sekarang
Genre: Adventure, Drama, Friendship, Romance, dll.
Pairing: Masih rahasia dong ah!
Rumor mengenai dirinya yang telah terbangun dari masa komanya benar-benar tersebar begitu cepat, dalam waktu yang singkat saja Daphne menemukan hampir semua anak yang ada di Hogwarts tidak ada yang tidak tahu dengan apa yang terjadi padanya saat kecelakaan itu. Selama seharian setelah keluar dari rumah sakit, Daphne bisa merasakan berpuluh-puluh mata menatapnya ke manapun ia berjalan. Dan saat ia menoleh ke belakang, pasti mereka langsung mengalihkan pandangan mereka, berpura-pura tidak tahu atau masa bodoh. Selama seharian itu pula ia mencoba untuk menghiraukan tatapan yang mencoba untuk melubangi belakang kepalanya itu.
Gadis manis itu berjalan sesantai mungkin untuk menuju kelas selanjutnya, kelas pertahanan terhadap ilmu hitam. Daphne membuka pintu kelas itu, kontan mengetahui siapa yang membukanya beberapa murid yang sudah mengambil tempat duduk di sana langsung menoleh ke arahnya. Daphne memberikan glare yang mengatakan ‘apa-lihat-lihat-sudah-bosan-hidup-ya’ kepada mereka, seketika itu mereka langsung menatap ke depan.
Daphne melihat ke sekeliling untuk mencari salah satu tempat yang kosong, hanya tinggal satu dan itu di dekat Padma Patil, murid yang ia kenal saat di kereta api tiga hari yang lalu. Daphne berjalan ke arah Padma duduk, tanpa mengatakan apa-apa ia mengambil tempat duduk di samping Padma dan meletakkan tasnya di bawah. Padma yang menyadari kehadiran Daphne langsung menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan bosan seperti biasanya pada gadis itu.
“Bosan dengan tatapan yang menjengkelkan itu?” Tanya Padma dengan senyum malas di bibirnya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” gentian Daphne yang bertanya, ia menyandarkan bahunya pada sandaran kursi yang ia duduki.
Padma mengangkat bahunya. “Dengan aura hitam yang ada di sekelilingmu aku bisa mengambil kesimpulan seperti itu, by the way bagaimana kabar sang tuan putri tidur hari ini?”
Daphne menoleh ke arah Padma, ia menemukan gadis berambut hitam yang duduk di sampingnya tersebut memberinya sebuah seringai tipis padanya. Kelihatannya Padma memang ingin bermain-main dengan Daphne hari ini, moodnya sedikit terangkan karena aura teasing yang ada di sini, hmm… apa yang akan ia lakukan.
Gadis berambut pirang keemasan itu memberinya seringai sebagai balasan dan berkata, “Sang tuan putri kabarnya baik-baik saja, dia akan mengutukmu bila sekali lagi dia tahu kalau kau mencemoohnya dengan panggilan tuan putri.” Jawab Daphne.
“Apakah aku harus takut dengan ancaman itu?!”
“Kalau kau masih sayang akan reputasimu, sudah seharusnya begitu.”
“Oh… blackmail lagi…..” perkataan Padma terpotong saat pintu kelas terbuka, yang memperlihatkan Remus Lupin yang juga professor mereka datang untuk mengajar.
*****************
Di sebuah tempat yang jaraknya sangat jauh dari Hogwarts, di sebuah manor yang sangat indah terlihat seorang pemuda tengah menatap ke arah pemandangan hamparan hutan yang ada di hadapannya dari atas balkon jendela tempatnya berdiri, pemuda itu menikmati belaian angin pagi yang menyisir rambutnya helai demi helai tanpa memikirkan rasa peduli terhadap apapun. Ia melepas 2 kancing bagian atas pada kemeja putih yang ia kenakan, memperlihatkan lehernya yang putih kepada dunia untuk melihatnya.
