English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translete Menu
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

-Total Readers-

Don't Be a Silent Readers, Put Your Comment Here :)

Senin, 28 November 2011

_The Book of Lost Thing_ chapter 1

Stasiun King Cross adalah stasiun yang cukup ramai di kota London, banyak kereta yang menggunakan tempat ini sebagai pemberhentian sementara sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke jalur selanjutnya. Tidak hanya itu saja, tempat ini juga begitu ramai karena stasiun King Cross adalah tempat yang menghubungkan dunia sihir dengan dunia muggle. Para penyihir dari berbagai tempat yang ada di London menggunakan gerbang yang ada di stasiun tersebut sebagai jalan masuk dan keluar menuju dunia sihir, tentunya merupakan tempat kedua setelah Diagon Alley tentunya.

Stasiun King Cross pada tanggal 1 September terlihat begitu ramai, stasiun yang menghubungkan dua dunia yang berbeda terlihat lebih ramai dari pada hari-hari biasanya, apalagi di peron ¾ yang menjadi portal penghubung antara dunia muggle dengan dunia sihir banyak dikunjungi oleh orang. Mereka adalah penyihir yang mengantarkan putra-putri mereka untuk berangkat ke Hogwarts menggunakan Hogwarts ekspress, sebuah kereta api uap dengan model kuno dan berwarna merah.

Pemandangan yang menarik itu sama sekali tidak luput dari penglihatan gadis remaja itu, ia hanya berdiri bersandar pada pilar yang ada di sana dan melihat para orang tua mencoba memberikan pengarahan kepada anak-anak mereka tentang ini dan itu, ia sudah bosan mendengarnya. Kebanyakan para murid tahun pertama yang ia lihat mempunyai wajah sedikit takut atau ngeri malah, apalagi setelah mendengar ceramah yang panjang lebar dari para orang tua, wajah mereka terlihat sedikit pucat. Gadis itu tersenyum kecil, hampir-hampir tidak tampak, ia tahu apa yang mereka bicarakan. Pasti mengenai masalah asrama dan mereka menginginkan anak-anak mereka harus berada di asrama yang sama dengan orangtua-nya.

Daphne hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak peduli dengan apa yang mereka dengar atau katakan, ia sudah cukup muak dengan semuanya. Gadis berambut hitam itu membesarkan volume MP3 yang terhubung dengan Headphone yang ia kenakan, suara Miley Cyrus dari Cann’t be tamed mengalun lembut di telinganya, mampu meredam hiruk pikuk yang ada di sekitarnya. Ah… teknologi muggle yang sangat berguna, meskipun ia adalah penyihir yang berdarah murni bukan berarti ia buta dengan teknologi canggih yang diciptakan oleh para muggle. Satu hal yang ia sukai bersekolah di Hogwarts adalah Dumbledore memasang sebuah sihir khusus yang membuat murid-muridnya dapat menggunakan teknologi canggih dari dunia luar bekerja di sana, meskipun masih banyak yang tradisional tentunya. Mungkin ia harus berterima kasih kepada temannya yang telah mengusulkan ide ajaib itu.

“Daphne.” Panggil seseorang dari belakang.

Gadis itu melepas headphone-nya dan menoleh ke belakang, ia menemukan seorang gadis yang terlihat sedikit muda darinya berdiri dengan tampang sangar di sana. Daphne sangat mengenal siapa dia, gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah adiknya sendiri, Astoria Grenggrass atau Torry sebutannya.

“Aku tidak mengerti mengapa kau meninggalkanku sendirian di King Cross, aku sudah mengatakan kalau kau harus menungguku dulu karena aku harus ke toilet sebentar dan jangan menyeberang ke peron ¾ tanpa aku. Ibu pasti akan marah bila ia tahu kau menelantarkan aku, aku ini adikmu tahu!!!” kata Astoria, nadanya marah.