Pagi yang tenang itu buyar ketika sang pemuda mendengar dua bunyi plop dari belakangnya, tanpa berbalik ia sudah tahu siapa yang muncul di sana.
“Berita apa yang kalian bawa hari ini?” Tanya pemuda itu.
Dua orang berjubah hitam yang muncul tadi melepaskan kerudung jubah mereka, salah satu di antara mereka berjalan menghampiri pemuda itu.
“Kami berhasil menemukan medali Evon untuk anda, milord!” ujar laki-laki yang menghampiri pemuda itu.
“Apakah tempat yang kutunjukkan pada kalian adalah tempat yang tepat, Nagin?” Tanya pemuda itu dengan tenang.
Orang yang bernama Nagin tersebut melirik ke arah partnernya yang mencoba untuk tidak mendekat pada Lord muda itu, mereka berdua tahu kalau orang yang mereka sebuah sebagai Lord adalah penyihir yang sangat kuat, bahkan rumor mengatakan kalau Voldemort yang dulu pernah berduel dengannya mengalami kekalahan telak dalam waktu yang singkat sebelum ia tewas dengan cara mengenaskan. Lord muda ini memiliki aura yang sangat berbahaya, dari luar ia memang tidak kelihatan berbahaya namun seperti perkataan orang kalau penampilan itu bisa menipun siapa saja karena dibalik penampilannya yang tenang dan kalem, sebenarnya tersimpan sebuah kegelapan yang tidak dapat dibayangkan oleh siapapun.
Nagin membuyarkan lamunannya saat Lord muda tersebut mengulangi pertanyaannya lagi, ia tidak ingin sang Lord murka kepadanya atau ia dan Basil tidak akan keluar dengan selamat dari manor itu.
“Iya, Milord. Tempat yang tertera dalam peta itu memang tempat yang tepat di mana kami menemukan medali itu, hanya saja kedelapan pecahan jiwa yang anda maksudkan sama sekali tidak bisa kami temukan.” Jawab Basil, ia sedikit gugup karena itu.
Mereka berdua menelan ludah saat mereka melihat mata emerald dari sang Lord berkilat penuh amarah sementara wajahnya tidak menampakkan emosi apapun. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Nagin, member isyarat padanya untuk memberikan medali Evon yang telah berhasil mereka ambil dari sana.
Dengan perlahan Nagin yang membawa medali tersebut segera menyerahkannya pada pemuda itu. Mata emerald milik sang Lord muda tersebut mengamati medali yang ada di genggamannya dengan seksama, medali itu memiliki ukiran huruf petir serta sebuah tempat bagi inti sebuah Kristal yang hilang di sana. Kalau ia amati, lekukan tempat Kristal tersebut sangat mirip dengan bentuk Kristal dari liontin yang dipakai oleh gadis itu.
“Rupanya begitu, jadi secara tak sengaja Greengrass telah membebaskan kedelapan jiwa benda yang kita cari selama ini dari dalam buku itu. Tidak heran kalau kita sama sekali tidak mempunyai petunjuk, kelihatannya dugaanku memang tepat.”
“Kalau boleh kami tahu, apa yang Milord maksud?” Tanya Basil dengan nada penuh rasa ingin tahu di sana.
Mata emerald milik pemuda itu beranjak dari benda yang digenggamnya kepada salah satu pengikutnya tersebut, ia memberikan senyuman tipis yang tidak sampai pada kedua matanya, begitu dingin dan menjanjikan sesuatu yang sangat menyakitkan. Baik Basil maupun Nagin merasakan bulu kuduk mereka berdiri ketika melihat senyuman sadis tersebut.
“Itu artinya perburuan yang sebenarnya akan dimulai.”
*********************
“Dan ini artinya adalah penyiksaan yang seharusnya ilegal untuk dilakukan!!!” dengus Daphne sedikit kesal, ia menyilakan rambut pirangnya yang mulai menutupi matanya.
“Hush.... hentikan rengekanmu yang seperti anak kecil, Daph.” Ujar Draco Malfoy yang berdiri di sebelahnya itu.