Daphne melihat adiknya berkacak pinggang, ia hanya mengangkat bahunya sebagai respon dari penyataan panjang lebar dari Astoria, tentu saja hal itu membuat Astoria marah.

“Jangan mengangkat bahu sebagai tanda tidak peduli. Demi Merlin, Daph… tunjukkan rasa kepedulianmu sedikit saja padaku?!!”

“Jadi, kau menganggapku tidak peduli padamu?” Tanya Daphne dengan suara kalem seperti biasanya. “Benarkah seperti itu?”

Wajah Astoria memerah, ia kesal kalau Daphne memainkan kata-katanya seperti itu. Terkadang ia tidak mengerti bagaimana ia bisa mempunyai kakak sedingin orang yang tengah berdiri di hadapannya itu.

“Bukan itu maksudku.”

“Begitu. Lantas apa maksudmu mengatakannya tadi?” Tanya Daphne, tatapannya mengisyaratkan kalau ia tengah bosan. Gadis itu melirii ke belakang, ia menemukan orang yang tengah ia cari sedari tadi tengah memperhatikan interaksinya dengan Torry, kelihatannya orang yang ia maksud itu tampak terhibur.

“Daphne, aku tahu kalau kau tahu apa maksudku. Jangan bermain-main denganku, aku tidak mau ribut denganmu di tempat ini!! Aku bilang pada ayah kalau ini adalah ide yng buruk kau harus pindah ke Hogwarts, kau tetap tidak bisa menyesuaikan keadaan meskipun sudah dua tahun pindah ke sini.”

“Aku tidak pernah beramin-main denganmu, Torry.”

Astoria tampak frustasi dengan semua jawaban yang kakaknya berikan itu, ia memberikan glare yang sangat keras dan jika saja sebuah tatapan bisa membunuh maka gadis yang berdiri dengan santai di hadapannya itu sudah tewas terkapar sejak lama.

“You’re too arrogant for your own good!!!” setelah mengatakan itu Astoria berjalan meninggalkan Daphne di sana sendirian.

Daphne melihat kepergian adiknya dengan menghela nafas yang berat, ia yakin kalau ada yang salah dengan hubungan mereka. Harus ia akui kalau sebenarnya ia memang mempermainkan adiknya, itu adalah hal yang sangat buruk tapi demi Merlin…. Ia akan bohong kalau ia mengatakan apa yang ia lakukan tadi tidak menyenangkan, malah mungkin adalah sebaliknya.

Suara tepuk tangan dari belakang menarik perhatiannya, dari sudut matanya ia melihat si pemilik tepuk tangan tersebut menghampirinya dan ikut-ikutan bersandar di sampingnya. Orang itu tertawa pelan, menganggap situasi yang barusan sangat menarik.

“Aku senang ada seseorang yang terhibur di sini.” Ujar Daphne, ia menyimpan Mp3 player-nya ke dalam tas punggung kecilnya.

“Tentu, saja. Kau lihat bagaimana wajahnya tadi, begitu merah karena marah. Aku tidak tahu kalau aktingmu sebagai kakak yang menyebalkan itu terkesan begitu nyata, sampai-sampai aku hampir percaya kalau kau adalah orang yang seperti Astoria katakan.” Ujar orang itu, “Kau tahu, Daph. Mengapa kau tidak ambil peran di salah satu bukuku itu menjadi misteri yang dipertanyakan.”

“Harry Potter, J.K?” Tanya Daphne kepada temannya yang bernama J.K Rowling itu, Daphne juga masih tidak mengerti mengapa temannya itu meminta anak-anak yang lain untuk memanggilnya J.K ketimbang dengan namanya yang asli.