Daphne memberinya glare, namun tentu saja tatapan yang ganas itu tidak digubris sedikitpun oleh sang pangeran. Saat ini mereka berdua dan beberapa murid tahun ketujuh tengah berada di lapangan terbuka yang berada di sebelah pondok kecil milik Hagrid, benar sekali..... saat ini mereka tengah mengikuti pelajaran pemeliharaan terhadap satwa gaib yang diajarkan oleh Hagrid. Dan seperti para slytherin lainnya yang tidak menyukai pelajaran membosankan seperti ini, Daphne pun juga berpikiran sama dan dalam benaknya ia ingin sekali pergi dari sana dengan satu kilatan.
Tapi untuk beberapa saat lamanya gadis berambut pirang itu sama sekali tidak beruntung, melihat tangan kanannya terborgol oleh sihir yang Draco ucapkan tadi, memang limiter yang memborgol tangan gadis itu tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi ikatannya begitu kuat sampai-sampai gadis itu bisa melihat bekas warna merah yang muncul di pergelangan tangan kanannya.
Beberapa murid Slytherin yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua itu hanya bisa tertawa geli dan terlihat seperti orang sembelit karena menahan tawa.
“Kau tahu, Dray.... kalau aku bisa lolos dari ini semua maka kau adalah orang pertama yang akan aku buru!” desis Daphne dengan nada mengancam.
Sebuah seringai muncul di wajah tampan Draco, “Dan aku akan menunggu hal itu, Quennie. Nah, kalau semuanya menderita mengikuti pelajaran ini maka kau harus ikut menderita juga.” Ujar Draco dengan santainya, membuat Daphne semakin menambah intensitas tatapan ganasnya pada pemuda itu.
“I hate you so much, Malfoy!” kata Daphne dengan nada rendah.
“Oh... and I love you too.” Jawab Draco sebelum menghiraukan gadis berambut pirang yang terlihat begitu ganas tersebut.
Beberapa murid Ravenclaw yang melihat interaksi di antara mereka hanya bisa berbisik-bisik tidak menentu, salah satu murid Ravenclaw tahun terakhir yang berdiri di dekata Padma itu hanya mengangkat alis kirinya. Rambut merahnya yang terlihat begitu indah itu tertiup angin lembut yang berasal dari hutan terlarang, sementara sepasang mata biru yang ia miliki menatap kedua Slytherin yang berdiri sedikit menjauh di belakang dengan penuh rasa ketertarikan.
“Apa yang membuatmu tersenyum seperti orang gila, Rose?” tanya Padma dengan sedikit canggung.
Rose, nama gadis berambut merah tersebut, menoleh ke arah temannya yang berambut hitam tersebut. Ia tidak menjawabnya, hanya memberinya senyuman manis di wajah cantiknya itu. Senyuman yang mirip akan senyuman seorang malaikat itu tentunya mampu membius semua anak laki-laki yang ada di sana, Padma yang melihatnya itu hanya memutar kedua bola matanya, ia tahu benar apa yang ada di dalam pikiran seorang Rose Weasley tetapi Padma memilih untuk tutup mulut saja.
“Bukankah pemandangan itu sangat menarik?” Ujar Rose.
Padma melihat ke arah jari Rose tertuju, ke arah Daphne dan Draco lebih tepatnya. Kedua orang Slytherin itu sedari tadi hanya sibuk berargumen satu sama lain, sama sekali tidak mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Hagrid. Sebenarnya penjelasan dari professor mereka itu tidak begitu menarik juga, terbukti akan banyaknya murid-murid yang memilih untuk mengobrol dengan temannya dari pada mendengarkan penjelasan dari Hagrid mengenai Pegassus, seekor kuda bersayap yang sering menjadi ikon dari hewan mitologi Yunani.
“Kurasa pelajaran kita kali ini jadi sedikit lebih menarik.”
Author: Artemis Lumina Hammond
Rating: T untuk sekarang
Genre: Adventure, Drama, Friendship, Romance, dll.
Pairing: Masih rahasia dong ah!
Rumor mengenai dirinya yang telah terbangun dari masa komanya benar-benar tersebar begitu cepat, dalam waktu yang singkat saja Daphne menemukan hampir semua anak yang ada di Hogwarts tidak ada yang tidak tahu dengan apa yang terjadi padanya saat kecelakaan itu. Selama seharian setelah keluar dari rumah sakit, Daphne bisa merasakan berpuluh-puluh mata menatapnya ke manapun ia berjalan. Dan saat ia menoleh ke belakang, pasti mereka langsung mengalihkan pandangan mereka, berpura-pura tidak tahu atau masa bodoh. Selama seharian itu pula ia mencoba untuk menghiraukan tatapan yang mencoba untuk melubangi belakang kepalanya itu.
Gadis manis itu berjalan sesantai mungkin untuk menuju kelas selanjutnya, kelas pertahanan terhadap ilmu hitam. Daphne membuka pintu kelas itu, kontan mengetahui siapa yang membukanya beberapa murid yang sudah mengambil tempat duduk di sana langsung menoleh ke arahnya. Daphne memberikan glare yang mengatakan ‘apa-lihat-lihat-sudah-bosan-hidup-ya’ kepada mereka, seketika itu mereka langsung menatap ke depan.
Daphne melihat ke sekeliling untuk mencari salah satu tempat yang kosong, hanya tinggal satu dan itu di dekat Padma Patil, murid yang ia kenal saat di kereta api tiga hari yang lalu. Daphne berjalan ke arah Padma duduk, tanpa mengatakan apa-apa ia mengambil tempat duduk di samping Padma dan meletakkan tasnya di bawah. Padma yang menyadari kehadiran Daphne langsung menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan bosan seperti biasanya pada gadis itu.
“Bosan dengan tatapan yang menjengkelkan itu?” Tanya Padma dengan senyum malas di bibirnya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” gentian Daphne yang bertanya, ia menyandarkan bahunya pada sandaran kursi yang ia duduki.
Padma mengangkat bahunya. “Dengan aura hitam yang ada di sekelilingmu aku bisa mengambil kesimpulan seperti itu, by the way bagaimana kabar sang tuan putri tidur hari ini?”
Daphne menoleh ke arah Padma, ia menemukan gadis berambut hitam yang duduk di sampingnya tersebut memberinya sebuah seringai tipis padanya. Kelihatannya Padma memang ingin bermain-main dengan Daphne hari ini, moodnya sedikit terangkan karena aura teasing yang ada di sini, hmm… apa yang akan ia lakukan.
Gadis berambut pirang keemasan itu memberinya seringai sebagai balasan dan berkata, “Sang tuan putri kabarnya baik-baik saja, dia akan mengutukmu bila sekali lagi dia tahu kalau kau mencemoohnya dengan panggilan tuan putri.” Jawab Daphne.
“Apakah aku harus takut dengan ancaman itu?!”
“Kalau kau masih sayang akan reputasimu, sudah seharusnya begitu.”
“Oh… blackmail lagi…..” perkataan Padma terpotong saat pintu kelas terbuka, yang memperlihatkan Remus Lupin yang juga professor mereka datang untuk mengajar.
*****************
Di sebuah tempat yang jaraknya sangat jauh dari Hogwarts, di sebuah manor yang sangat indah terlihat seorang pemuda tengah menatap ke arah pemandangan hamparan hutan yang ada di hadapannya dari atas balkon jendela tempatnya berdiri, pemuda itu menikmati belaian angin pagi yang menyisir rambutnya helai demi helai tanpa memikirkan rasa peduli terhadap apapun. Ia melepas 2 kancing bagian atas pada kemeja putih yang ia kenakan, memperlihatkan lehernya yang putih kepada dunia untuk melihatnya.