J.K Rowling adalah penulis buku yang sangat terkenal di dunia muggle, Harry Potter, namun jati diri penulis yang satu ini masih menjadi misteri karena ia begitu tertutup dan para wartawan yang ada di dunia muggle selalu tidak berhasil meliputnya. Namun yang paling membuat Daphne terkesan adalah J.K sangat lihai seperti tupai, tanpa sepengetahuan para muggle yang mengenal sosoknya sebagai penulis buku terkenal, J.K adalah seorang gadis remaja seusia dengan Daphne dan juga murid dari sekolah Hogwarts yang sama dengannya. Terkadang Daphne iri juga dengan temannya ini, ia masih muda tapi sudah sukses menghasilkan best seller meskipun itu ada di dunia muggle sekalipun.

“Tentu, memang ada yang lain lagi?” Tanya J.K sambil memutar kedua bola matanya karena tingkah Daphne yang sok polos.

Daphne tersenyum kecil sebelum senyum itu berubah menjadi seringai kecil, “Kalau aku ikut bermain menjadi salah satu tokohmu, aku tidak ingin menjadi tokoh figuran saja. Terlebih lagi, kau pasti tidak rela kalau aku berdekatan dengan Dan Radcliffe, pemeran Harry Potter itu.” Jawab Daphne.

“Kau benar sekali, aku tidak akan rela.”

“Terlebih lagi, ayah dan ibu akan membunuhku seketika bila mereka tahu aku jadi artis di dunia muggle.” Ujar Daphne, “Tidak, kurasa membunuh adalah istilah yang terlalu mudah. Mereka akan menyiksaku terlebih dahulu sebelum membunuhku dan melakukannya berkali-kali.”

J.K melihat temannya itu dengan senyuman sedih di bibirnya, “Itu, sadis sekali. Aku tidak menyangka saja kalau masih ada penyihir yang memandang dunia ini dengan sebelah mata, hanya hitam dan putih.”

“Masih banyak tipe orang yang seperti itu. Aku tidak mau membahasnya lagi.”

J.K ingin mengatakan sesuatu pada Daphne mengenai itu, tapi ia tidak jadi melakukannya karena seorang remaja laki-laki berambut hitam dengan mengenakan jubah kecoklatan melambaikan tangan kepada mereka berdua dengan penuh antusias.

“Hei, kalian berdua!!! Cepat naik ke dalam kereta, nanti ketinggalan lho!!!” teriak cowok itu.

J.K dan Daphne saling berpandangan sebelum keduanya tertawa karena tingkah lucu yang diperlihatkan oleh anak laki-laki itu. Merasa ditertawakan, anak laki-laki yang bernama lengkap Anthonio Goldstein tapi lebih akrab dipanggil dengan Goldstein itu merengut dan memberikan glare kepada mereka berdua.

“Hei, jangan menertawakan aku seperti itu!!!!” teriak Goldstein, orang-orang yang menemukan teriakan itu begitu menyebalkan langsung memberikan pandangan antipasti padanya.

“Yeah, itulah Goldstein, pencair suasana yang terlalu serius seperti ini.” Kata J.K

“Setuju sekali.” Jawab Daphne. Keduanya beranjak dari depan pilar dan menuju ke arah Goldstein yang telah menunggu dengan tidak sabaran itu, “Ia banyak belajar dari kakek Nick, sih!!”

“Aku tidak mengerti bagaimana kau mempunyai ide menyebarkan virus buat manggil Nicholas dengan sebutan ‘kakek’ itu.”

“Bagaimana aku bisa tahu, habis dia sok tua sih… makanya aku panggil dia kakek, tapi ya…. Akhirnya semua orang yang ada di Hogwarts memanggil kakek Nick dengan sebutan kakek. Toh dia sama sekali tidak keberatan.” Elak Daphne

“Nick memang lebih tua darimu. Tapi asyik juga, sebutan ‘kakek’ memang sangat cocok untuknya, apalagi di bukuku dia itu aku buat jadi karakter yang berusia lebih dari 600 tahun.”

“Biarin saja.”