Pagi yang tenang itu buyar ketika sang pemuda mendengar dua bunyi plop dari belakangnya, tanpa berbalik ia sudah tahu siapa yang muncul di sana.
“Berita apa yang kalian bawa hari ini?” Tanya pemuda itu.
Dua orang berjubah hitam yang muncul tadi melepaskan kerudung jubah mereka, salah satu di antara mereka berjalan menghampiri pemuda itu.
“Kami berhasil menemukan medali Evon untuk anda, milord!” ujar laki-laki yang menghampiri pemuda itu.
“Apakah tempat yang kutunjukkan pada kalian adalah tempat yang tepat, Nagin?” Tanya pemuda itu dengan tenang.
Orang yang bernama Nagin tersebut melirik ke arah partnernya yang mencoba untuk tidak mendekat pada Lord muda itu, mereka berdua tahu kalau orang yang mereka sebuah sebagai Lord adalah penyihir yang sangat kuat, bahkan rumor mengatakan kalau Voldemort yang dulu pernah berduel dengannya mengalami kekalahan telak dalam waktu yang singkat sebelum ia tewas dengan cara mengenaskan. Lord muda ini memiliki aura yang sangat berbahaya, dari luar ia memang tidak kelihatan berbahaya namun seperti perkataan orang kalau penampilan itu bisa menipun siapa saja karena dibalik penampilannya yang tenang dan kalem, sebenarnya tersimpan sebuah kegelapan yang tidak dapat dibayangkan oleh siapapun.
Nagin membuyarkan lamunannya saat Lord muda tersebut mengulangi pertanyaannya lagi, ia tidak ingin sang Lord murka kepadanya atau ia dan Basil tidak akan keluar dengan selamat dari manor itu.
“Iya, Milord. Tempat yang tertera dalam peta itu memang tempat yang tepat di mana kami menemukan medali itu, hanya saja kedelapan pecahan jiwa yang anda maksudkan sama sekali tidak bisa kami temukan.” Jawab Basil, ia sedikit gugup karena itu.
Mereka berdua menelan ludah saat mereka melihat mata emerald dari sang Lord berkilat penuh amarah sementara wajahnya tidak menampakkan emosi apapun. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Nagin, member isyarat padanya untuk memberikan medali Evon yang telah berhasil mereka ambil dari sana.
Dengan perlahan Nagin yang membawa medali tersebut segera menyerahkannya pada pemuda itu. Mata emerald milik sang Lord muda tersebut mengamati medali yang ada di genggamannya dengan seksama, medali itu memiliki ukiran huruf petir serta sebuah tempat bagi inti sebuah Kristal yang hilang di sana. Kalau ia amati, lekukan tempat Kristal tersebut sangat mirip dengan bentuk Kristal dari liontin yang dipakai oleh gadis itu.
“Rupanya begitu, jadi secara tak sengaja Greengrass telah membebaskan kedelapan jiwa benda yang kita cari selama ini dari dalam buku itu. Tidak heran kalau kita sama sekali tidak mempunyai petunjuk, kelihatannya dugaanku memang tepat.”
“Kalau boleh kami tahu, apa yang Milord maksud?” Tanya Basil dengan nada penuh rasa ingin tahu di sana.
Mata emerald milik pemuda itu beranjak dari benda yang digenggamnya kepada salah satu pengikutnya tersebut, ia memberikan senyuman tipis yang tidak sampai pada kedua matanya, begitu dingin dan menjanjikan sesuatu yang sangat menyakitkan. Baik Basil maupun Nagin merasakan bulu kuduk mereka berdiri ketika melihat senyuman sadis tersebut.
“Itu artinya perburuan yang sebenarnya akan dimulai.”
*********************
“Dan ini artinya adalah penyiksaan yang seharusnya ilegal untuk dilakukan!!!” dengus Daphne sedikit kesal, ia menyilakan rambut pirangnya yang mulai menutupi matanya.
“Hush.... hentikan rengekanmu yang seperti anak kecil, Daph.” Ujar Draco Malfoy yang berdiri di sebelahnya itu.