Goldstein yang berdiri dengan tampang tidak mengerti di sana hanya bisa bengong melihat kedua anak perempuan itu berinteraksi dengan satu sama lain, terkadang ia begitu takjub bisa menemukan dua orang dari asrama Slytherin dan Gryffindor bisa menjadi teman seperti mereka berdua ini. Karena asyiknya melamun, Goldstein tidak sadar kalau kedua gadis yang dimaksud saling bertukar pandangan sebelum keduanya menyeringai kecil. Baik Daphne dan J.K berjalan menghampiri Goldstein di sebelah kiri dan kanannya, dengan hati-hati mereka berdua memegang kedua lengan anak itu dan dengan tiba-tiba pula keduanya menarik Goldtein ke dalam kereta.

Dengan tarikan yang begitu tiba-tiba itu pula membuat Goldstein tersadar dari lamunannya, ia mencoba meronta-ronta karena ditarik paksa masuk ke dalam kereta.

“AKHH… LEPASKAN AKU…… AKU TIDAK RELA DITARIK-TARIK SEPERTI INI!!!!” Teriak Goldtein,

Bukannya melepaskan tangan anak itu, mereka berdua malah tertawa terpingkal-pingkal dan tentunya sambil menyeret Goldstein yang masih meronta-ronta dengan muka melas seperti itu.

“Salah sendiri melamun di siang bolong, kesambet baru tahu rasa?!” kata J.K dengan senyum lebar di wajahnya.

“Tanganku nanti putus tahu!!! Lepaksan… lepaskan….” Ronta Goldstein.

“Ayolah, Goldstein. Nanti kami mintakan Skelegrow ke Madam Pomfrey kalau tanganmu putus, masa lupa kalau kita penyihir.” Sahut Daphne.

Mereka berdua menghiraukan ratapan yang diberikan oleh Goldstein, di sepanjang perjalanan nasib si malang Goldstein akan lebih parah kelihatannya. Beberapa murid lainnya yang mendengar teriakan dari anak laki-laki itu hanya bisa bengong atau berbisik-bisik karena tingkah aneh dari tiga murid yang aneh pula.

*********

“Goldstein yang malang, dosa apa yang telah diperbuat anak itu?!” ujar Nicholas, ia menyampirkan jubahnya di atas bahu kanannya. Ia menoleh pada temannya yang masih bengong sendirian itu.

“Yang jelas mereka membuat tingkah yang aneh-aneh lagi.” Jawab King dengan nada tidak peduli. “Kau tidak ingin menyusul mereka?”

“Kelihatannya menarik untuk diikuti. Aku ingin melihat keadaan ‘cucu-cucu’ku dulu. Hei, King, kau ingin ikut?” tawar Nicholas, “Mumpung kereta masih jauh dengan Hogwarts, nih.”

King hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku masih sayang dengan kewarasanku, kau pergi sendiri saja!” jawab King sebelum kembali ke dalam kompartemennya.

Nicholas mencibir sebelum tersenyum lebar, ia melirik ke arah Albus Severus yang kelihatan tengah asyik berkutat dengan PSP miliknya itu.

“Kau mau ikut aku tidak?” tawar Nicholas.

Albus tidak memberikan komentar, sepenuhnya menghiraukan perkataan dari Nicholas.

“Huh, kalian berdua sungguh membosankan. Masa diajak gila-gilaan tidak mau. Ya, sudah… aku pergi sendiri saja!!” kata Nicholas, ia cemberut karena.

Beberapa menit kemudian di saat Hogwarts Express tengah melakukan perjalanan menuju Hogwarts, mereka mendengar teriakan yang berasal dari sebuah kompartemen.

“AKHH… AKU BENCI KALIAN BERDUA!!!!!!!!!” teriakan yang sudah jelas milik Goldstein.

Di samping itu juga terdengar suara tawa khas milik sang kakek yang memahana serta suara ledakan yang sangat familier.