Daphne memberinya glare, namun tentu saja tatapan yang ganas itu tidak digubris sedikitpun oleh sang pangeran. Saat ini mereka berdua dan beberapa murid tahun ketujuh tengah berada di lapangan terbuka yang berada di sebelah pondok kecil milik Hagrid, benar sekali..... saat ini mereka tengah mengikuti pelajaran pemeliharaan terhadap satwa gaib yang diajarkan oleh Hagrid. Dan seperti para slytherin lainnya yang tidak menyukai pelajaran membosankan seperti ini, Daphne pun juga berpikiran sama dan dalam benaknya ia ingin sekali pergi dari sana dengan satu kilatan.
Tapi untuk beberapa saat lamanya gadis berambut pirang itu sama sekali tidak beruntung, melihat tangan kanannya terborgol oleh sihir yang Draco ucapkan tadi, memang limiter yang memborgol tangan gadis itu tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi ikatannya begitu kuat sampai-sampai gadis itu bisa melihat bekas warna merah yang muncul di pergelangan tangan kanannya.
Beberapa murid Slytherin yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua itu hanya bisa tertawa geli dan terlihat seperti orang sembelit karena menahan tawa.
“Kau tahu, Dray.... kalau aku bisa lolos dari ini semua maka kau adalah orang pertama yang akan aku buru!” desis Daphne dengan nada mengancam.
Sebuah seringai muncul di wajah tampan Draco, “Dan aku akan menunggu hal itu, Quennie. Nah, kalau semuanya menderita mengikuti pelajaran ini maka kau harus ikut menderita juga.” Ujar Draco dengan santainya, membuat Daphne semakin menambah intensitas tatapan ganasnya pada pemuda itu.
“I hate you so much, Malfoy!” kata Daphne dengan nada rendah.
“Oh... and I love you too.” Jawab Draco sebelum menghiraukan gadis berambut pirang yang terlihat begitu ganas tersebut.
Beberapa murid Ravenclaw yang melihat interaksi di antara mereka hanya bisa berbisik-bisik tidak menentu, salah satu murid Ravenclaw tahun terakhir yang berdiri di dekata Padma itu hanya mengangkat alis kirinya. Rambut merahnya yang terlihat begitu indah itu tertiup angin lembut yang berasal dari hutan terlarang, sementara sepasang mata biru yang ia miliki menatap kedua Slytherin yang berdiri sedikit menjauh di belakang dengan penuh rasa ketertarikan.
“Apa yang membuatmu tersenyum seperti orang gila, Rose?” tanya Padma dengan sedikit canggung.
Rose, nama gadis berambut merah tersebut, menoleh ke arah temannya yang berambut hitam tersebut. Ia tidak menjawabnya, hanya memberinya senyuman manis di wajah cantiknya itu. Senyuman yang mirip akan senyuman seorang malaikat itu tentunya mampu membius semua anak laki-laki yang ada di sana, Padma yang melihatnya itu hanya memutar kedua bola matanya, ia tahu benar apa yang ada di dalam pikiran seorang Rose Weasley tetapi Padma memilih untuk tutup mulut saja.
“Bukankah pemandangan itu sangat menarik?” Ujar Rose.
Padma melihat ke arah jari Rose tertuju, ke arah Daphne dan Draco lebih tepatnya. Kedua orang Slytherin itu sedari tadi hanya sibuk berargumen satu sama lain, sama sekali tidak mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Hagrid. Sebenarnya penjelasan dari professor mereka itu tidak begitu menarik juga, terbukti akan banyaknya murid-murid yang memilih untuk mengobrol dengan temannya dari pada mendengarkan penjelasan dari Hagrid mengenai Pegassus, seekor kuda bersayap yang sering menjadi ikon dari hewan mitologi Yunani.
“Kurasa pelajaran kita kali ini jadi sedikit lebih menarik.”
Author: Artemis Lumina Hammond
0 komentar:
Posting Komentar
Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.