**************

Perjalanan menuju Hogwarts yang menggunakan transportasi berupa kereta api tua itu berlangsung selama dua jam, sebuah waktu yang tidak singkat namun juga tidak lama dalam opini Daphne. Remaja perempuan itu menghiraukan beberapa temannya yang asyik bercanda sendiri dengan menatap ke arah luar jendela, ia melihat pepohonan yang berada di hutan yang dilewati oleh Hogwarts Express terlihat begitu teduh, mengingatkannya pada sebuah ingatan yang Daphne yakini tidak pernah ada dalam benaknya.

Gadis itu mengalihkan pandangannya, ia menemukan Goldstein tengah beradu mulut dengan Kakek (sebutan Daphne bagi Nicholas terus melekat padanya), J.K yang tengah asyik membaca sebuah majalah yang Daphne yakini adalah Witch Weekly Magazine, dan Peeves yang tengah tertidur pulas. Daphne tersenyum kecil mlihat pemandangan itu, senyumannya sangat kecil sebelum meredup dan menatap keempat temannya dengan serius.

Goldstein yang mengelak dari tudingan kakek tanpa sengaja menatap ekspresi temannya, wajahnya sedikit khawatir karena tatapan yang kosong itu terlintas dengan jelas di wajah Daphne.

“Daph, apa kau baik-baik saja?” Tanya Goldtein, suaranya membuat Kakek dan J.K melihat ke arah Daphne.

J.K yang duduk di depan gadis itu segera mendekat, ia mengguncang-guncangkan bahu Daphne karena ia berpikir temannya itu tengah melamun, namun setelah beberapa saat setelah diguncangkan, J.K sama sekali tidak mendapat reaksi apapun dari Daphne.

“Daph?!” panggil Kakek,

“Daphne, ayo sadar!!! Kau mulai membuatku takut.” Kata J.K lirih.

Daphne melirik ke arah J.K dengan pandangan kosong itu, sebuah senyum sayu yang menunjukkan seolah-olah ia melihat sesuatu yang tidak mereka lihat muncul di wajahnya.

“Tahun ini, tepat pada bulan purnama merah. Apa yang hilang sejak beribu-ribu tahun yang lalu akan kembali lagi, menebar terror dan memilih beberapa sang terpilih untuk dijadikan sebagai korban. Hogwarts adalah arenanya dan akan ditentukan sesuai putaran takdir yang tidak terduga apa itu.” Ujar Daphne, suaranya begitu semu dan ketiga anak (Peeves tengah tertidur) yang mendengarnya merasakan putaran sihir di sekitar mereka begitu menusuk kulit, sangat dingin dan panas pada saat yang sama.

Setelah mengatakan itu kedua kelopak mata Daphne terpejam dan ia jatuh pingsan, untung saja J.K dapat menangkapnya sebelum gadis itu membentur jendela kompartemen. Ia menyandarkan Daphne pada bahunya sebelum J.K beralih melihat pada kedua anak laki-laki yang ada di sana.

“Itu tadi maksudnya apa?” Tanya Goldstein, suaranya sedikit bergetar dan wajahnya pun juga tidak kalah pucatnya.

“Aku juga tidak mengerti. Perkataan yang keluar dari mulut Daphne sama sekali tidak mirip dengan apa yang Daphne ucapkan sehari-hari, rasanya….” Ucapan Kakek terpotong oleh J.K

“Begitu tua.” Ujar satu-satunya anak perempuan yang masih tersadar.

Kakek menganggukkan kepalanya, “Aku merasa itu begitu ancient, dan sama sekali bukan milik Daphne. Apa kalian lihat tadi bagaimana tatapannya? Mirip sekali dengan seseorang yang menerawang.”

Goldstein yang duduk di samping kakek merenggangkan dasinya yang berwarna kebiruan perunggu yang tengah ia kenakan itu dengan perlahan itu ikut mengangguk.

Author: Artemis Lumina Hammond

0 komentar:

Posting Komentar

Cara mudah berkomentar:
1. Isi kolom komentar
2. Pilih berkomentar sebagai anonymous
3. Publikasikan
:)
put u'r comment here.